“Dan diantara manusia
ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Secara konteks asal, ayat diatas menjelaskan tentang
sikap kaum musyrik yang membuat andad
(tuhan tandingan Allah) lalu mencintai benda-benda tersebut layaknya cinta
manusia kepada Penciptanya. Mereka menyembahnya, rela berkorban demi
benda-benda itu dan memprioritaskannya diatas yang lain. Walaupun mereka
beralasan, benda-benda itu hanyalah sarana mendekatkan diri kepada Allah, tapi
faktanya benda-benda itu dijadikan tuhan karena Allah mekera lupakan. Adapun
secara makna, ayat diatas bermakan luas. Bukan hanya berlaku bagi para
penyembah berhala saja, tapi bagi semua yang membuat tandingan lalu
memperlakukannya seperti para penyembah berhala memperlakukan tuhan-tuhannya.
Sosok andad yang dahulu berwujud berhala, dapat malih rupa dalam wujud yang
beragam tapi karakteristiknya tetaplah sama; dicintai, diagungkan dan dituhankan.
Bentuknya bisa berupa harta, tahta, manusia bahkan berupa kesenangan atau
hobi-hobi dan lain sebagainya.
Adakalanya, kita dan manusia secara umum secara tak
sadar telah membuat tandingan-tandingan ini. Ada yang menuhankan pekerjaan atau
perdagangannya. Memposisikan pekerjaan dan perdagangan di atas segalanya,
termasuk Allah dan syariat-Nya. Demi pekerjaan dan perdagangan, ia rela
berkorban apa saja termasuk mengorbankan ketaatan Allah. Ia lebih
memprioritaskannya di atas segala kepentingan, termasuk pentingnya ibadah
kepada Allah.
Yang lain, ada yang andad-nya adalah manusia. Yakni
manusia yang dicintai dengan kecintaan yang besar hingga mengalahkan cinta
kepada Sang maha Pencipta. Demi kekasihnya, ia abaikan semua yang dilarang
Rabbnya. Adapun yang andad-nya pemimpin dan undang-undang selain Allah.
Pemimpin dan undang-undang tersebut ditaati dan mengesampingkan syariat Allah.
Yang lain memilih kedudukan atau kesenangan duniawi sebagai andadnya. Allah mengingatkan nasib
orang-orang yang menjadikan tandingan itu dalam firman-Nya :
Demi Allah, sungguh
kita dahulu dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian dengan
Rabb semesta alam.” (QS.
Asy-Syu’ara: 97-98)
Subhanallah, padahal sebesar apapun balasan cinta
yang diberikan makhluk jelas tak akan sebanding dengan balasan cinta dari sang
khaliq. Lebih dari itu, kadangkala cinta yang diberikan kepada makhluk bertepuk
sebelah tangan atau kalaupun kalau ada balasan, balasannya hanyalah balasan
semu (pufft). Adapun cinta Allah adalah cinta yang hakiki, cinta yang sejati.
Demikian besar dan nyata bagi siapapun yang mau mengambilnya. Jauh, amatlah
jauh dari apa yang bisa diberikan tandingan-tandingan itu kepada para
penyembahnya. Dan inilah gambaran cinta dan kasih saying Allah.
Tidak ada satu hari pun yang berlalu melainkan laut
meminta izin kepada Rabbnya untuk menenggelamkan Bani Adam. Para malaikat juga
meminta izin kepada-Nya untuk segera menangani dan mematikan mereka. Sementara
Allah berfirman, “Biarkanlah hamba-Ku. Aku lebih tahu tentang dirinya ketika
Aku menciptakannya dari tanah. Andaikan ia hamba kalian maka urusannya terserah
kalian. Karena ia hamba-Ku, maka ia berasal dari-Ku dan urusan terserah
kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, jika hamba-Ku dating pada malam
hari, maka Aku menerimanya. Jika ia dating kepada-Ku siang hari, maka Aku
menerimanya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya
sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya
sedepa. Jika ia berjalan kepada-Ku, maka Aku berlari kecil kepadanya. Jika
memohon ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya. Jika ia meminta maaf
kepada-Ku, maka aku memaafkannya. Jika ia bertaubat kepada-Ku, maka Aku akan
menerima taubatnya. Siapakah yang lebih murah hati dan mulia dari-Ku, padahal
Akulah yang paling murah hati dan mulia? Pada malam hari hamba-hambaKu
menampakkan dosa-dosa besar kepada-Ku, padahal akulah yang melindungi mereka di
tempat tidurnya dan Akulah yang menjaga mereka dikasurnya. Siapa yang menghadap
kepada-Ku, maka Aku menyambutnya dari jauh. Siapa yang beramal karena Aku, maka
Aku memberinya lebih dari tambahan. Siapa yang berbuat dengan daya dan
kekuatan-Ku, maka Aku melunakkan besi baginya. Seperti yang menginginkan
seperti yang Kuinginkan, maka Aku pun menginginkan seperti apa yang ia
inginkan. Orang-orang yang berdzikir kepada-Ku adalah mereka yang ada dalam
majelis-Ku. Orang-orang yang bersyukur kepada-Ku adalah mereka yang
menginginkan tambahan dari-Ku. Orang-orang yang taat kepada-Ku adalah mereka
yang mendapat kemuliaan-Ku. Orang-orang yang durhaka kepada-Ku tidak kubuat
putus ada terhadap rahmat-Ku. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah
kekasih mereka. Dan jika mereka tidak mau bertaubat kepada-Ku, maka Aku adalah
tabib mereka. Aku akan menguji mereka dengan musibah-musibah agar Aku
mensucikan mereka dari noda-noda.” (sumber; dari buku Madarijus Salikin Ibnu Al
Qayyim Al Jauziyah. Halaman: 94-95 Pustaka Kautsar, 2006)
Sungguh luar biasa, tapi kebanyakan manusia memang
sudah terpedaya. Mereka memilih apa yang menurut mereka indah padahal tak
memberikan apa-apa. Gambaran para penyembah andad
sangatlah berbeda dengan orang-orang mukmin. Orang yang beriman sangat
mencintai Allah. Mereka rela mengorbankan segalanya demi Allah, mengutamakan
Allah diatas segala hal dan segala sesuatu dipertimbangkan atas dasar ridha
tidaknya Allah atas hal tersebut. Syariat pun menjadi satu-satunya tolak ukur
kebenaran dan pilihan dalam hidupnya. Dan sebagai balasannya, Allah akan
memberikan balasan cinta yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan.
Oleh karenanya, jangan sampai salah memilih kekasih.
Pilihlah Allah, karena balasan cinta-Nya sangatlah luar biasa. Mari hilangkan
semua tandingan yang ada dalam hati dan tancapkan jauh cinta kepada ilahi.
Semoga Allah merahmati kita dan membalas cinta kita dengan balasan yang
dimiliki-Nya. “karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS.
Al-Baqarah: 22)
Wallahua’lam (Abu Raif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar