Abu Hurairah ,
menyebutkan, “sesungguhnya Fir’aun mengikat istrinya pada empat pasak. Dikedua
tangannya dan kedua kakinya. Apabila mereka pergi meninggalkannya, malaikat
menaunginya dari sengatan teriknya matahari.” Di detik-detik akhir ketika
beliau di eksekusi atas perintah suaminya sendiri, Asiyah berdoa dengan doa
yang diabadikan dalam Al-Qur’an :
“Ya
Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surge dan
selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum
yang zalim.” (Qs. At-Tahrim : 11)
Doa itu bersamaan
dengan Fir’aun di tempat penyiksaan itu. Maka dia (Asiyah) tertawa ketika
melihat rumahnya di surga. Fir’aun berkomentar, “apakah kalian tidak merasa
heran dengan kegeliannya. Kita menyiksanya, namun dia tertawa. “ setelah itu
keluarlah ruhnya dari jasadnya. Begitulah Asiyah, wanita mukminah yang berani
mengambil pilihan mulia sekaligus berani menghadapi resiko keimanan. Mungkin
tampak tragis bagi orang yang tak beriman, atau bagi para penggemar sinetron di
mana happy ending cerita dilihat dari kemenangan duniawi. Hakikatnya, kematian
beliau begitu indah, tersungging senyum tatkala diperlihatkan untuknya rumah di
jannah. Pemandangan yang membuatnya makin tahu betapa remeh temeh isi istana
suaminya di dunia yang fana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar