Tidak
ada manusia yang sempurna, termasuk siapa yang kini menjadi pasangan kita, itu
kita fahami. Dari sana, sudah pasti ada hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kekecewaan. Apalagi jika kita bertemu dengan orang-orang perfeksionis yang
cenderung tidak mentolelir adanya kekurangan. Kita membutuhkan kedewasaan sikap
dan toleransi yang cukup agar merasa nyaman saat menjalin hubungan. Sehingga
kita bisa percaya diri di satu sisi dengan sisi lain menyadari kekurangan yang
ada.tapi bagaimana jika yang kita temui adalah sikap selalu menyudutkan kita
karena berbagai kekurangan yang kita miliki tanpa melihat kelebihan yang kita
punya. Dan sedihnya, dia adalah pasangan kita sendiri? Sakit rasanya…!!
Salah
satu pondasi utama pernikahan bahagia adalah penerimaan yang utuh akan pasangan
kita. Sebab dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ada, kita tetaplah
manusia biasa yang bisa menjalin hubungan saling menguntungkan asalkan merasa
nyaman dan percaya diri. Menemukan pasangan yang tepat dimana kita bisa
berkonsentrasi atas kelebihan yang kita miliki tanpa rasa terintimidasi sebab
kekurangan kita selalu ditunjuk-tunjukkan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Pun demikian sikap kita kepada pasangan. Jangan sampai sikap kitalah yang
menyebabkan rasa nyaman itu pergi karena pasangan merasa minder. Kita menuntut
kesempurnaan darinya. Kita sebutkan berbagai kekurangannya dengan cara yang
keras dan kasar tanpa melihat banyaknya kelebihan yang dia miliki. Tanpa juga
melihat bahwa pada diri kita terdapat banyak kekurangan yang sebenarnya juga
berpeluang mengecewakan pasangan.
Rasulullah
bersabda, “Janganlah seorang mukmin
membenci seorang mukminah, jika dia tidak menyukai satu akhlak dari dirinya,
insyaAllah ada sisi lain yang Dia ridhai.” (HR. Muslim)
Hadits
syarif ini mengajarkan kepada kita tentang kedewasaan sikap untuk mencari sisi
positif dari pasangan. Jangan sampai satu akhlak yang menjadi kekurangannya
menyiksa batin kita.sedang dia memiliki banyak akhlak lain yang positif dan
bisa menumbuhkan sikap rihda. Ia meminta kita untuk bersikap adil dalam menilai
kelebihan dan kekurangan seseorang agar membuahkan kebaikan. Karena istri dalam
bersikap dan kelakuan tentu saja tidak bisa sempurna 100 persen sebagaimana
keinginan suami. Meski jujur, sebagai suami juga tidak bisa 100 persen sempurna
seperti keinginan istri.
Maka
sebagai suami harus bisa bermu’asyarah secara ma’ruf kepada para istri kita
sebagaimana Allah perintahkan hal itu dalam surat an Nisaa’ ayat 19 “Hai orang-orang yang
beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan
janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari
apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan
pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian
bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak
menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Menurut Ibnu Katsir, hal ini bermakna perintah
kepada para suami untuk memperbaiki ucapan, tindakan, dan penampilan sesuai
kemampuan yang ada. Karena sebagaimana para suami menyukai hal itu dari
istri-istri mereka, maka hendaklah mereka melakukan hal serupa. Eloknya,
perintah untuk bermu’asyarah secara ma’ruf ini wajib meski para suami (sedang)
tidak menyukai istri-istri mereka.
Di sisi lain, Rasulullah mengabarkan kepada kita
bahwa istri-istri kita diciptakan Allah dari tulang rusuk yang bengkok,
emosional dan mudah mengeluh. Yang untuk menikmati hubungan dengan mereka
sangatlah memungkinkan asalkan kita bisa memilih sikap yang tepat. Sedang upaya
pelurusannya hanya akan membuat kita kecewa karena hal itu mustahil terjadi,
sebab meluruskan berarti memecahkannya. Maka wajib bagi para suami untuk
bersikap lunak dalam mempergauli istri mereka, penuh kasih sayang dalam upaya
perbaikan dan pelurusan mereka, dan jangan bersikap kasar dalam ini agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan termasuk perceraian. Sedang Ibnu Hajar
mengatakan bahwa strategi menghadapi wanita adalah bersikap sabar dan berani
meminta maaf jika kita bersalah. Intinya, dalam kebengkokkan wanita, kita tetap
bisa bersenang-senang tanpa mengubah tabiatnya.
Di sinilah kedewasaan sikap dan kesabaran suami
benar-benar diuji. Berlapang dada dan berpandangan jauh ke depan harus kita
lakukan agar kesalahan yang manusiawi tidak kita besar-besarkan. Agar juga kita
tidak merasa sangat menderita hanya karena kecewa dengan istri. Dengan kebaikan
yang telah istri berikan untuk keluarga sedemikian banyak.
Untuk itu, kita senantiasa menambah ilmu syar’i dan
menajamkan tauhid agar bisa berhusnuzhan kepada Allah dalam keadaan paling
sulit sedikitpun. Agar kita bisa berlapang dada seluas samudera karena ia
parallel dengan kualitas iman. Sedang ia sangan diperlukan dalam proses ‘mendidik
istri’ di sepanjang kepemimpinan sebagai suami mereka. Agar kita tidak picik
dan bisa melihat prioritas hidup lebih jernih. insyaAllah.
Yang terakhir, kita harus memahami konsep
keseimbangan hak dan kewajiban secara baik. Jangan berlaku curang karena hanya
menuntut hak dengan mengabaikan kewajiban. Selain sebuah bentuk kedzaliman, hal
inilah yang sebenarnya menjadi akar persoalan ketidaknyamanan dalam kehidupan
berkeluarga.sedang keadilan hak dan kewajiban ini, bisa menjadi cermin bagi
kita untuk menilai secara terbalik. Kalau suami kecewa dengan para istri itu,
bukankah istri juga bisa kecewa dengan suami mereka?..
Kalau kita mengabaikan fakta ini, bukankah kita
sebenarnya hanyalah manusia yang egois?.. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar