Senin, 20 Januari 2014

Saat Hujan Justru Menghancurkan

Orang jawa bilang, Desember itu gede-gedenya sumber. Akhirnya pada bulan Desember, sumber atau mata air sedang besar-besarnya karena Desember adalah musim penghujan. Pada musim penghujan, hujan turun hamper setiap hari. Aliran sungai pun sering meluap dan sumur-sumur penuh terisi. Di satu sisi, kita bersyukur saat musim penghujan dating karena kemarau tak berkepanjangan. Tak terbayang betapa susahnya menjalani hidup jika musim kemarau berkepanjangan. Namun di sisi lain, kita juga sering ketar-ketir sangat musim hujan tengah lebat-lebatnya. Banjir, tanah longsor, dan badai kerap menjadi ancaman yang mengerikan. Bahkan bisa jadi jauh lebih mengerikan daripada kemarau panjang.

Apalagi jika mengingat bahwa zaman ini adalah zaman yang mendekati akhir. Ada banyak bencana alam sebagai tanda akhir zaman yang kerap muncul. Salah satunya adalah banjir bandang yang menghancurkan dan hujan tahunan tapi tak menumbuhkan tanaman. Rasulullah bersabda :

“Hari kiamat tidak akan terjadi sampai datangnya hujan deras yang menghancurkan rumah-rumah dari tanah liat (semen) dan tidak ada bangunan yang mampu bertahan kecuali rumah yang terbuat dari bulu.” (HR. Ahmad).


Rasulullah juga bersabda, “kiamat tidak akan terjadi sampai manusia di hujani hujan setahun namun bumi tak menumbuhkan apapun.” (HR. Ahmad)

Air, api, tanah, dan udara merupakan unsure alam yang kekuatannya sangat sulit dibendung. Jika sudah banjir, apalagi disertai badai, rasa-rasanya tak tersisa lagi tempat bersembunyi. Bangunan yang kokoh bisa roboh karena pondasinya tergerus arus. Pohon tumbang dan tanaman rusak, jembatana dan jalanan ambrol, listrik padam dan kehidupan serasa terhenti. Banjir seperti sapu jagad yang meluluh lantakan bumi. Jangankan hujan setahun, hujan deras seharian penuh saja dapat menyebabkan banjir yang bisa menenggelamkan satu kota dengan setinggi lutut. Bahkan gerimis beruntun selama dua hari pun sudah cukup membuat orang menjadi khawatir.

Ada yang mengartikan, hujan yang tidak menumbuhkan tanaman adalah hujan asam. Hujan asam adalah hujan dengan kadar Ph rendah, dari kadar normal sebesar 6 menjadi 5 atau 4. Jika hujan dengan kadar keasaman normal berfungsi melarutkan mineral dalam tanah, hujan asam justru akan merusak tanaman bahkan tanah. Penyebab hujan asam adalah aktifitas industri, kendaraan bermotor, dan pembangkit listrik. Gas-gas yang dihasilkan terbawa angin menuju atmosfer lalu menjadi hujan asam. Akibat terbesar dari adanya hujan asam adalah menipisnya bahan pangan (paceklik).

Dalam riwayat lain disebutkan, “musim paceklik bukanlah musim saat mana hujan tidak pernah turun, akan tetapi musim paceklik adalah musim ketika hujan turun tapi tidak menumbuhkan tanaman.” (HR. Ahmad)

Tapi beginilah kondisi akhir zaman. Tidak ada yang bisa disalahkan selain manusia sendiri. Terjadinya berbagai macam musibah, khususnya banjir disebabkan oleh manusia itu sendiri. Sebuah akibat dari kesalahan yang menumpuk dari hari ke hari. Kesalahan dari segi kauni maupun syar’i. secara kauni, kesewenangan dan kedzaliman manusia terhadap alam menjadi pangkalanya. Ketika mengubah lahan serapan air menjadi bangunan, mereka hanya berorientasi uang tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan pun menjadi penyakit yang entah kapan bisa dibasmi. Saat musim hujan dating, banjir pun rutin terjadi. Adapun secara syar’I, musibah yang dating seringnya adalah hukuman akibat dosa yang kian banyak dilakukan. Dosa individu maupun kolektif. Dan seperti kita tahu, adakalanya Allah menimpakan hukuman yang merata, dirasakan oleh yang maksiat maupun yang taat.
Allah berfirman yang artinya, “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-anfal: 25)

Tujuan dari firman Allah swt diatas tentu saja bukan sekedar menakut-nakuti dan membuat khawatir. Sabda mengenai berbagai peristiwa di akhir zaman merupakan peringatan bagi mukmin agar waspada. Kalaupun terpaksa harus ikut merasakan, minimal tidak ikut andil menjadi penyebabnya. Tidak menjadi oknum yang menebangi hutan sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan dan bukan pelaku kemaksiatan besar yang menyebabkan turunnya hukuman. Jangan sampai kita mengeluh atas musibah yang menimpa, padahal secara tak sadar kita juga menjadi salah satu oknum penyebabnya.

Nasalullaha al ‘afiyah, semoga Allah melindungi kita dari semua bencana. Dan jika kita diuji dengan musibah dan bencana, semoga kita dapat bersabar dan apa yang hilang diganti oleh Allah. Rasulullah mengajarkan, ketika tertimpa musibah hendaknya memohon pahala dan kesabaran serta ganti yang baik dalam doa : “Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik.”

Wallahua’lam. (T. Anwar)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar