Bagi sebagian orang , awal tahun baru ditandai
dengan perayaan yang meriah, meniup terompet, menyalakan petasan dan berpesta
sampai pagi. Bagi yang lain itu adalah
waktu untuk merenung dan mengintrospeksi diri. Alih-alih merayakan, mereka
khawatir dan takut. Alih-alih berpesta, mereka berpikir dan merenung. Karena
setiap tahun yang lewat berarti berkurang jatah hidup mereka. Setiap tahun yang
lewat membawa mereka lebih dekat dengan kematian.
Mereka sadar bahwa setiap tahun, bulan, dan hari
yang lewat membawa mereka lebih dekat pada peristiwa yang tak terelakkan ketika
mereka bertemu di akhirat. Membawa mereka lebih dekat dengan pertemuan mereka
dengan Rabb mereka. Ketika mereka haru berdiri di depan-Nya dan menjawab tentang
semua yang mereka lakukan. Mereka sadar bahwa waktu telah berlalu tidak akan
pernah kembali. Mereka tahu bahwa mereka tidak mempergunakan sebagian besar
waktu mereka dalam ketaatan kepada Allah, mereka pasti merugi.
Itu karena Nabi berkata, “Pada hari kiamat, kaki anak Adam tidak akan bergerak sampai ia ditanya
tentang empat hal: bagaimana ia menghabiskan hidupnya, bagaimana ia
menghabiskan masa mudanya, dari mana ia memperoleh kekayaan dan bagaimana ia
menghabiskan, dan apa yang ia lakukan dengan pengetahuan.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikanlah, hidup kita seperti lembaran kalender.
Ketika bulan berlalu, kita membalik halaman selanjutnya. Tidak membalik halaman
sebelumnya. Bulan yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Pun demikian
hari-hari, pecan, dan tahun hidup kita berganti, mereka tidak akan pernah
kembali. Kecuali kita telah benar-benar mengisi dengan kebaikan yang kelak
waktu itu akan bersaksi. Itulah mengapa salaf benar sangat berhati-hati tentang
waktu mereka dan bangaiman mereka menghabiskannya. Mereka memastikan bahwa
tidak ada waktu meskipun singkat berlalu tanpa makna tanpa sesuatu yang
berguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar