Senin, 20 Januari 2014

Karena Waktu Takkan Kembali

Bagi sebagian orang , awal tahun baru ditandai dengan perayaan yang meriah, meniup terompet, menyalakan petasan dan berpesta sampai pagi. Bagi yang  lain itu adalah waktu untuk merenung dan mengintrospeksi diri. Alih-alih merayakan, mereka khawatir dan takut. Alih-alih berpesta, mereka berpikir dan merenung. Karena setiap tahun yang lewat berarti berkurang jatah hidup mereka. Setiap tahun yang lewat membawa mereka lebih dekat dengan kematian.

Mereka sadar bahwa setiap tahun, bulan, dan hari yang lewat membawa mereka lebih dekat pada peristiwa yang tak terelakkan ketika mereka bertemu di akhirat. Membawa mereka lebih dekat dengan pertemuan mereka dengan Rabb mereka. Ketika mereka haru berdiri di depan-Nya dan menjawab tentang semua yang mereka lakukan. Mereka sadar bahwa waktu telah berlalu tidak akan pernah kembali. Mereka tahu bahwa mereka tidak mempergunakan sebagian besar waktu mereka dalam ketaatan kepada Allah, mereka pasti merugi.

Itu karena Nabi berkata, “Pada hari kiamat, kaki anak Adam tidak akan bergerak sampai ia ditanya tentang empat hal: bagaimana ia menghabiskan hidupnya, bagaimana ia menghabiskan masa mudanya, dari mana ia memperoleh kekayaan dan bagaimana ia menghabiskan, dan apa yang ia lakukan dengan pengetahuan.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah, hidup kita seperti lembaran kalender. Ketika bulan berlalu, kita membalik halaman selanjutnya. Tidak membalik halaman sebelumnya. Bulan yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Pun demikian hari-hari, pecan, dan tahun hidup kita berganti, mereka tidak akan pernah kembali. Kecuali kita telah benar-benar mengisi dengan kebaikan yang kelak waktu itu akan bersaksi. Itulah mengapa salaf benar sangat berhati-hati tentang waktu mereka dan bangaiman mereka menghabiskannya. Mereka memastikan bahwa tidak ada waktu meskipun singkat berlalu tanpa makna tanpa sesuatu yang berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar