Sabtu, 11 Januari 2014

Bahaya Dosa Jariyah, Terus mengalir dan Bertambah



“dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan di Tanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (QS. Al-Ankabut : 13)

Mundzir meriwayatkan dari Ibnu al-Hanifiyah bahwa dahulu Abu Jahal dan para dedengkot Quraisy memprovokasi orang-orang yang telah didakwahi Nabi SAW. dan masuk islam. Mereka berkata, “Muhammad mengharamkan khamr, zina, dan mengharamkan apa-apa yang di;akukan oleh orang-orang Arab, maka kembalilah kaliad (murtad dari islam), biarlah kami nanti yang akan memikul dosa-dosa kalian…” lalu turunlah ayat :

“dan sesungguhnya mereka akan memikul beban(dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) disamping beban-beban mereka sendiri…” (QS. Al-Ankabut : 13)


Mujahid bin Jabr ra. Menafsirkan ayat tersebut, “mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya, yakni memikul dosa-dosanya sendiri ditambah dosa semua orang yang mengikuti seruannya, tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya. Hingga meskipun para penyeru kesesatan itu sudah mati, sedangkan para pengikutnya masih hidup dan berbuat maksiat seperti arahan penyeru itu. Maka para penyeru itu turut memikul dosa-dosa yang dilakukan oleh para pengikutnya. Inilah yang disebut dengan dosa jariyah, dosa yang terus mengalir meskipun pelakunya sudah mati.

Maka jangan heran, jika ada orang-orang yang pulas tertidur namun kalkulasi dosa terus mengalir. Bahkan ketika jasad telah terbujur kaku, catatan dosa belum berakhir. Hingga pun ia masuk kedalam kubur, kiriman dosa dating bergilir. Duhai celakanya orang yang telah mati, namun dosanya lebih panjang umurnya daripada pelakunya. Begitulah rekiso menjadi trendsetter dosa, pioner maksiat dan siapapun yang ikut andil menyebarkan kesesatan dan kemaksiatan. Mereka turut menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya.mereka turut memikul dosa orang lain yang bermaksiat, karena ia memiliki saham dalam menyebarkannya.
Rasulullah bersabda :
“Barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi dosa pengikutnya sama sekali.” (HR. Muslim)
Ambil contoh, ada seseorang yang mengubah sebuah karya lagu yang berisi ajakan keburukan atau menggiring kepada kemesuman atau berupa kata-kata jorok yang mengandung nilai dosa. Ia berbangga ketika lagu itu popular dan digandrungi banyak khalayak. Ia juga merasa beruntung dengan besarnya royalty yang bisa dikantongi karna hasil karyanya. Ketika itu ia lupa, bahwa dia juga berhak mendapatkan royalty dosa setiap kali ada yang menirukan lagu ciptaannya yang mengandung dosa. Dirinya tidur nyenyak sementara lagu ciptaannya dinyanyikan orang lain dan terus ‘mencetak’ dosa yang akan ia pikul di akhirat. Bahkan, meskipun dirinya telah masuk ke dalam kubur, wal ‘iyadzu billah. Sebagai inspirator akan terkena dampaknya.

Ini mengingatkan kita akan sabda Nabi saw, yaitu :

“Sesungguhnya ada orang yang mengucapkan satu ucapan yang dia tidak berfikir (baik buruknya), ternyata ucapan itu melemparkan ia ke neraka yang jauhnya melebihi antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana satu ucapan bisa berdampak begitu berat? Bisa jadi, kata-kata itu mengandung kemungkaran yang besar, atau bisa jadi pula ucapan itu tersebar luas sehingga banyak orang yang terjatuh ke dalam dosa lantaran ucapan itu. Sementara ia tidak memikirkan dampaknya saat berucap, wal ‘iyadzu billah.
Contoh lain, ketika ada seseorang mempublikasikan photo atau film yang mengandung kemaksiatan, maka ia memikul dosa semua orang yang menyaksikan. Padahal sekarang betapa mudah menyebarluaskan konten apapun di zaman ini ; internet, facebook, twitter, whats’s app, bbm, sms, dsb. Begitupun ketika seseorang membuat suatu tren atau tradisi yang dengan konten kesesatan. Sebagai pelopor, maka ia memikul semua dosa orang yang melestarikan tradisi itu. Sebagaimana sabda Nabi saw :

“Dan barang siapa yang mempelopori dalam islam ini suatu tradisi yang buruk, maka baginya dosa yang ia lakukan dan juga ia menanggung dosa orang-orang yang mengikuti setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Semestinya kita berhati-hati saat berucap dan bertindak. Apalagi kita berada di era informasi yang dengan mudah segala hal menular kepada banyak orang. Jangan sampai kita menganggap remeh, padahal di sisi Allah adalah perkara besar. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar