Jumat, 10 Januari 2014

Pilihan Dengan Banyak resiko

Memang, ketika seseorang menetapkan pilihannya dijalan yang Allah gariskan, berarti dia telah siap dengan berbagai resiko. Tawakal sebelum keberangkatan tidak kemudian menghilangkan aral melintang dan mengubah jalan menjadi tol yang mulus dan lancar. Akan tetapi, supaya diberi kekuatan untuk bisa melampaui semua hambatan dan rintangan, maka jangan disangka bahwa ketika seseorang menjatuhkan pilihan hidupnya di jalan yang benar lalu kenikmatan dunia berduyun-duyun menghampirinya. Atau tiba-tiba ia mendadak kaya, banyak teman dan saudara, tak ada musuh dan panen sanjungan. Bahkan pilihan ini mengundang seabrek resiko duniawi dibelakangnya. Apalagi, ketika pilihan itu dijatuhkan saat seseorang berada diakhir zaman, dimana kebenaran akan dianggap aneh, warna kemaksiatan dan kesesatan lebih dominan daripada ketaatan. Begitu berat untuk bertahan dalam kebenaran, hingga keadaan diumpamakan Nabi Muhammad SAW dengan menggenggam bara api. Nabi Muhammad SAW bersabda : “akan datang atas manusia, suatu zaman dimana orang yang bersabar diatas agamanya seperti penggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi, Al-Albani mengatakan shahih).

Syaikh as-Sa’di menjelaskan hadits tersebut, “ketika itu orang yang berpegang teguh pada agamanya sangat sedikit. Golongan minoritas tersebut keadaannya berat sebagaimana orang yang memegang bara api. Karena banyaknya penentang, bertebaran propaganda yang menyesatkan, merajalela syubhat yang menyebabkan keraguan. Kebanyakan manusia juga telah tenggelam dalam kesenangan syahwat dan menghamba pada dunia lahir bathin, serta terjangkiti lemah iman. Maka ketika itu, orang yang berpegang teguh terhadap agamanya menjadi asing, karena sedikitnya pendukung.” 

Seperti juga zaman ini, pilihan untuk meniti jalan kebenaran identik dengan memilih berbeda dengan orang kebanyakan. Disaat orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pernghasilan, ia hanya menggunakan cara halal untuk mendapatkannya. Sehingga secara matematis, lahan penghasilannya terhitung sempit, cara mencarinya terbilang sulit. Hanya keimanan yang bisa membuatnya bisa bertahan. keyakinan bahwa takwa adalah solusi yang dengannya rezeki yang baik-baik akan dating. Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib, barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikannya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga.

Ia juga yakin, bahwa cara yang sesat dan haram tidak akan menambah sedikitpun kalkulasi jatah rezeki yang telah Allah takdirkan untuknya. Sementara cara yang dilakukan dalam mencarinya akan menambah kalkulasi dosa. Bahwa banyak orang yang bertakwa diuji dengan sedikitnya harta memang fakta. Akan tetapi, itu bagian dari resiko dan pengorbanan yang menjadi batu ujian baginya untuk mendapatkan nikmat tiada tara dan tak ada habisnya. Karenanya, terhadap ujian-ujian itu mereka menikmatinya. 

Seperti Mush’ab bin Umair RA, sang duta pertama dalam islam. Di masa remajanya dikenal ketampanannya, mewah cara berpakaiannya, dan banyak gadis yang bisa dibilang tergila-gila kepadanya. Minyak wangi yang dipakainya meninggalkan bekas aroma yang bisa dikenali setelah kepergiannya. Akan tetapi pilihannya terhadap islam membuat ibunya murka. Beliau diboikot oleh keluarganya, hingga harus menerima kenyataan sebagai pemuda yang berpenampilan sedewrhana dan bahkan cenderung di bawah rata-rata. Tak hanya itu, ia telah mewakafkan dirinya untuk membuka jalan dakwah di Madinah yang penuh berkah dan memilih syahid sebagai akhir kehidupannya. Di perang Uhud, beliau gugur sebagai syuhada’ yang hanya memiliki kain yang ketika ditutup kepalanya maka tampaklah sebagian kakinya, dan jika ditutup kakinya tampaklah kepalanya. Ini bukan akhir yang tragis, akan tetapi permulaan dari kehidupan yang total bahagia tak ada kesedihan lagi padanya. Kenikmatan yang tidak ada lagi penderitaan apapun juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar