Syaikh as-Sa’di
menjelaskan hadits tersebut, “ketika itu orang yang berpegang teguh pada
agamanya sangat sedikit. Golongan minoritas tersebut keadaannya berat
sebagaimana orang yang memegang bara api. Karena banyaknya penentang,
bertebaran propaganda yang menyesatkan, merajalela syubhat yang menyebabkan
keraguan. Kebanyakan manusia juga telah tenggelam dalam kesenangan syahwat dan
menghamba pada dunia lahir bathin, serta terjangkiti lemah iman. Maka ketika
itu, orang yang berpegang teguh terhadap agamanya menjadi asing, karena
sedikitnya pendukung.”
Seperti juga zaman ini,
pilihan untuk meniti jalan kebenaran identik dengan memilih berbeda dengan
orang kebanyakan. Disaat orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
pernghasilan, ia hanya menggunakan cara halal untuk mendapatkannya. Sehingga
secara matematis, lahan penghasilannya terhitung sempit, cara mencarinya terbilang
sulit. Hanya keimanan yang bisa membuatnya bisa bertahan. keyakinan bahwa takwa
adalah solusi yang dengannya rezeki yang baik-baik akan dating. Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja wa
yarzuqhu min haitsu laa yahtasib, barang siapa yang bertakwa kepada Allah
niscaya Allah akan menjadikannya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah
yang tak terduga.
Ia juga yakin, bahwa
cara yang sesat dan haram tidak akan menambah sedikitpun kalkulasi jatah rezeki
yang telah Allah takdirkan untuknya. Sementara cara yang dilakukan dalam
mencarinya akan menambah kalkulasi dosa. Bahwa banyak orang yang bertakwa diuji
dengan sedikitnya harta memang fakta. Akan tetapi, itu bagian dari resiko dan
pengorbanan yang menjadi batu ujian baginya untuk mendapatkan nikmat tiada tara
dan tak ada habisnya. Karenanya, terhadap ujian-ujian itu mereka menikmatinya.
Seperti Mush’ab bin
Umair RA, sang duta pertama dalam islam. Di masa remajanya dikenal
ketampanannya, mewah cara berpakaiannya, dan banyak gadis yang bisa dibilang tergila-gila
kepadanya. Minyak wangi yang dipakainya meninggalkan bekas aroma yang bisa
dikenali setelah kepergiannya. Akan tetapi pilihannya terhadap islam membuat
ibunya murka. Beliau diboikot oleh keluarganya, hingga harus menerima kenyataan
sebagai pemuda yang berpenampilan sedewrhana dan bahkan cenderung di bawah
rata-rata. Tak hanya itu, ia telah mewakafkan dirinya untuk membuka jalan
dakwah di Madinah yang penuh berkah dan memilih syahid sebagai akhir
kehidupannya. Di perang Uhud, beliau gugur sebagai syuhada’ yang hanya memiliki
kain yang ketika ditutup kepalanya maka tampaklah sebagian kakinya, dan jika
ditutup kakinya tampaklah kepalanya. Ini bukan akhir yang tragis, akan tetapi
permulaan dari kehidupan yang total bahagia tak ada kesedihan lagi padanya.
Kenikmatan yang tidak ada lagi penderitaan apapun juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar