Saat bertekad memilih jalan kebenaran, para peneliti jalan al haq memang sudah siap menghadapi resiko dan konsekuensinya. Namun, kenyataan yang harus dihadapi sering kali lebih pahit daripada yang dibayangkan. Perjuangan meniti jalan kebenaran sangatlah berat. Ada luka, duka dan lara bahkan kehilangan harta, nyawa orang tercinta. Tapi bagaimanapun, semua itu harus ditanggung karena memilih jalan yang sebaliknya juga tak lebih ringan dan mulus jalannya.
Ya, memilih jalan
kesesatan dan menjadi pembela kebathilan juga bukan pilihan yang selalu membawa
kenikmatan. Lihatlah, mereka juga harus bersusah payah menegakkan kebathilan,
berkorban waktu, harta, bahkan nyawa, dan juga kehilangan orang-orang yang
tercinta demi sesuatu yang sia-sia. Sia-sia karena kebathilan memang tak
menjanjika kehampaan dan keputusasaan di lembah jahanam.
Demi perjuangan membela
al haq harus mengorbankan harta yang demikian banyak, musuh pun kehilangan
harta yang bisa jadi lebih besar nilainya. Untuk mengantarkan tentaranya ke
neraka, amerika dan Israel serta sekutunya harus merogoh kocek dalam-dalam.
Miliaran dolar amblas untuk melakukan riset, membeli senjata, menggaji dan
memberi pensiunan tentara, membiayai operasi intelejen dan semua kebutuhan
perang melawan mujahidin di berbagai belahan dunia.
Sama-sama kehilangan
harta, merasakan lelah dan penat dalam berjuang dan sama-sama terluka dan mati,
tapi harapan pejuang al haq dan al bathil tidaklah sama. Pejuang al haq
mengharap pahal dan tempat kembali yang baik dari Allah. Sementara mereka
mengharap pahala dan tempat kembali yang baik dari tuhan-tuhan yang tidak
berwujud selain hanya berupa nama-nama belaka. Harapan inilah yang membuat para
pembela kebenaran menjadi lebih kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar