Rasulullah bersabda, “Dunia itu penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (HR. Muslim).
Bagi orang kafir, dunia
menjadi surga karena mereka bebas menikmatinya. Berbagai kenikmatan yang
disuguhkan dunia dapat mereka reguk tanpa ragu. Cara meraihnya pun bisa dengan
segala cara. Mereka tidak perlu menggubris halal haram, sah atau tidak sah,
sesuai syariat atau tidak. Adapun orang mukmin, segalanya dibatasi oleh
syariat. Semuanya diatur dan harus berjalan sesuai aturan Allah. Disebut
penjara karena kenikmatan yang ada didalamnya dibatasi dari jangkauan. Namun
begitu, hal itu sama sekali tidak boleh membuat kita iri. Semua itu bukanlah
kenikmatan tanpa syarat. Surga dunia, seperti apapun nikmatnya adalah surga
yang memberlakukan banyak syarat dan ketentuan. Ada resiko, konsekuensi dan
berbagai ketentuan sunah kauniyah yang berlaku.
Berbeda dengan surga akhirat yang benar-benar tidak terbatas kenikmatannya. Kenikmatan berupa harta dunia misalnya. Orang yang tidak menggubris syariat bisa menjadi leluasa mencari dan memperebutkannya dengan berbagai cara. Tak peduli riba, akad yang tidak sah, barang yang haram dan lain sebagainya. Adapun orang mukmin, mereka harus rela terbatasi akses dan cara mendapatkannya dengan ketentua riba, halal haram dan akad-akad yang sah. Tapi toh bukan berarti orang yang tidak beriman bisa mendapatkan harta dengan mudah. Sudah sebebas itupun, mereka harus tetap bekerja keras, memeras tenaga dan otak untuk mensukseskan usahanya. Bisa saja mendapatkan harta dunia tanpa harus bersusah payah; korupsi, mencuri, jual beli narkoba, dan usaha-usaha haram lainnya. Tapi dibalik kemudahan yang ada tersimpan resiko yang berimbang.
Berbeda dengan surga akhirat yang benar-benar tidak terbatas kenikmatannya. Kenikmatan berupa harta dunia misalnya. Orang yang tidak menggubris syariat bisa menjadi leluasa mencari dan memperebutkannya dengan berbagai cara. Tak peduli riba, akad yang tidak sah, barang yang haram dan lain sebagainya. Adapun orang mukmin, mereka harus rela terbatasi akses dan cara mendapatkannya dengan ketentua riba, halal haram dan akad-akad yang sah. Tapi toh bukan berarti orang yang tidak beriman bisa mendapatkan harta dengan mudah. Sudah sebebas itupun, mereka harus tetap bekerja keras, memeras tenaga dan otak untuk mensukseskan usahanya. Bisa saja mendapatkan harta dunia tanpa harus bersusah payah; korupsi, mencuri, jual beli narkoba, dan usaha-usaha haram lainnya. Tapi dibalik kemudahan yang ada tersimpan resiko yang berimbang.
Contoh lainnya,
kenikmatan dunia berupa syahwat cinta. Orang mengatakan, inilah surganya cinta.
Untuk menikmati hal ini, orang mukmin dibatasi dengan syariat nikah plus
berbagai konsekuensinya. Sementara orang yang tidak beriman membebaskan diri
dari semua itu dan bisa menikmati sepuasnya dengan berzina. Tapi apakah mereka
bisa mereguk kenikmatan tersebut tanpa kendala?..
Tentu saja tidak.
Kenikmatan duniawi ini ada batasnya. Sekian jenis penyakit ganas ibarat
buaya-buaya lapar yang siap memangsa siapa pun yang menceburkan diri ke dalam
kubangan “zina”. Tanpa ba bi bu, penyakit-penyakit ini akan merusak dan
menggerogoti organ-organ yang digunakan untuk menikmati aktivitas haram ini.
Resiko menanggung malu, bagi yang masih punya, juga membatasi kenikmatan
duniawi ini. Factor penyebabnya masalah tempat. Di rumah bukanlah tempat yang
aman karena pengawasan masyarakat. Di tempat yang sepi tidak selalu nyaman
karena pilihannya adalah hutan, di tengah sawah atau di pinggir kali. Di hotel,
yang murah biasanya ada penggerebekan. Sedang yang aman adalah hotel-hotel
mewah yang tentu saja tidak murah, nah?!..
Kenikmatan dunia berupa
minuman keras pun juga bukan kenikmatan tak bersyarat. Untuk mengkonsumsinya,
seseorang harus mengikat janji mati. Artinya, jika ia minum ia akan kecanduan
dan jika kecanduan nyawa adalah bayarannya karena minuman keras di dunia hanya
nikmat di rasa tapi merusak raga. Belum lagi bicara soal harga. Minuman keras
murahan tentu saja berbeda rasanya dengan yang harganya jutaan.
Kesimpulannya, ternyata
jalan menuju neraka pun tak selalunya landai dan mulus. Padahal ujung akhirnya
jelas-jelas lembah neraka yang akan membuat penghuninya hangus. Sedangkan jalan
kebenaran, meskipun berat tantangannya tapi mudah dan nikmat di akhirnya.
Seperti kata pepatah, berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ketepian. Bersusah
dahulu di dunia, bernikmat-nikmat di jannah kemudian. Adapun para peniti jalan
kesesatan, mereka harus berakit-rakit untuk mendapatkan kesenangan, dan
akhirnya di siksa di jahanam. Semoga Allah memberi kesabaran dan keteguhan bagi
kita dalam meniti jalan kebenaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar