Jumat, 10 Januari 2014

Dunia Itu Surga Yang Penuh Syarat dan Ketentuan


Rasulullah bersabda, “Dunia itu penjaranya orang mukmin dan surganya orang kafir.” (HR. Muslim).
Bagi orang kafir, dunia menjadi surga karena mereka bebas menikmatinya. Berbagai kenikmatan yang disuguhkan dunia dapat mereka reguk tanpa ragu. Cara meraihnya pun bisa dengan segala cara. Mereka tidak perlu menggubris halal haram, sah atau tidak sah, sesuai syariat atau tidak. Adapun orang mukmin, segalanya dibatasi oleh syariat. Semuanya diatur dan harus berjalan sesuai aturan Allah. Disebut penjara karena kenikmatan yang ada didalamnya dibatasi dari jangkauan. Namun begitu, hal itu sama sekali tidak boleh membuat kita iri. Semua itu bukanlah kenikmatan tanpa syarat. Surga dunia, seperti apapun nikmatnya adalah surga yang memberlakukan banyak syarat dan ketentuan. Ada resiko, konsekuensi dan berbagai ketentuan sunah kauniyah yang berlaku. 

 
Berbeda dengan surga akhirat yang benar-benar tidak terbatas kenikmatannya. Kenikmatan berupa harta dunia misalnya. Orang yang tidak menggubris syariat bisa menjadi leluasa mencari dan memperebutkannya dengan berbagai cara. Tak peduli riba, akad yang tidak sah, barang yang haram dan lain sebagainya. Adapun orang mukmin, mereka harus rela terbatasi akses dan cara mendapatkannya dengan ketentua riba, halal haram dan akad-akad yang sah. Tapi toh bukan berarti orang yang tidak beriman bisa mendapatkan harta dengan mudah. Sudah sebebas itupun, mereka harus tetap bekerja keras, memeras tenaga dan otak untuk mensukseskan usahanya. Bisa saja mendapatkan harta dunia tanpa harus bersusah payah; korupsi, mencuri, jual beli narkoba, dan usaha-usaha haram lainnya. Tapi dibalik kemudahan yang ada tersimpan resiko yang berimbang.

Contoh lainnya, kenikmatan dunia berupa syahwat cinta. Orang mengatakan, inilah surganya cinta. Untuk menikmati hal ini, orang mukmin dibatasi dengan syariat nikah plus berbagai konsekuensinya. Sementara orang yang tidak beriman membebaskan diri dari semua itu dan bisa menikmati sepuasnya dengan berzina. Tapi apakah mereka bisa mereguk kenikmatan tersebut tanpa kendala?..
Tentu saja tidak. Kenikmatan duniawi ini ada batasnya. Sekian jenis penyakit ganas ibarat buaya-buaya lapar yang siap memangsa siapa pun yang menceburkan diri ke dalam kubangan “zina”. Tanpa ba bi bu, penyakit-penyakit ini akan merusak dan menggerogoti organ-organ yang digunakan untuk menikmati aktivitas haram ini. Resiko menanggung malu, bagi yang masih punya, juga membatasi kenikmatan duniawi ini. Factor penyebabnya masalah tempat. Di rumah bukanlah tempat yang aman karena pengawasan masyarakat. Di tempat yang sepi tidak selalu nyaman karena pilihannya adalah hutan, di tengah sawah atau di pinggir kali. Di hotel, yang murah biasanya ada penggerebekan. Sedang yang aman adalah hotel-hotel mewah yang tentu saja tidak murah, nah?!.. 

Kenikmatan dunia berupa minuman keras pun juga bukan kenikmatan tak bersyarat. Untuk mengkonsumsinya, seseorang harus mengikat janji mati. Artinya, jika ia minum ia akan kecanduan dan jika kecanduan nyawa adalah bayarannya karena minuman keras di dunia hanya nikmat di rasa tapi merusak raga. Belum lagi bicara soal harga. Minuman keras murahan tentu saja berbeda rasanya dengan yang harganya jutaan. 

Kesimpulannya, ternyata jalan menuju neraka pun tak selalunya landai dan mulus. Padahal ujung akhirnya jelas-jelas lembah neraka yang akan membuat penghuninya hangus. Sedangkan jalan kebenaran, meskipun berat tantangannya tapi mudah dan nikmat di akhirnya. Seperti kata pepatah, berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ketepian. Bersusah dahulu di dunia, bernikmat-nikmat di jannah kemudian. Adapun para peniti jalan kesesatan, mereka harus berakit-rakit untuk mendapatkan kesenangan, dan akhirnya di siksa di jahanam. Semoga Allah memberi kesabaran dan keteguhan bagi kita dalam meniti jalan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar