Mungkin anda pernah berada dalam situasi yang sangat
gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara anda berada di
tengah desak-desakkan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat
mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah
untuk bernapas. Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar
itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia
tatkala pada hari kiamat, hari dimana manusia berdiri di hadapan Allah swt.
Senin, 17 Februari 2014
Jumat, 14 Februari 2014
Persiapkan Diri Lahir Kembali
Dari tanah manusia pertama tercipta. Dari sperma
yang menjijikkan proses anak adam bermula. Kemudian lahir dalam keadaan lemah
tak berdaya, tidak pula mengerti apa-apa. Namun saat menginjak dewasa,
tiba-tiba sebagian besar mereka menjadi penentang pencipta-Nya. Tidak mau
tunduk aturan yang digariskan oleh-Nya, namun merasa mampu mencari jalan yang
membahagiakan dirinya tanpa bimbingan-Nya. Mengira bahwa mereka dibiarkan hidup
begitu saja. Tanpa diawasi pencipta-Nya dan tidak pula dimintai tanggung jawab
atas segala tindakan yang pernah dilakukannya.
Lahir kembali itu pasti. Bahkan diantara manusia
yang ingkar berkata, “mana mungkin manusia yang telah mati dan telah menjadi
tulang belulang akan dibangkitkan kembali?” . inilah kesombongan yang
terbungkus oleh kebodohan yang nyata. Allah telah menunjukkan kebodohan mereka,
dan menyebut mereka melupakan kejadian awalnya. Allah berfirman, “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan
dia lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, siapakah yang dapat menghidupkan
tulang-belulang yang telah hancur luluh?.. katakanlah, ia akan dihidupkan oleh
Rabb yang menciptakannya kali pertama.” (QS. Yasin: 78-79)
Minggu, 09 Februari 2014
Memburu Shaf Awal
Seperti biasa, di masjid kampong saya setelah imam
datang muadzin segera mengumandangkan iqamat. Jamaah pun bangkit dari duduknya
masing-masing dan bersegera memenuhi shaf depan. Namun di shaf paling
ujung sebelah kanan masih ada tempat
kososng, satu orang jamaah mestinya bisa masuk untuk memenuhi shaf depan.
Sampai selesai iqamah di kumandangkan dan imam memerintahakn untuk memenuhi
dulu shaf yang depan, tetap saja tidak ada yang maju mengisinya padahal ada
beberapa jamaah di shaf kedua tepat dibelakang saya. Akhirnya dengan suara
keras dan sedikit marah pak imam yang sudah berumur 80 tahunan menyuruh salah
seorang mereka untuk maju ke depan. Tetapi justru mereka saling pandang, saling
mempersilahkan untuk maju mengisi shaf pertama. Hingga akhirnya salah satu dari
mereka pun maju, entah dalam keadaan terpaksa atau tidak. masyaAllah, mengapa
mereka melakukan hal ini? Tidakkah mereka mengetahui keutamaan shaf terdepan
dalam shalat berjamaah? Apakah ini salah satu tanda bahwa masih belum pahamnya
umat terhadap ilmu agama khususnya fiqih shalat?
Aurat Semakin Terbuka, Semakin Dimurka
Nikmat yang Allah berikan saat Adam dan hawa masih
di Jannah sangatlah berlimpah. Semua makanan dihalalkan dan hanya satu yang
Allah haramkan. Yaitu suatu pohon tertentu yang ada di Jannah. Orang sering
mengatakan pohon tersebut adalah pohon khuldi. Padahal itu hanyalah sebutan
setan untuk pohon tersebut guna menggoda Adam.
Jangan Kau Persembahkan untuk Allah Hanya Sekedar Sisa
Selasa, 04 Februari 2014
Ketika Keistiqomahan Diuji
Ada sebuah cerita dari salah satu hamba Allah, sebut
saja dia lala..
Saat itu aku sedang mengalami masa remaja yang orang
bilang masa puber.seperti anak remaja pada umumnya, aku belum mengenak mana
yang baik dan mana yang buruk. Selama tidak merugikan diriku semuanya aku
anggap baik. Sampai akhirnya kau terperosok dalam lubang kemaksiatan.
Di bangku kelas 2 SMP semuanya bermula. Tak ada yang
menyangka bahwa aku akan menjadi sepperti itu. Saat pertama kali menapakkan
kaki di sekolah itu aku merasa ragu. Penampilan para siswa di sana hamper tidak
layak disebut anak sekolahan. Tidak hanya anak putra, tapi juga anak putrid.
Meskipun berkerudung-mungkin karena tuntutan peraturan sekolah, kelakuan mereka
tidak beda dengan para remaja pada umumnya yang tidak menutup auratnya. Dari
awal aku sudah tidak yakin akan bisa menjaga diriku sendiri. Aku takut terbawa
arus kenakalan mereka.
Allah Tahu yang Kita Butuhkan, Kenapa Harus Berdoa??
“Mengapa kita perlu berdoa? Bukankah Allah Maha tahu
semua yang kita inginkan? Jadi kenapa harus meminta? Apakah itu berarti
mendikte Allah untuk melakukan apa yang kita inginkan?” yang lain lagi berkata,
“kenapa perlu berdoa? Toh apa yang Allah lakukan adalah apa yang Dia kehendaki,
bukan apa yang kita kehendaki.”
Itulah diantara pikiran menyeleweh yang berseliweran
dalam wacana dan perbincangan. Bahkan sudah ada yang menjadikannya sebagai
pegangan. Meskipun aneh, tapi jalan logika semacam itu bisa berpotensi
menggembosi semangat untuk berdoa.
Langganan:
Postingan (Atom)