Minggu, 09 Februari 2014

Memburu Shaf Awal



Seperti biasa, di masjid kampong saya setelah imam datang muadzin segera mengumandangkan iqamat. Jamaah pun bangkit dari duduknya masing-masing dan bersegera memenuhi shaf depan. Namun di shaf paling ujung  sebelah kanan masih ada tempat kososng, satu orang jamaah mestinya bisa masuk untuk memenuhi shaf depan. Sampai selesai iqamah di kumandangkan dan imam memerintahakn untuk memenuhi dulu shaf yang depan, tetap saja tidak ada yang maju mengisinya padahal ada beberapa jamaah di shaf kedua tepat dibelakang saya. Akhirnya dengan suara keras dan sedikit marah pak imam yang sudah berumur 80 tahunan menyuruh salah seorang mereka untuk maju ke depan. Tetapi justru mereka saling pandang, saling mempersilahkan untuk maju mengisi shaf pertama. Hingga akhirnya salah satu dari mereka pun maju, entah dalam keadaan terpaksa atau tidak. masyaAllah, mengapa mereka melakukan hal ini? Tidakkah mereka mengetahui keutamaan shaf terdepan dalam shalat berjamaah? Apakah ini salah satu tanda bahwa masih belum pahamnya umat terhadap ilmu agama khususnya fiqih shalat?
 Dalil yang menjelaskan keutamaan shaf pertama adalah:
“Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shaf yang paling depan, niscaya mereka akan mengundinya (untuk mendapatkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Nu’man bin Basyir ra beliau berkata, “aku mendengan Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf awal.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Dalam hadits lain di sebutkan:
“sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)

Shaf yang paling akhir bagi wanita yang hadir shalat berjamaah bersama lelaki memiliki keutamaan, karena wanita yang berdiri dalam shaf tersebut akan jauh dari bercampur baur dengan lelaki dan melihat mereka. Mereka akan lebih mudah untuk khusyu’ karena pikirannya tidak terganggu dengan gerakan atau suara kaum lelaki yang ada di depannya. Sehingga shaf terburuk bagi kaum wanita adalah yang terdepan. Namun hal itu tidak berlaku jika mereka sesame wanita mengadakan shalat berjamaah tanpa melibatkan laki-laki. Imam Nawawi berkata, yang dimaksud dalam hadits ini adalah shaf wanita yang shalat bersama kaum lelaki. Adapun bila mereka (kaum wanita) shalat terpisah dari jamaah lelaki, maka shaf mereka sama dengan lelaki. Yakni, yang terbaik adalah shaf yang awal sementara yang paling jelk adalah shaf yang paling akhir.

Selain didoakan dan dimohonkan ampunan oleh para malaikat, ada beberapa faedah lain bagi orang yang datang ke masjid lebih awal dan menempati shaf pertama. Mereka akan digolongkan sebagai hamba Allah yang bersegera dalam menyambut kebaikan. Mereka juga termasuk orang yang berkesempatan luas untuk memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah, karena berdoa pada waktu tersebut mustajab. Selain itu mereka juga bisa melaksanakan shalat-shalat sunah dan bisa lebih khusyu’ karena tidak terganggu dengan jamaah yang ada di depannya. Mereka juga akan terhindar dari fitnah karena jauh dari jamaah wanita yang mungkin sesekali menimbulkan fitnah.

Pembaca, mari bergegas menuju masjid jika adzan telah dikumandangkan. Tinggalkan segala keperluan duniawi dan bersegera mengambil air wudhu, sebab Rasulullah telah menghasung kita agar meraih shaf awal yang berarti untuk mendapatkannya kita harus bersegera ke masjid. Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah melihat diantara sahabat ada yang mengakhirkan berangkat ke masjid, maka beliau bersabda: 

“Tidakkah suatu kaum mengakhirkan (menuju masjid) hingga Allah mengakhirkan mereka.” (HR. Muslim)

Menurut ulama, makna mengakhirkan adalah mengakhirkan dari rahmat dan Jannah-Nya. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Oleh karena itu hendaklah orang-orang merasa takut apabila mereka mengakhirkan suatu ibadah. Mereka akan diuji Allah dalam bentuk di akhirkan dalam segala bentuk kebaikan.”

Perhatikan kesaksian Aisyah tentang Rasulullah:
“Adalah Nabi saw biasa membantu pekerjaan istrinya, dan jika beliau mendengar adzan, beliau segera keluar (untuk pergi menuju masjid).” (HR. Bukhari)

Para salaf shalih setelah beliau juga begitu antusias dalam mengejar shaf pertama. Selama 50 tahun Said bin Musayyib ra tidak pernah melihat tengkuk orang yang shalat di hadapannya. Artinya beliau selalu shaf terdepan. Al-A’masy meski umurnya telah mencapai 70 tahun, ia tidak pernah terlewatkan dari takburatul ihram. Ibnu Sama’ah selama 40 tahun tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram selain di saat ibunya meninggal dunia. Basyar bin Hasan selalu melazimi shaf pertama selama 50 tahun, karena itulah ia dijuluki As-Shaffi.

Ketika Amir bin Abdullah bin Zubair berada di ambang kematian, keluarganya menangis di sebelahnya. Saat detik-detik terakhir kehidupannya, ia mendengar adzan. Beliau berkata kepada orang di dekatnya, “angkatlah aku.”

“mau kemana engkau?”

“ke masjid.”

“dalam kondisi seperti ini?”

Subhanallah. Apakah aku tidak menjawab adzan padahal aku mendengarnya? Angkatlah diriku!”

Kemudian beliau dipapah hingga masjid, Subhanallah, ia mendapatkan khusnul khatimah. Beliau shhalat dibelakang imam dan mendapat satu rakaat sebelum akhirnya meninggal dalam keadaan sujud.

Pembaca, marilah kita contoh Rasulullah dan para salaf shalih teladan kita. Kita rebut shaf pertama dalam tiap shalat berjamaah. Rasulullah meski sedang sibuk membantu pekerjaan istri beliau akan tetapi ketika adzan berkumandang, beliau langsung bergegas menuju masjid. Apalagi dengan kita yang hanya ddisibukkan dengan perkara duniawi. Terkadang bercanda, di depan melototi facebook, bermain game, menonton bola, namun adzan berkumandang panggilan itu kita abaikan. Nas’alullahal ‘afiyah! (Abu Hasan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar