Seperti biasa, di masjid kampong saya setelah imam
datang muadzin segera mengumandangkan iqamat. Jamaah pun bangkit dari duduknya
masing-masing dan bersegera memenuhi shaf depan. Namun di shaf paling
ujung sebelah kanan masih ada tempat
kososng, satu orang jamaah mestinya bisa masuk untuk memenuhi shaf depan.
Sampai selesai iqamah di kumandangkan dan imam memerintahakn untuk memenuhi
dulu shaf yang depan, tetap saja tidak ada yang maju mengisinya padahal ada
beberapa jamaah di shaf kedua tepat dibelakang saya. Akhirnya dengan suara
keras dan sedikit marah pak imam yang sudah berumur 80 tahunan menyuruh salah
seorang mereka untuk maju ke depan. Tetapi justru mereka saling pandang, saling
mempersilahkan untuk maju mengisi shaf pertama. Hingga akhirnya salah satu dari
mereka pun maju, entah dalam keadaan terpaksa atau tidak. masyaAllah, mengapa
mereka melakukan hal ini? Tidakkah mereka mengetahui keutamaan shaf terdepan
dalam shalat berjamaah? Apakah ini salah satu tanda bahwa masih belum pahamnya
umat terhadap ilmu agama khususnya fiqih shalat?
“Seandainya mereka
mengetahui keutamaan yang ada pada shaf yang paling depan, niscaya mereka akan
mengundinya (untuk mendapatkannya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Nu’man bin Basyir ra beliau berkata, “aku
mendengan Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya
Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang berada di shaf
awal.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam hadits lain di sebutkan:
“sebaik-baik shaf
laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya adalah yang paling
belakang. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang dan
seburuk-buruknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)
Shaf yang paling akhir bagi wanita yang hadir shalat
berjamaah bersama lelaki memiliki keutamaan, karena wanita yang berdiri dalam
shaf tersebut akan jauh dari bercampur baur dengan lelaki dan melihat mereka.
Mereka akan lebih mudah untuk khusyu’ karena pikirannya tidak terganggu dengan
gerakan atau suara kaum lelaki yang ada di depannya. Sehingga shaf terburuk
bagi kaum wanita adalah yang terdepan. Namun hal itu tidak berlaku jika mereka
sesame wanita mengadakan shalat berjamaah tanpa melibatkan laki-laki. Imam
Nawawi berkata, yang dimaksud dalam hadits ini adalah shaf wanita yang shalat
bersama kaum lelaki. Adapun bila mereka (kaum wanita) shalat terpisah dari
jamaah lelaki, maka shaf mereka sama dengan lelaki. Yakni, yang terbaik adalah
shaf yang awal sementara yang paling jelk adalah shaf yang paling akhir.
Selain didoakan dan dimohonkan ampunan oleh para
malaikat, ada beberapa faedah lain bagi orang yang datang ke masjid lebih awal
dan menempati shaf pertama. Mereka akan digolongkan sebagai hamba Allah yang
bersegera dalam menyambut kebaikan. Mereka juga termasuk orang yang
berkesempatan luas untuk memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk
berdoa kepada Allah, karena berdoa pada waktu tersebut mustajab. Selain itu
mereka juga bisa melaksanakan shalat-shalat sunah dan bisa lebih khusyu’ karena
tidak terganggu dengan jamaah yang ada di depannya. Mereka juga akan terhindar
dari fitnah karena jauh dari jamaah wanita yang mungkin sesekali menimbulkan
fitnah.
Pembaca, mari bergegas menuju masjid jika adzan
telah dikumandangkan. Tinggalkan segala keperluan duniawi dan bersegera
mengambil air wudhu, sebab Rasulullah telah menghasung kita agar meraih shaf
awal yang berarti untuk mendapatkannya kita harus bersegera ke masjid. Dari Abu
Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah melihat diantara sahabat ada yang mengakhirkan
berangkat ke masjid, maka beliau bersabda:
“Tidakkah suatu kaum
mengakhirkan (menuju masjid) hingga Allah mengakhirkan mereka.” (HR. Muslim)
Menurut ulama, makna mengakhirkan adalah mengakhirkan
dari rahmat dan Jannah-Nya. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Oleh karena itu
hendaklah orang-orang merasa takut apabila mereka mengakhirkan suatu ibadah.
Mereka akan diuji Allah dalam bentuk di akhirkan dalam segala bentuk kebaikan.”
Perhatikan kesaksian Aisyah tentang Rasulullah:
“Adalah Nabi saw biasa
membantu pekerjaan istrinya, dan jika beliau mendengar adzan, beliau segera
keluar (untuk pergi menuju masjid).” (HR. Bukhari)
Para salaf shalih setelah beliau juga begitu
antusias dalam mengejar shaf pertama. Selama 50 tahun Said bin Musayyib ra
tidak pernah melihat tengkuk orang yang shalat di hadapannya. Artinya beliau
selalu shaf terdepan. Al-A’masy meski umurnya telah mencapai 70 tahun, ia tidak
pernah terlewatkan dari takburatul ihram. Ibnu Sama’ah selama 40 tahun tidak
pernah ketinggalan takbiratul ihram selain di saat ibunya meninggal dunia.
Basyar bin Hasan selalu melazimi shaf pertama selama 50 tahun, karena itulah ia
dijuluki As-Shaffi.
Ketika Amir bin Abdullah bin Zubair berada di ambang
kematian, keluarganya menangis di sebelahnya. Saat detik-detik terakhir
kehidupannya, ia mendengar adzan. Beliau berkata kepada orang di dekatnya,
“angkatlah aku.”
“mau kemana engkau?”
“ke masjid.”
“dalam kondisi seperti ini?”
“Subhanallah.
Apakah aku tidak menjawab adzan padahal aku mendengarnya? Angkatlah diriku!”
Kemudian beliau dipapah hingga masjid, Subhanallah, ia mendapatkan khusnul
khatimah. Beliau shhalat dibelakang imam dan mendapat satu rakaat sebelum
akhirnya meninggal dalam keadaan sujud.
Pembaca, marilah kita contoh Rasulullah dan para
salaf shalih teladan kita. Kita rebut shaf pertama dalam tiap shalat berjamaah.
Rasulullah meski sedang sibuk membantu pekerjaan istri beliau akan tetapi
ketika adzan berkumandang, beliau langsung bergegas menuju masjid. Apalagi
dengan kita yang hanya ddisibukkan dengan perkara duniawi. Terkadang bercanda,
di depan melototi facebook, bermain game, menonton bola, namun adzan
berkumandang panggilan itu kita abaikan. Nas’alullahal
‘afiyah! (Abu Hasan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar