Ibnu Jarir ath-Thabari menyebutkan sebuah riwayat
dari al-Barra’ tentang ayat ini. “ayat ini (QS. Al-Baqarah: 267) turun terkait
dengan kami para pemilik kebun kurma. Di mana kami biasa membawa kurma ke
masjid sesuai kadar banyak sedikitnya hasil panen yang dimiliki. Adalah biasa
ketika seseorang datang dengan membawa setandan kurma, lalu di ikatkan pada
satu tempat di masjid. Sedangkan ahlush shuffah (yang tinggal di masjid) tidak
memiliki makanan. Sehingga jika salah seorang mereka merasakan lapar, mereka
mendatangi tempat itu lalu memukulkan tongkatnya hingga berjatuhan kurma
tersebut untuk di makan. Ketika itu, ada sebagian orang yang kurang bersemangat
dalam mengharapkan pahala kebaikan. Dimana ia membawa tandan kurma yang
jelek-jelek. Ada lagi yang membawa tandan yang telah rusak lalu digantngkan di
tempat kurma. Kemudian turunlah ayat tersebut.”
Betapa ayat diatas seakan menyindir dan menyebutkan
persis kondisi umumnya kita kaum muslimin hari ini. Yang terlalu hemat bahkan
pelit membelanjakan harta di jalan Allah. Jikalau ada yang dikeluarkan, itu
hanyalah sisa barang atau harta yang nyaris tak berharga dalam pandangan
matanya. Bersedekah dengan recehan paling kecil yang dimiliki, atau
menyumbangkan barang yang ia sendiri sudah bosan dan jengah melihatnya.
Dengan turunnya ayat tersebut, para sahabat sesegera
mungkin memperbaiki keadaan mereka sebagaimana yang dinyatakan oleh sahabat
Al-Barra’ : “setelah turunnya ayat terguran tersebut maka masing-masing kami
(para sahabat) bersedekah dengan yang baik tatkala mendatangi saudaranya.”
(tafsir Ibnu Katsier)
Mari kita lihat, apakah setelah ayat ini kit abaca
dan dengar memiliki efek sebagaimana yang dialami oleh para sahabat. Celaan dan
teguran pada ayat ini tidaklah bertentangan dengan anjuran sedekah meski dengan
sesuatu yang kecil nilainya. Kita memang tidak boleh mengkerdilkan kecilnya
nominal uang atau murahnya harga sebuah barang yang kita sedekahkan. Karena
sekecil apapun harta yang kita belanjakan dijalan Allah akan berfaedah. Seperti
hadits Nabi saw, “Jagalah dirimu dari
neraka meskipun dengan (sedekah) separuh biji kurma.” (HR. Bukhari)
Akan tetapi, makna hadits ini adalah ketika
seseorang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan selain separuh biji kurma
maka separuh biji kurma itu menjadi luar biasa baginya dan akan menjadi benteng
baginya dari neraka. Karena itulah, Nabi melanjutkan dengan sabdanya, “Dan jika kamu tidak memiliki maka
hendaknya bersedekah dengan kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari)
Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki buah
kurma melimpah, lalu dia hanya bersedekah dengan separuh biji kurma. Ini jelas
kebakhilan dan masuk dalam perbuatan yang ditegur dalam ayat ini. Intinya bukan
pada nilai, harga, atau nominalnya. Tapi kadar atau perbandingan antara yang ia
sedekahkan dengan yang ia miliki. Seseorang yang bersedekah seribu rupiah bisa
jadi lebih utama dan besar pahalanya dibandingkan orang yang bersedekah senilai
1 juta rupiah. Tergantung seberapa banyak kadar harta yang dimiliki. Nabi saw
bersabda, “ada sedekah satu dirham, namun mengungguli sedekah seratus dirham.”
Para sahabat bertanya, “bagaimana bisa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “ ada seseorang yang memiliki uang dua
dirham, lalu dia ambil satu dirham dan ia bersedekah dengannya. Dan (yang
kedua) seseorang yang memiliki harta yang banyak, lalu dia ambil seratus dirham
dari tumpukan hartanya, lalu ia bersedekah dengannya.” (HR. Abu Dawud).
Maka, nilai pahala itu bukan soal berapa nominalnya,
akan tetapi seberapa kadar dibandingkan dengan apa yang dimiliki. Sayangnya,
seringkali kita hanya menggunakan standart kelayakan nominal, bukan kadar.
Ambil contoh, ketika disaku kita ada dua pecahan uang seribu rupiah, maka kita
rela sedekah dengan seribu rupiah. Namun tatkala didompet atau saku banyak pula
uang puluhan ribu, atau bahkan beberapa lembar seratus ribu, asalkan ada
pecahan seribu maka pecahan seribu rupiah itu pula yang disedekahkan. Seakan
sedekah itu identik dengan pecahan seribu rupiah. Sedangkan lembaran uang yang
besar nilainya diperuntukkan untuk belanja kemewahan. Maka betapa tampak besar
uang sepuluh ribu rupiah di kotak infaq, dan betapa tidak ada harganya tatkala
uang itu masuk mall.
Maskipun ayat ini menyebutkan teguran terhadap orang
yang bersedekah dengan sisa-sisa harta, layak pula kita bercermin lebih luas
lagi. Seberapa kadar yang kita persembahkan kepada Allah dari apa yang Allah
anugerahkan kepada kita. Apakah sedekah hanya dengan sisa uang belanja?? Apakah
shalat hanya dengan sisa waktu yang ada?? Dzikir hanya sisa ngobrol saja?? Dan
apakah kita hanya menjadi hamba Allah secuil saja??!. Ya Allah, bantulah kami
untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki
ibadah kami kepada-Mu, Aamiin. (Abu Umar Abdillah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar