Minggu, 09 Februari 2014

Jangan Kau Persembahkan untuk Allah Hanya Sekedar Sisa



“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengaambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha kaya lagi Maha terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Ibnu Jarir ath-Thabari menyebutkan sebuah riwayat dari al-Barra’ tentang ayat ini. “ayat ini (QS. Al-Baqarah: 267) turun terkait dengan kami para pemilik kebun kurma. Di mana kami biasa membawa kurma ke masjid sesuai kadar banyak sedikitnya hasil panen yang dimiliki. Adalah biasa ketika seseorang datang dengan membawa setandan kurma, lalu di ikatkan pada satu tempat di masjid. Sedangkan ahlush shuffah (yang tinggal di masjid) tidak memiliki makanan. Sehingga jika salah seorang mereka merasakan lapar, mereka mendatangi tempat itu lalu memukulkan tongkatnya hingga berjatuhan kurma tersebut untuk di makan. Ketika itu, ada sebagian orang yang kurang bersemangat dalam mengharapkan pahala kebaikan. Dimana ia membawa tandan kurma yang jelek-jelek. Ada lagi yang membawa tandan yang telah rusak lalu digantngkan di tempat kurma. Kemudian turunlah ayat tersebut.”

Betapa ayat diatas seakan menyindir dan menyebutkan persis kondisi umumnya kita kaum muslimin hari ini. Yang terlalu hemat bahkan pelit membelanjakan harta di jalan Allah. Jikalau ada yang dikeluarkan, itu hanyalah sisa barang atau harta yang nyaris tak berharga dalam pandangan matanya. Bersedekah dengan recehan paling kecil yang dimiliki, atau menyumbangkan barang yang ia sendiri sudah bosan dan jengah melihatnya.

Dengan turunnya ayat tersebut, para sahabat sesegera mungkin memperbaiki keadaan mereka sebagaimana yang dinyatakan oleh sahabat Al-Barra’ : “setelah turunnya ayat terguran tersebut maka masing-masing kami (para sahabat) bersedekah dengan yang baik tatkala mendatangi saudaranya.” (tafsir Ibnu Katsier)

Mari kita lihat, apakah setelah ayat ini kit abaca dan dengar memiliki efek sebagaimana yang dialami oleh para sahabat. Celaan dan teguran pada ayat ini tidaklah bertentangan dengan anjuran sedekah meski dengan sesuatu yang kecil nilainya. Kita memang tidak boleh mengkerdilkan kecilnya nominal uang atau murahnya harga sebuah barang yang kita sedekahkan. Karena sekecil apapun harta yang kita belanjakan dijalan Allah akan berfaedah. Seperti hadits Nabi saw, “Jagalah dirimu dari neraka meskipun dengan (sedekah) separuh biji kurma.” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, makna hadits ini adalah ketika seseorang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan selain separuh biji kurma maka separuh biji kurma itu menjadi luar biasa baginya dan akan menjadi benteng baginya dari neraka. Karena itulah, Nabi melanjutkan dengan sabdanya, “Dan jika kamu tidak memiliki maka hendaknya bersedekah dengan kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari) 

Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki buah kurma melimpah, lalu dia hanya bersedekah dengan separuh biji kurma. Ini jelas kebakhilan dan masuk dalam perbuatan yang ditegur dalam ayat ini. Intinya bukan pada nilai, harga, atau nominalnya. Tapi kadar atau perbandingan antara yang ia sedekahkan dengan yang ia miliki. Seseorang yang bersedekah seribu rupiah bisa jadi lebih utama dan besar pahalanya dibandingkan orang yang bersedekah senilai 1 juta rupiah. Tergantung seberapa banyak kadar harta yang dimiliki. Nabi saw bersabda, “ada sedekah satu dirham, namun mengungguli sedekah seratus dirham.” Para sahabat bertanya, “bagaimana bisa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,  “ ada seseorang yang memiliki uang dua dirham, lalu dia ambil satu dirham dan ia bersedekah dengannya. Dan (yang kedua) seseorang yang memiliki harta yang banyak, lalu dia ambil seratus dirham dari tumpukan hartanya, lalu ia bersedekah dengannya.” (HR. Abu Dawud).

Maka, nilai pahala itu bukan soal berapa nominalnya, akan tetapi seberapa kadar dibandingkan dengan apa yang dimiliki. Sayangnya, seringkali kita hanya menggunakan standart kelayakan nominal, bukan kadar. Ambil contoh, ketika disaku kita ada dua pecahan uang seribu rupiah, maka kita rela sedekah dengan seribu rupiah. Namun tatkala didompet atau saku banyak pula uang puluhan ribu, atau bahkan beberapa lembar seratus ribu, asalkan ada pecahan seribu maka pecahan seribu rupiah itu pula yang disedekahkan. Seakan sedekah itu identik dengan pecahan seribu rupiah. Sedangkan lembaran uang yang besar nilainya diperuntukkan untuk belanja kemewahan. Maka betapa tampak besar uang sepuluh ribu rupiah di kotak infaq, dan betapa tidak ada harganya tatkala uang itu masuk mall.

Maskipun ayat ini menyebutkan teguran terhadap orang yang bersedekah dengan sisa-sisa harta, layak pula kita bercermin lebih luas lagi. Seberapa kadar yang kita persembahkan kepada Allah dari apa yang Allah anugerahkan kepada kita. Apakah sedekah hanya dengan sisa uang belanja?? Apakah shalat hanya dengan sisa waktu yang ada?? Dzikir hanya sisa ngobrol saja?? Dan apakah kita hanya menjadi hamba Allah secuil saja??!. Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu, Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar