Senin, 22 Desember 2014

AQIDAH RAJ’AH DAN FILM HORROR



                Raj’ah adalah salah satu dari sederet akidah sesat kelompok yang menisbatkan dirinya kepada islam, yaitu Syi’ah. Mereka berkeyakinan bahwa ada kebangkitan dari alam kubur sebelum datangnya hari kiamat. Salah seorang ulama Syi’ah Muhammad al-Hasan al-Hariri berkata dalam kitabnya, “ketahuilah bahwa raj’ah adalah hidup kembali setelah mati sebelum datangnya hari kiamat.” (al-liqodz minal Hajah bil Burhan ala raj’ah)

            Ini jelas menyelisihi akidah umat islam yang meyakini bahwa orang yang telah mati tidak akan bisa bangkit lagi ke dunia dan akan tetap tinggal di alam Barzakh sampai datangnya hari kiamat. Syi’ah telah melakukan ijma’ (kesepakatan) bahwa raj’ah termasuk bagian dari akidah mereka sebagaimana yang termaktub dalam kitab Man La Yahduruhul Faqih : 3/291 “bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengimani Raj’ah.” Namun anehnya,. Hal ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam disebabkan akidah ini merupakan rahasia yang harus dijaga. Sebagaimana salah seorang ulama Syi’ah, Abu Husain al-Khiyat berkata, “sesungguhnya orang-orang Syi’ah saling menasehati satu sama lain agar merahasiakan akidah raj’ah. Mereka juga dilarang untuk menyebut akidah raj’ah ini di dalam majelis dan buku-buku mereka.” (kitab al-Intisor hal. 95-96 cetakan Darul Kutub al-Misriyyah 1344 H)

            Suatu akidah yang berkembang pasti ada asal muasalnya. Ya, begitu pula dengan akidah raj’ah. Orang yang pertama kali meyakini akidah ini adalah Abdullah bin Saba’ seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura masuk islam. Dia adalah tokoh munafiq yang memecah belah kaum muslimin di era pemerintahan Utsman bin Affan sekaligus pencetus akidah raj’ah. Hanya saja, ia meyakini bahwa raj’ah (bangkit setelah kematian) hanya untuk sahabat Ali. Seiring dengan berjalannya waktu, akidah raj’ah mengalami perkembangan yang signifikan dan beberapa modifikasi sehingga banyak orang yang tertipu olehnya. Adapun tokoh yang paling berjasa dalam hal ini adalah Jabir al-Jafi, ulama Syi’ah kontemporer. Dalam tafsir al-Qummy: II/147 Abu Ja’far memuji usaha Jabir dalam penyebaran akidah raj’ah dengan mengatakan, “semoga Allah merahmati Jabir yang sangat matang pemhamannya. Ialah orang yang mengetahui takwil dari ayat al-Qosos: 85 dengan raj’ah.”
            Menurut seorang ulama Syi’ah yang bernama al-Mufid, raj’ah secara umum akan terjadi pada saat munculnya imam Mahdi ke dunia. Di antara tanda-tandanya adalah hidupnya kembali para mayit dari alam kubur untuk kemudian saling berta’ruf, berkunjung satu sama lain dan kemudian bertemu dengan imam Mahdi “versi mereka” di makkah. (Muhammad Hasan al-Hariri al-Liqadz minal Haj’ah bil Burhan al-Raj’ah, hal. 257). Sedangkan raj’ah sendiri akan mengalami tiga tahapan; pertama, Imam yang dua belas akan bangkit bersama Imam Mahdi versi mereka. Kedua, para Khulafa ar-Rasyidin, kecuali Ali r.a yang kemudian akan di qishas oleh orang-orang Syi’ah  karena telah merampas kepemimpinannya. Ketiga, seluruh umat manusia akan terpecah menjadi dua bagian; Syi’ah dan orang-orang kafir atau orang yang tidak beragama Syi’ah. Mereka akan membunuh orang-orang yang bukan dari agama Syi’ah. 

            Orang-orang Syi’ah banyak memiliki riwayat-riwayat palsu untuk menjustifikasi keyakinan yang telah tertanam dalam jiwa mereka. Tidak hanya itu, mereka pun mengacak-acak dalil al-Qur’an agar sesuai dengan apa yang mereka yakini. Setidaknya ada 60 lebih dalil yang digunakan oleh orang-orang Syi’ah baik dari al-Qur’an, sunnah maupun qiyas. Di antaranya surat al-Anbiya : 95 “dan tidak mungkin bagi suatu penduduk negeri yang telah kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali (raj’ah).” Di satu sisi dalil ini menjadi argument bagi orang-orang Syi’ah. Namun, dalil ini justru membantah apa yang diyakini oleh mereka. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Qatadah bahwa tafsir ayat ini adalah “telah ditetapkan bagi suatu negeri yang telah binasa bahwa mereka tidak akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat. (tafsir Ibnu Katsir, tafsir al-Qur’anuk Adzhim : 3/233). Mereka pun menggunakan dalil QS. An-Naml : 83, QS. Abbasa : 17-22, dan kisah Ashabul Kahfi yang menurut mereka dihidupkan kembali oleh Allah. Dalil-dalil ini digunakan oleh Syi’ah sangatlah lemah, bahkan terkesan dipaksakan sesuai apa yang diyakini oleh mereka. Sehingga, sebagai muslim yang memiliki bashirah yang kuat akan menolak akidah ini dengan serta-merta. Seperti kasus Ashabul kahfi, Syi’ah mengatakan bahwa mereka hiduo kembali. Padahal Allah telah tegas mengatakan bahwa mereka tidur, bukan mati. (QS. Al-Kahfi)

            Saat ini, masyarakat Indonesia sangat menggemari film-film yang bernuansa horror. Tidak hanya dikalangan muda saja, bahkan mereka yang sudah tua pun ikut-ikutan meramaikannya. Terbukti di tahun 2014 ini omset penjualan film-film horror pun menanjak drastic, bahkan beberapa rewards telah diraih oleh para sutradara dan artis yang memerankannya. Adegannya pun beragam, mulai dari hidupnya kembali orang yang sudah mati untuk membalas dendam, bertemu kekasih hati, sampai ritual-ritual kesyirikan dan paganisme. Ini semua persis dengan apa yang diyakini oleh orang-orang Syi’ah akan raj’ah, “bangkitnya kembali orang yang sudah mati.” Namun anehnya, film-film tersebut justru digemari oleh mayoritas masyarakat yang notabenenya beragama Islam. Ini semua memang tidak terlepas dari propaganda musuh-musuh Islam dan jahilnya kebanyakan umat Islam.
            Ibarat udang dibalik batu, maka Yahudi adalah udang yang bersembunyi dibalik batu kesesatan ini. Sebab. Syi’ah bukanlah kelompok yang berdiri sendiri. Akan tetapi ia adalah rekaan orang-orang Yahudi yang tidak akan pernah tenang sampai orang islam mengikuti millah mereka. Sebagaimana Allah telah menyebutkan di dalam al-Qur’an, “orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) sampai engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya. Apabila engkau mengikuti agama mereka setelah kebenaran datang kepadamu, tidak lagi akan menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

            Jagalah akidah! Itulah pesan Rasulullah kepada umatnya. Menjaga akidah adalah hal yang paling penting bagi diri seorang muslim. Sebab, Allah membuka lebar-lebar pintu surge untuk hamba-hambanya yang bertauhid. Bahkan Allah akan memberikan kekhilafahan (kekuasaan) dengan syarat manusia beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik (QS. An-Nur: 55). Umat Islam harus belajar akidah yang benar, kemudian mendakwahkannya ke seluruh elemen masyarakat agar umat memahami akidah yang benar dan murka Allah tidak menimpa penduduk negeri ini. Sehingga rahmat dan karunia Allah pun senantiasa turun di negeri kita ini, wallahu a’lam bis shawab.

Oleh :Robbanie (Mahasiswa Ma’had Aly An-Nur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar