Ada sebuah cerita dari salah satu hamba Allah, sebut
saja dia lala..
Saat itu aku sedang mengalami masa remaja yang orang
bilang masa puber.seperti anak remaja pada umumnya, aku belum mengenak mana
yang baik dan mana yang buruk. Selama tidak merugikan diriku semuanya aku
anggap baik. Sampai akhirnya kau terperosok dalam lubang kemaksiatan.
Di bangku kelas 2 SMP semuanya bermula. Tak ada yang
menyangka bahwa aku akan menjadi sepperti itu. Saat pertama kali menapakkan
kaki di sekolah itu aku merasa ragu. Penampilan para siswa di sana hamper tidak
layak disebut anak sekolahan. Tidak hanya anak putra, tapi juga anak putrid.
Meskipun berkerudung-mungkin karena tuntutan peraturan sekolah, kelakuan mereka
tidak beda dengan para remaja pada umumnya yang tidak menutup auratnya. Dari
awal aku sudah tidak yakin akan bisa menjaga diriku sendiri. Aku takut terbawa
arus kenakalan mereka.
Benar saja, akhirnya yang aku takutkan terjadi. Aku
terseok diantara batu-batu yang kutapaki. Aku yang awalnya berusaha sekuat
tenaga menghindari dan enggan mengikuti langkah mereka akhirnya terhasut juga
oleh bisikan setan. Tanpa ada yang menyuruh, ku ubah penampilanku; seragam yang
seharusnya panjang sampai ke lutut tanpa ragu kupotong menjadi sepinggul.
Kerudng yang awalnya lebar menjular kulipat menjadi kecil. Parahnya, aku mulai
pacaran.
Seiring berjalannya waktu, hari kelulusan akan
segera tiba. Sebentar lagi aku akan meninggalkan bangku SMP. Seperti biasa, di
akhir kelas 3 kegiatan menumpuk mulai dari les, belajar kelompok, dan segala
hal untuk persiapan menghadapi UN. Semua itu sangat menyita waktuku sehingga
aku memutuskan untuk putus dengan pacarku.
Hari kelulusan pun tiba. Perasaan sedih, bahagia,
cemas, dan lainnya bercampur jadi satu. Sedih karena akan berpisah dengan
teman-temanku, bahgia karena aku lulus , dan bisa melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Setamat dari SMP, orang tuaku memasukkanku ke
Ma’had. Menurut mereka, ini keputusan yang terbaik, apalagi melihat kelakuanku
yang semakin hari semakin tak karuan.
Di Ma’had, aku menemukan suasana kehidupan yang
berbeda. Lantunan dzikir dan bacaan Al-Qur’an senantiasa menghiasi lisan-lisan
penghuni yang haus ilmu. Di situlah aku sekarang, Allah membukakkan pintu
hidayahnya bagiku. Pelajaran dan nasihat yang aku dengar sering menjadi
tamparan dan seolah ditujukan padaku. Dari situ kucoba membuka cakrawala
kehidupan baruku. Kucoba melangkah meski perlahan diiringi bait doa yang
senantiasa mengalir dan nasihat yang selalu tertanam dalam hati dan pikiranku.
Namun hanya berbekal ilmu saja tidak cukup. Selama
itu butuh keistiqomahan. Karena seorang alim pun pasti akan mengalami
kemerosotan iman. Apalagi manusia lemah seperti diriku. Seiring waktu,
kehidupanku di Ma’had seperti tanpa makna. Prinsip-prinsip yang kupegang
semenjak pertama menginjakkna kaki di Ma’had seketika terbang tertiup angin.
Berawal dari seorang teman yang menyampaikan padaku kalau ada seorang ikhwan
yang menitip salam untukku. Pada awalnya kutanggapi biasa saja. Tapi lambat laun
hal itu merasuki pikiran dan hatiku. Wajah di ikhwan selalu terbayang di
benakku. Hingga pada suatu hari, lewat temanku aku balas salamnya. Tanpa
kuketahui ternyata temanku mengatakan pada si ikhwan bahwa aku pun menaruh hati
padanya…
Karena aku di Ma’had, aku tidak bisa leluasa bertemu
dengan ikhwan. Entah mengapa rasa rindu pada si ikhwan terus membayangi
hidupku. Aku selalu sibuk mencari informasi tentang dirinya. Ya Allah, aku sada
ini tidak sehat. Ia bukan siapa-siapa bagiku. Mengapa aku harus sibuk memikirkan
seseorang yang tidak halal. Tapi sekali lagi aku kalah, hingga kehidupan
pacaran pun kami lalui dibalik tembok ma’had. Kami menutupi hal ini rapat-rapat
dari penghuni Ma’had yang lain. Namun, sepandai-pandainya menutupi bangkai
pasti baunya tercium juga. Hubungan kami tersebar di seantero ma’had dan
akhirnya sampai juga ditelinga ustadzah.
Betapa malunya ketika keburukan itu diketahui oleh
orang lain. Saking malunya aku merasa dunia ini begitu sempit. Aku seperti
orang paling hina diantara penghuni yang lain. Tapi begitulah kenyataanya. Di
hadapan salah satu ustadzah aku menangis mengakui kesalahan dan menyesali
perbuatanku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Seperti air hujan yang terserap bumi, perjanjian dan
penyesalan yang sempat terucap hilang tak berbekas. Aku dan dia masih menjalin
hubungan. Namun Allah masih menyayangiku. Allah lebih berkuasa atas diriku.
Suatu hari aku menemukan sehelai kertas yang akhirnya membuka pintu
kesadaranku. Sehelai kertas itu bertuliskan, “begitu anggunnya ketika seorang
muslimah berjalan di bumi dengan rasa malu, penuh tawadhu, dan senantiasa
ghadul bashar.” Aku terhenyak. Tak terasa bulir air mata membasahi pipiku. Ya Allah, betapa tidak punya malunya aku.
Auratku tertutup rapat tapi tak ada bedanya dengan mereka yang mmengumbar
aurat. Bukannya menundukkan pandangan, justru aku berikhtilat dengan lelaki
yang bukan mahram. Seakan tidak ada artinya diriku sebagai wanita muslimah.
Dari teguran lewat secari kertas itu aku mencoba
untuk membenahi diri. Aku berjanji akan menjaga kehormatanku. Cukup ini yang
terakhir kali. Aku selalu berdoa semoga Allah memberiku keistiqamahan dalam
menjalankan syariatNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar