Selasa, 04 Februari 2014

Ketika Keistiqomahan Diuji



Ada sebuah cerita dari salah satu hamba Allah, sebut saja dia lala..
 
Saat itu aku sedang mengalami masa remaja yang orang bilang masa puber.seperti anak remaja pada umumnya, aku belum mengenak mana yang baik dan mana yang buruk. Selama tidak merugikan diriku semuanya aku anggap baik. Sampai akhirnya kau terperosok dalam lubang kemaksiatan.

Di bangku kelas 2 SMP semuanya bermula. Tak ada yang menyangka bahwa aku akan menjadi sepperti itu. Saat pertama kali menapakkan kaki di sekolah itu aku merasa ragu. Penampilan para siswa di sana hamper tidak layak disebut anak sekolahan. Tidak hanya anak putra, tapi juga anak putrid. Meskipun berkerudung-mungkin karena tuntutan peraturan sekolah, kelakuan mereka tidak beda dengan para remaja pada umumnya yang tidak menutup auratnya. Dari awal aku sudah tidak yakin akan bisa menjaga diriku sendiri. Aku takut terbawa arus kenakalan mereka.


Benar saja, akhirnya yang aku takutkan terjadi. Aku terseok diantara batu-batu yang kutapaki. Aku yang awalnya berusaha sekuat tenaga menghindari dan enggan mengikuti langkah mereka akhirnya terhasut juga oleh bisikan setan. Tanpa ada yang menyuruh, ku ubah penampilanku; seragam yang seharusnya panjang sampai ke lutut tanpa ragu kupotong menjadi sepinggul. Kerudng yang awalnya lebar menjular kulipat menjadi kecil. Parahnya, aku mulai pacaran.

Seiring berjalannya waktu, hari kelulusan akan segera tiba. Sebentar lagi aku akan meninggalkan bangku SMP. Seperti biasa, di akhir kelas 3 kegiatan menumpuk mulai dari les, belajar kelompok, dan segala hal untuk persiapan menghadapi UN. Semua itu sangat menyita waktuku sehingga aku memutuskan untuk putus dengan pacarku.

Hari kelulusan pun tiba. Perasaan sedih, bahagia, cemas, dan lainnya bercampur jadi satu. Sedih karena akan berpisah dengan teman-temanku, bahgia karena aku lulus , dan bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setamat dari SMP, orang tuaku memasukkanku ke Ma’had. Menurut mereka, ini keputusan yang terbaik, apalagi melihat kelakuanku yang semakin hari semakin tak karuan.

Di Ma’had, aku menemukan suasana kehidupan yang berbeda. Lantunan dzikir dan bacaan Al-Qur’an senantiasa menghiasi lisan-lisan penghuni yang haus ilmu. Di situlah aku sekarang, Allah membukakkan pintu hidayahnya bagiku. Pelajaran dan nasihat yang aku dengar sering menjadi tamparan dan seolah ditujukan padaku. Dari situ kucoba membuka cakrawala kehidupan baruku. Kucoba melangkah meski perlahan diiringi bait doa yang senantiasa mengalir dan nasihat yang selalu tertanam dalam hati dan pikiranku.

Namun hanya berbekal ilmu saja tidak cukup. Selama itu butuh keistiqomahan. Karena seorang alim pun pasti akan mengalami kemerosotan iman. Apalagi manusia lemah seperti diriku. Seiring waktu, kehidupanku di Ma’had seperti tanpa makna. Prinsip-prinsip yang kupegang semenjak pertama menginjakkna kaki di Ma’had seketika terbang tertiup angin. Berawal dari seorang teman yang menyampaikan padaku kalau ada seorang ikhwan yang menitip salam untukku. Pada awalnya kutanggapi biasa saja. Tapi lambat laun hal itu merasuki pikiran dan hatiku. Wajah di ikhwan selalu terbayang di benakku. Hingga pada suatu hari, lewat temanku aku balas salamnya. Tanpa kuketahui ternyata temanku mengatakan pada si ikhwan bahwa aku pun menaruh hati padanya…

Karena aku di Ma’had, aku tidak bisa leluasa bertemu dengan ikhwan. Entah mengapa rasa rindu pada si ikhwan terus membayangi hidupku. Aku selalu sibuk mencari informasi tentang dirinya. Ya Allah, aku sada ini tidak sehat. Ia bukan siapa-siapa bagiku. Mengapa aku harus sibuk memikirkan seseorang yang tidak halal. Tapi sekali lagi aku kalah, hingga kehidupan pacaran pun kami lalui dibalik tembok ma’had. Kami menutupi hal ini rapat-rapat dari penghuni Ma’had yang lain. Namun, sepandai-pandainya menutupi bangkai pasti baunya tercium juga. Hubungan kami tersebar di seantero ma’had dan akhirnya sampai juga ditelinga ustadzah.

Betapa malunya ketika keburukan itu diketahui oleh orang lain. Saking malunya aku merasa dunia ini begitu sempit. Aku seperti orang paling hina diantara penghuni yang lain. Tapi begitulah kenyataanya. Di hadapan salah satu ustadzah aku menangis mengakui kesalahan dan menyesali perbuatanku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Seperti air hujan yang terserap bumi, perjanjian dan penyesalan yang sempat terucap hilang tak berbekas. Aku dan dia masih menjalin hubungan. Namun Allah masih menyayangiku. Allah lebih berkuasa atas diriku. Suatu hari aku menemukan sehelai kertas yang akhirnya membuka pintu kesadaranku. Sehelai kertas itu bertuliskan, “begitu anggunnya ketika seorang muslimah berjalan di bumi dengan rasa malu, penuh tawadhu, dan senantiasa ghadul bashar.” Aku terhenyak. Tak terasa bulir air mata membasahi pipiku.  Ya Allah, betapa tidak punya malunya aku. Auratku tertutup rapat tapi tak ada bedanya dengan mereka yang mmengumbar aurat. Bukannya menundukkan pandangan, justru aku berikhtilat dengan lelaki yang bukan mahram. Seakan tidak ada artinya diriku sebagai wanita muslimah. 

Dari teguran lewat secari kertas itu aku mencoba untuk membenahi diri. Aku berjanji akan menjaga kehormatanku. Cukup ini yang terakhir kali. Aku selalu berdoa semoga Allah memberiku keistiqamahan dalam menjalankan syariatNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar