Nikmat yang Allah berikan saat Adam dan hawa masih
di Jannah sangatlah berlimpah. Semua makanan dihalalkan dan hanya satu yang
Allah haramkan. Yaitu suatu pohon tertentu yang ada di Jannah. Orang sering
mengatakan pohon tersebut adalah pohon khuldi. Padahal itu hanyalah sebutan
setan untuk pohon tersebut guna menggoda Adam.
Tipu daya licik iblis dengan menamai pohon tersebut
sebagai pohon kekekalan berhasil menggugah rasa penasaran hawa. Hawa pun
mempengaruhi Adam dan akhirnya keduanya melanggar larangan Allah. Tak
ayal, Allah pun murka kepada dua insan
pertama di dunia ini. Begitu memakan buah tersebut, aurat Adam dan Hawa
tersingkap dan keduanya diusir dari Jannah. Hukuman yang mereka terima
sangatlah berat, namun itu wajar mengingat banyaknya nikmat yang mereka terima
dan betapa sedikitnya larangan Allah atasnya. Kisah ini diulang berkali-kali
dalam al-Qur’an. Itu berarti ada banyak himah dan pelajaran yang terkandung
didalamnya. Salah satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah tersebut
adalah hubungan erat antara aurat dan murka Allah. Tidaklah kita pernah
bertanya, mengapa setelah Adam dan Hawa melanggar larangan Allah tersebut efek
pertama yang mereka rasakan adalah tersingkapnya aurat sampai mereka kelimpungan
mencari dedaunan surga untuk menutupinya.
Syaikh Bin Baz memiliki analisis menarik. Beliau
menafsirkan bahwa salah satu tanda kemurkaan Allah pada seorang hamba adalah
ketika si hamba dibiarkan suka mengumbar auratnya, baik lelaki terlebih lagi wanita.
Beliau berkata, “Telanjangnya seorang wanita adalah indikasi murka Allah atas
dirinya. Dalilnya adalah ketika Allah murka terhadapa Adam dan Hawa, Allah
membuka aurat keduanya hingga keduanya bersegera menutupinya dengan dedaunan
surga. Allah berfirman, “..dan keduanya
pun berusaha menutupi auratnya dengan dedaunan Jannah..” (QS. Al-A’raf: 22)
Adam dan Hawa segera memetik dedaunan surga dan
menempelkan di tubuh mereka. Itu artinya, ketika murka Allah bertambah pada
seorang wanita, wanita tersebut akan semakin menampakkan auratnya. Allah
berfirman:
“Hai anak Adam,
janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah
mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Jannah, ia menanggalkan dari keduanya
pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya..” (QS. Al-A’raf: 27)
Nah muslimah sekalian, kerapatan pakaian anda dapat
menjadi salah satu indikasi dari maqom atau kedudukan anda di hadapan Allah.
Semakin berani membuka aurat, semakin besarlah murka Allah. Sebaliknya, semakin
tertutup aurat dan semakin sesuai syar’i cara berpakaian anda, semakin kecillah
indikasi murka Allah atas anda. Begitulah secara umum indikasi cinta dan murka
Allah pada seorang hamba dapat dilihat dari beberapa banyak Allah mengaruniakan
hidayah amal kepadanya. Yaitu hidayah atau petunjuk untuk menaati perintah dan
menjauhi larangan-Nya. Semakin besar pelita hidayah menyala, makin besar
pulalah keikhlasan dan keistiqomahannya. Dan makin besar pula cinta Allah
kepadanya. Semakin redup pelita hidayah yang ada di hatinya, semakin sedikitlah
amal-amal shalih yang dikerjakan dan makin kecil pula cinta Allah kepadanya.
Dan pada tahap yang lebih paraha, ketika cahayanya benar-benar sirna dan ia
mulai melupakan Allah, Allah pun akan melupakannya. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu
seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa
kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Bagi wanita, hijab merupakan indikasi hidayah paling
nyata. Meskipun, hijab hanyalah salah satu kewajiban diantara sekian kewajiban
dan kebajikan lain. Seseeorang bisa saja berkata, “toh saya masih bisa masuk
surga dengan melaksanakan kewajiban lain meski tidak berjilbab. Sebagaimana
yang berjilbab rapat juga masih bisa masuk neraka karena dosa lain, misalnya
selalu complain dengan pemberian suaminya. Atau lebih dari itu, bukankah wanita
berjilbab juga ada yang berzina?”
Memang benar, hijab hanyalah salah amal shalih dari
sekian banyak amal shalih yang ada. Tidak berjilbab juga hanya merupakan satu
dosa dari sekian jenis dosa yang ada. Bukan jaminan pula bahwa ketika seorang
muslimah mengenakan jilbab, lantas bisa dipastikan ia selamat dari neraka dan
masuk surga. Sebagaimana halnya yang muslimah yang tidak berjilbab juga belum
tentu masuk neraka karena bisa jadi Allah menyelamatkannya dengan amalan lain.
Sekali lagi, ini semua benar adanya. Tapi coba kita renungkan, jika ada seorang
wanita berjilbab yang berzina, berapa kalikah ia mampu berzina dalam sehari??
Sekali, dua kali? Pasti tidak mampu ratusan kali. Dan jika ada wanita yang
mengkufuri suaminya, dalam sehari berapa kalikah ia kuat mengomel dan komplain?
Sekarang bandingkan dengan wanita yang tidak
berjlbab alias membuka auratnya di hadapan lelaki lain. Setiap detik yang ia
lewati, ada dosa pamer aurat yang tercatat di buku amalnya. Setiap kali kerumah
dengan belahan kaki, dada dan rambut yang terbuka, ada dosa yang mengiringi
seiring dengan pandangan para lelaki yang menikmati ‘pertunjukannya’. Jika ia
seorang istri yang selalu bersabar dan menerima pemberian suami tapi tak
berjilbab, ia telah berkhianat atas suaminya setiap kali ada lelaki lain yang
melihat auratnya.
Jika begini, masihkah kita akan berpikir masih bisa
masuk Jannah dengan cara lain? Jalan surgaa seorang muslimah adalah beriman,
berjilbab, dan beramal shaleh. Beriman dan berjilbab adalah dua ketaatan yang
mutlak harus dilaksanakan. Adapun amal shalih selain amalan wajib, bisa saja
setiap orang memiliki pilihan dan kemudahan masing-masing. Soal jaminan masuk
jannah dan selamat dari neraka, tidak ada yang bisa menjamin selain Allah. Yang
sudah berjilbab posisinya masih sama-sama belum pasti sebagaimana wanita yang
tidak berjilbab. Hanya saja perbandingannya adalah: jika yang sudah berusaha
berjilbab rapat saja belum pasti selamat, apalagi yang mengumbar aurat?
Wallahua’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar