Minggu, 09 Februari 2014

Aurat Semakin Terbuka, Semakin Dimurka



Nikmat yang Allah berikan saat Adam dan hawa masih di Jannah sangatlah berlimpah. Semua makanan dihalalkan dan hanya satu yang Allah haramkan. Yaitu suatu pohon tertentu yang ada di Jannah. Orang sering mengatakan pohon tersebut adalah pohon khuldi. Padahal itu hanyalah sebutan setan untuk pohon tersebut guna menggoda Adam.


Tipu daya licik iblis dengan menamai pohon tersebut sebagai pohon kekekalan berhasil menggugah rasa penasaran hawa. Hawa pun mempengaruhi Adam dan akhirnya keduanya melanggar larangan Allah. Tak ayal,  Allah pun murka kepada dua insan pertama di dunia ini. Begitu memakan buah tersebut, aurat Adam dan Hawa tersingkap dan keduanya diusir dari Jannah. Hukuman yang mereka terima sangatlah berat, namun itu wajar mengingat banyaknya nikmat yang mereka terima dan betapa sedikitnya larangan Allah atasnya. Kisah ini diulang berkali-kali dalam al-Qur’an. Itu berarti ada banyak himah dan pelajaran yang terkandung didalamnya. Salah satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari kisah tersebut adalah hubungan erat antara aurat dan murka Allah. Tidaklah kita pernah bertanya, mengapa setelah Adam dan Hawa melanggar larangan Allah tersebut efek pertama yang mereka rasakan adalah tersingkapnya aurat sampai mereka kelimpungan mencari dedaunan surga untuk menutupinya.

Syaikh Bin Baz memiliki analisis menarik. Beliau menafsirkan bahwa salah satu tanda kemurkaan Allah pada seorang hamba adalah ketika si hamba dibiarkan suka mengumbar auratnya, baik lelaki terlebih lagi wanita. Beliau berkata, “Telanjangnya seorang wanita adalah indikasi murka Allah atas dirinya. Dalilnya adalah ketika Allah murka terhadapa Adam dan Hawa, Allah membuka aurat keduanya hingga keduanya bersegera menutupinya dengan dedaunan surga. Allah berfirman, “..dan keduanya pun berusaha menutupi auratnya dengan dedaunan Jannah..” (QS. Al-A’raf: 22)

Adam dan Hawa segera memetik dedaunan surga dan menempelkan di tubuh mereka. Itu artinya, ketika murka Allah bertambah pada seorang wanita, wanita tersebut akan semakin menampakkan auratnya. Allah berfirman: 

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Jannah, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya..” (QS. Al-A’raf: 27)

Nah muslimah sekalian, kerapatan pakaian anda dapat menjadi salah satu indikasi dari maqom atau kedudukan anda di hadapan Allah. Semakin berani membuka aurat, semakin besarlah murka Allah. Sebaliknya, semakin tertutup aurat dan semakin sesuai syar’i cara berpakaian anda, semakin kecillah indikasi murka Allah atas anda. Begitulah secara umum indikasi cinta dan murka Allah pada seorang hamba dapat dilihat dari beberapa banyak Allah mengaruniakan hidayah amal kepadanya. Yaitu hidayah atau petunjuk untuk menaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Semakin besar pelita hidayah menyala, makin besar pulalah keikhlasan dan keistiqomahannya. Dan makin besar pula cinta Allah kepadanya. Semakin redup pelita hidayah yang ada di hatinya, semakin sedikitlah amal-amal shalih yang dikerjakan dan makin kecil pula cinta Allah kepadanya. Dan pada tahap yang lebih paraha, ketika cahayanya benar-benar sirna dan ia mulai melupakan Allah, Allah pun akan melupakannya. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Bagi wanita, hijab merupakan indikasi hidayah paling nyata. Meskipun, hijab hanyalah salah satu kewajiban diantara sekian kewajiban dan kebajikan lain. Seseeorang bisa saja berkata, “toh saya masih bisa masuk surga dengan melaksanakan kewajiban lain meski tidak berjilbab. Sebagaimana yang berjilbab rapat juga masih bisa masuk neraka karena dosa lain, misalnya selalu complain dengan pemberian suaminya. Atau lebih dari itu, bukankah wanita berjilbab juga ada yang berzina?”

Memang benar, hijab hanyalah salah amal shalih dari sekian banyak amal shalih yang ada. Tidak berjilbab juga hanya merupakan satu dosa dari sekian jenis dosa yang ada. Bukan jaminan pula bahwa ketika seorang muslimah mengenakan jilbab, lantas bisa dipastikan ia selamat dari neraka dan masuk surga. Sebagaimana halnya yang muslimah yang tidak berjilbab juga belum tentu masuk neraka karena bisa jadi Allah menyelamatkannya dengan amalan lain. Sekali lagi, ini semua benar adanya. Tapi coba kita renungkan, jika ada seorang wanita berjilbab yang berzina, berapa kalikah ia mampu berzina dalam sehari?? Sekali, dua kali? Pasti tidak mampu ratusan kali. Dan jika ada wanita yang mengkufuri suaminya, dalam sehari berapa kalikah ia kuat mengomel dan komplain?

Sekarang bandingkan dengan wanita yang tidak berjlbab alias membuka auratnya di hadapan lelaki lain. Setiap detik yang ia lewati, ada dosa pamer aurat yang tercatat di buku amalnya. Setiap kali kerumah dengan belahan kaki, dada dan rambut yang terbuka, ada dosa yang mengiringi seiring dengan pandangan para lelaki yang menikmati ‘pertunjukannya’. Jika ia seorang istri yang selalu bersabar dan menerima pemberian suami tapi tak berjilbab, ia telah berkhianat atas suaminya setiap kali ada lelaki lain yang melihat auratnya.

Jika begini, masihkah kita akan berpikir masih bisa masuk Jannah dengan cara lain? Jalan surgaa seorang muslimah adalah beriman, berjilbab, dan beramal shaleh. Beriman dan berjilbab adalah dua ketaatan yang mutlak harus dilaksanakan. Adapun amal shalih selain amalan wajib, bisa saja setiap orang memiliki pilihan dan kemudahan masing-masing. Soal jaminan masuk jannah dan selamat dari neraka, tidak ada yang bisa menjamin selain Allah. Yang sudah berjilbab posisinya masih sama-sama belum pasti sebagaimana wanita yang tidak berjilbab. Hanya saja perbandingannya adalah: jika yang sudah berusaha berjilbab rapat saja belum pasti selamat, apalagi yang mengumbar aurat? Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar