Jumat, 14 Februari 2014

Persiapkan Diri Lahir Kembali



Dari tanah manusia pertama tercipta. Dari sperma yang menjijikkan proses anak adam bermula. Kemudian lahir dalam keadaan lemah tak berdaya, tidak pula mengerti apa-apa. Namun saat menginjak dewasa, tiba-tiba sebagian besar mereka menjadi penentang pencipta-Nya. Tidak mau tunduk aturan yang digariskan oleh-Nya, namun merasa mampu mencari jalan yang membahagiakan dirinya tanpa bimbingan-Nya. Mengira bahwa mereka dibiarkan hidup begitu saja. Tanpa diawasi pencipta-Nya dan tidak pula dimintai tanggung jawab atas segala tindakan yang pernah dilakukannya.
Lahir kembali itu pasti. Bahkan diantara manusia yang ingkar berkata, “mana mungkin manusia yang telah mati dan telah menjadi tulang belulang akan dibangkitkan kembali?” . inilah kesombongan yang terbungkus oleh kebodohan yang nyata. Allah telah menunjukkan kebodohan mereka, dan menyebut mereka melupakan kejadian awalnya. Allah berfirman, “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?.. katakanlah, ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali pertama.” (QS. Yasin: 78-79)
Ini merupakan bantahan sangat telak dari Allah untuk mereka. Yang mengandung jawaban sempurna, menegakkan hujjah yang nyata dan telah mematahkan kerancuan berfikir mereka. Meeka lupa bagaimana kejadian awal dirinya. Apakah mereka tidak berfikir, Allah yang kuasa menciptakan manusia pertama kali. Maka Allah kuasa pula mengembalikan manusia ke wujud aslinya meski setelah menjadi tulang-belulang yang berantakan.

Imam Abu Dawud dan al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Abu Razin al-Aqli, “Aku bertanya, wahai Rasulullah bagaimana Allah mengembalikan makhluk seperti semula? Manakah bukti mengenai hal itu dalam ciptaan-Nya?” . Beliau menjawab, “pernahkah kamu melewati lembah kaummua yang tandus, kemudian kamu melewatinya lagi telah berubah menjadi hijau?” . ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “itulah Kekuasaan Allah dalam kekuasaanNya.” (HR. Abu Dawud dan Baihaqi). Sungguh perumpamaan yang gambling. Kita lihat tanah yang gersang tak ada tumbuhan maupun tanaman. Lalu setelah turun hujan tanah itu dipenuhi oleh tanaman  seperti musim hujan yang telah berlalu ditahun-tahun sebelumnya. Adapula biji-biji tanaman yang tertahan didalam tanah, ketika tersiram air hujan akhirnya menjadi hidup kembali menjadi tanaman seperti sebelumnya.

Allah menegaskan dalam firman-Nya, “dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (QS. Fathir: 9)

Maka Allah yang mampu menghidupkan tanaman setelah matinya, Allah kuasa pula menghidupkan manusia setelah matinya. Seperti tanaman-tanaman yang tumbuh setelah turunnya hujan, begitulah manusia nanti dilahirkan kembali di akhirat. Jika tanaman akan tumbuh kembali karena biji-bijian atau sesuatu yang tersisa darinya, maka manusia juga akan tumbuh kembali dari sesuatu yang tersisa dari tubuhnya. Yakni ajbu adz-dzanab atau tulang ekor. Mari kita hayati, bagaimana prose situ terjadi.
Hari kiamat ditandai dengan tiupan sangkakala pertama, maka menjadi luluhlantaklah alam semesta. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan, tak lagi tersisa nyawa binatang, jin dan manusia. Hingga berlalu beberapa lama yang disebutkan dalam hadits bahwa jeda antara tiupan pertama dan kedua adalah ‘arba’un’ , yakni empat puluh. Hanya saja perawi tidak mengetahui satuannya; 40 hari, bulan atau tahun. Rasulullah bersabda :

“Jeda antara tiupan pertama dan kedua adalah empat puluh.” (HR. Bukhari)

Ketika itu orang-orang bertanya kepada Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits itu, “apakah yang dimaksud adalah empat puluh hari?”, beliau berkata, “aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “apakah empat puluh tahun?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu.” (HR. Bukhari)

Ketika itu, Allah mengawali tanda-tanda kehiduoan dengan turunnya hujan. Rasulullah bersabda: “Kemudian Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu (jasad-jasad) mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Jasad manusia akan hancur kecuali satu tulang yaitu ‘adbu adz-dzanab’. Dari tulang itulah manusia akan tumbuh kembali pada hari kiamat.”

Al-Imam An-Nawawi ra berkata dalam Syarah Muslim, “Ajbu adz-dzanab adalah tulang yang sangat kecil, terletak dibagian bawah tulang ekor dan dia adalah ujungnya. Tulang itulah yang pertama kali tercipta dari anak keturunan Adam, dan yang akan tetap ada (tidak hancur) sehingga dibangkitkan darinya.”

Maka tatkala hujan telah turun, sangkakala kedua ditiup sebagai pertanda kehidupan kedua dimulai. Manusia akan bangkit dari kuburnya, seperti tanaman yang tumbuh di musim hujan. Mereka pun menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Nabi saw bersabda:

“lalu ditiuplah sangkakala untuk kali berikutnya, tiba-tiba mereka bangkit dari kuburnya dalam keadaan menanti (apa yang akan terjadi). Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘wahai sekalian manusia! Kemarilah kalian semua menuju Rabb kalian’.” (HR. Muslim)

Pantaslah kita bertanya, kiranya seperti apa saat manusia lahir kembali matinya. Dahulu, saat manusia lahir ke dunia, tak satu pun yang merasa pernah memesan sebelumnya; ingin lahir dari rahim ibu yang mana dan ingin memiliki fisik setampan apa. Akan tetapi, ketika di dunia ini, manusia bisa memesan dan berusaha, ingin seperti apa ia lahir untuk kali kedua setelah matinya. Yakni saat manusia dibangkitkan lagi dari kuburnya, dan mereka akan dibalas sesuai amal usahanya. Saat itu, manusia lahir kembali dengan rupa yang berbeda-beda; ada yang dibangkitkan dalam keadaan cacat, ada pula yang sempurna fisiknya. Ada yang dibangkitkan dalam keadaan terhormat dan yang dibangkitkan dalam keadaan terhina.

“pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS. Az-Zalzalah: 6)

Maka bukanlah orang yang rugi itu adalah orang yang cacat lahir ke dunia, tapi orang yang rugi sesungguhnya adalah orang yang cacat saat bangkit dari kuburnya, lalu menderita selama di akhiratnya. Cacat dunia hanyalah ujian sementara, sedangkan cacat akhirat adalah derita yang tak ada ujung akhirnya. Akan ada nantinya manusia yang lahir kembali dalam keadaan buta, padahal di dunia dahulu ia bisa melihat dengan kedua matanya. “kemudian akan Kami kumpulkan ia dalam keadaan buta.” (QS. Thaahaa: 124-125)

Bahkan ada lagi yang kondisinya lebih parah dari itu, manusia yang cacat total; buta matanya, bisu mulutnya, dan tuli kedua telinganya. Bahkan mereka berjalan dengan wajahnya sebagai wujud betapa mereka menderita dan terhina. Allah berfirman, “Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak.” (QS. Al-Isra’ : 97)

Berita mengerikan itu membuat para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “wahai Nabi, bagaimana orang kafir bisa digiring (menuju mahsyar) dalam keadaan diseret diatas wajahnya?” Beliau bersabda, “Bukanlah Dzat yang menjadikan dia bisa berjalan diatas kedua kakinya ketika hidup didunia, Dia juga Mahakuasa untuk menjadikannya berjalan diatas wajahnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sekarang pilihannya tergantung kita, apakah ingin lahir kembali di akhirat dalam keadaan sempurna dan terhormat, ataukah rela kelak lahir dalam kondisi cacat dan terhina. Allahumma inna nas’alukal ‘aafiyah fid dunya wal akhirah. (Abu Umar Abdillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar