Mungkin anda pernah berada dalam situasi yang sangat
gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara anda berada di
tengah desak-desakkan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat
mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah
untuk bernapas. Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar
itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia
tatkala pada hari kiamat, hari dimana manusia berdiri di hadapan Allah swt.
“Dan Kami kumpulkan
seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)
Bahkan tak hanya manusia dan jin yang dikumpulkan
kala itu, tapi juga hewan dan binatang. Bayangkan betapa banyak manusia kala
itu, di kumpulkan dalam satu tempat yang sama, sementara mereka dalam keadaan
berdiri. Sedangkan matahari dekat sekali di atas kepala manusia. Rasulullah
bersabda, “ketika itu, matahari didekatkan di atas makhluk dengan jarak satu
mil.” (HR. Muslim).
Sulaiman bin Amir yang meriwayatkan hadits tersebut
berkata, “demi Allah saya tidak tahu makan ‘mil’ yang beliau maksud; apakah mil
dengan pengertian satuan jarak di bumi, atau makna ‘mil’ yang berarti alat yang
dipakai untuk bercelak. Jika sekarang matahari yang konon jaraknya dengan bumi
sejauh 150.000.000 km saja sudah kita rasakan panasnya, bagaimana lagi jika
jaraknya hanya 1 mil saja. Begitu dekat jarak antara matahari di atas manusia.
Sementara manusia tak memakai alas kaki, tak memakai sehelai benangpun di
tubuhnya dan dalam keadaan tidak berkhitan. Di dorong rasa malu yang tinggi,
Aisyah ra bertanya, laki-laki dan perempuan sama wahai Rasulullah? Bagaimana
jika mereka saling lihat satu sama lain?” Rasulullah bersabda :
“Wahai Aisyah, urusan
yang mereka hadapi terlampau besar dari sekedar melihat satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mereka berdiri dalam keadaan demikian selama 50.000
tahun dalam hitungan dunia, dan hanya ada siang saja. Karena sekian lama itu
hanyalah satu hari di akhirat. Suatu kali Rasulullah membaca firman Allah, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik
(menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”
(QS. Al-ma’arij: 4). Lalu beliau bersabda, “bagaimana
kiranya tatkala Allah mengumpulkan kalian sebagaimana mengumpulkan anak panah
dalam kinanah (wadahnya) selama limapuluh ribu tahun kemudian Allah tidak mau
melihat kalian?” (HR. al-Hakim beliau mengatakan shahih, disepakati pula
oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)
Manusia berdesak-desakkan saking banyaknya, terik
matahari membakar kulit manusia yang tanpa pakaian saking dekatnya, kepayahan
tak terperi dirasakan lantaran berdiri begitu lamanya. Rasa haus mencekik
tenggorokan mereka. Tak ada tempat berteduh, tak ada pilihan termpat untuk
bergeser, tak ada waktu untuk duduk apalagi berbaring. Hingga keringat mengucur
dari sekujur tubuh. Terjadilah banjir keringat yang makin menambah penderitaan
manusia. Andai saja manusia bisa pingsan seperi di dunia, tentu ia bisa rehat.
Namun tak lagi berlaku pingsan atau tidur di akhirat. Andai saja manusia ketika
itu bisa terbakar kemudian mati, tentulah segera usai penderitaan. Akan tetapi,
mati tak berlaku lagi setelah kematian di dunia, sedangkan penderitaan bisa
dirasakan dengan ‘sempurna’. Belum lagi mereka masih mengkhawatirkan apa yang
kelak diputuskan Allah atas mereka. Ingin sekali mereka menjadi seperti
binatang yang tidak dimintai pertanggung jawaban. Yang tatkala mereka
dikumoulkan di mahsyar lalu dijadikan tanah oleh Allah, dan selesai sudah
urusan mereka. Demi melihat bagaimana hewan-hewan dijadikan tanah, Allah
mengisahkan tentang mereka, “Alangkah
baiknya sekiranya Aku menjadi tanah.” (QS. An-Naba’; 40)
Mereka merasakan dampaknya sesuai kadar dosa mereka.
Semakin banyak mencicipi dosa di dunia dan tenggelam dalam syahwatnya, maka
semakin dalam ia tenggelam oleh keringat di akhirat. Rasulullah bersabda, “Maka manusia akan tenggelam dalam keringat
sesuai kadar amalnya. Ada yang keringatnya membanjiri hingga mata kakinya, ada
yang tenggelam hingga lututnya, ada yang sampai pinggulnya ada yang benar-benar
tenggelam oleh keringatnya.” Beliau bersabda sembari mengisyaratkan
tangannya ke mulutnya. (HR. Muslim)
Saking banyaknya keringat manusia, maka bumi menjadi
basah karenanya. Bahkan banjir melanda bumi, dimana keringat manusia di telan
bumi hingga kedalaman tujuhpuluh hasta, sementara di atas bumi banjir keringat
mencapai mulut atau bahkan telinga manusia. Dari Abu Hurairah ra bahwa
Rasulullah bersabda, “Manusia berkeringat
pada hari kiamat hingga keringatnya meresap ke dalam bumi sedalam 70 hasta,
sementara mereka tenggelam oleh keringat hingga mencapai telinga.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Maka hakikatnya, setiap satu dosa yang dijamah
manusia, artinya ia sedang menambah kadar keringat di akhirat yang berarti
dirasakannya satu kadar rasa penat. Maka, silahkan manusia bermaksiat sesuai
kadar kepayahan yang ingin di rasakan di akhirat. Balasan di akhirat, setimpal
dengan kadar dosa ataupun taat di dunia. Andai saja kita banyak mengingat hal
ini, tentu dosa akan tercegah. Andai saja hati kita senantiasa terjaga, bahwa
keringat yang mengucur di dunia karena taat bisa meringankan penderitaan di
hari itu, tentulah kita akan bersemangat di dalam taat.
Tak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari
penderitaan itu selain amal kebaikan yang mereka lakukan. Orang-orang mukmin
yang konsisten dengan keimanannya, bagi mereka ada teduhan, ada kemudahan dan
keringanan. Pernah seorang sahabat bertanya, “dimanakan orang-orang mukmin
ketika itu?” Nabi saw menjawab, “Diletakkan untuk mereka kursi-kursi dan
cahaya, lalu awan menaungi atas mereka sehingga hari itu dipendekkan atas
orang-orang mukmin serasa sesaat di siang hari.” (HR. Ibnu Hibban, al-Albani
mengatakan haditsnya Hasan)
Di saat para penghuni mahsyar berada di puncak
kehausan, orang-orang mukmin bisa mendapatkan fasilitas minum di telaganya
Rasulullah. Sebagaimana masing-masing Nabi juga memiliki haudh (telaga) yang
disediakan bagi umatnya yang taat. Di saat yang lain merasa penderitaan yang
terasa sangat-sangat lama, maka hal itu dirasakan ringan oleh orang-orang yang
beriman, terasa singkat pula peristiwa besar yang dijalani. Abdullah bin Amrubin Ash ra meriwayatkan
bahwa Nabi saw bersabda:
“Telagaku (panjang dan
lebarnya) adalah satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu,
aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit,
barang siapa yang minum darinya, ia tak akan merasa haus selamanya.” (HR. Bukhari)
Mereka tidak haus, tidak lapar, dan tidak kepanasan.
Semoga Allah memasukkan kita kedalamnya. Aamiin. (Abu Umar Abdullah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar