Senin, 17 Februari 2014

Tenggelam Dosa di Dunia, Banjir Keringat di Akhirat



Mungkin anda pernah berada dalam situasi yang sangat gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara anda berada di tengah desak-desakkan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah untuk bernapas. Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia tatkala pada hari kiamat, hari dimana manusia berdiri di hadapan Allah swt.
Kelak, setelah manusia dibangkitkan, mereka semua akan digiring ke satu tempat berkumpul (mahsyar) dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan dalam keadaan tidak berkhitan. Tak ada satupun yang tercecer, dari sejak manusia pertama hingga terakhir di bumi, Allah berfirman:

“Dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)

Bahkan tak hanya manusia dan jin yang dikumpulkan kala itu, tapi juga hewan dan binatang. Bayangkan betapa banyak manusia kala itu, di kumpulkan dalam satu tempat yang sama, sementara mereka dalam keadaan berdiri. Sedangkan matahari dekat sekali di atas kepala manusia. Rasulullah bersabda, “ketika itu, matahari didekatkan di atas makhluk dengan jarak satu mil.” (HR. Muslim). 

Sulaiman bin Amir yang meriwayatkan hadits tersebut berkata, “demi Allah saya tidak tahu makan ‘mil’ yang beliau maksud; apakah mil dengan pengertian satuan jarak di bumi, atau makna ‘mil’ yang berarti alat yang dipakai untuk bercelak. Jika sekarang matahari yang konon jaraknya dengan bumi sejauh 150.000.000 km saja sudah kita rasakan panasnya, bagaimana lagi jika jaraknya hanya 1 mil saja. Begitu dekat jarak antara matahari di atas manusia. Sementara manusia tak memakai alas kaki, tak memakai sehelai benangpun di tubuhnya dan dalam keadaan tidak berkhitan. Di dorong rasa malu yang tinggi, Aisyah ra bertanya, laki-laki dan perempuan sama wahai Rasulullah? Bagaimana jika mereka saling lihat satu sama lain?” Rasulullah bersabda :

“Wahai Aisyah, urusan yang mereka hadapi terlampau besar dari sekedar melihat satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka berdiri dalam keadaan demikian selama 50.000 tahun dalam hitungan dunia, dan hanya ada siang saja. Karena sekian lama itu hanyalah satu hari di akhirat. Suatu kali Rasulullah membaca firman Allah, “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (QS. Al-ma’arij: 4). Lalu beliau bersabda, “bagaimana kiranya tatkala Allah mengumpulkan kalian sebagaimana mengumpulkan anak panah dalam kinanah (wadahnya) selama limapuluh ribu tahun kemudian Allah tidak mau melihat kalian?” (HR. al-Hakim beliau mengatakan shahih, disepakati pula oleh adz-Dzahabi dan al-Albani)

Manusia berdesak-desakkan saking banyaknya, terik matahari membakar kulit manusia yang tanpa pakaian saking dekatnya, kepayahan tak terperi dirasakan lantaran berdiri begitu lamanya. Rasa haus mencekik tenggorokan mereka. Tak ada tempat berteduh, tak ada pilihan termpat untuk bergeser, tak ada waktu untuk duduk apalagi berbaring. Hingga keringat mengucur dari sekujur tubuh. Terjadilah banjir keringat yang makin menambah penderitaan manusia. Andai saja manusia bisa pingsan seperi di dunia, tentu ia bisa rehat. Namun tak lagi berlaku pingsan atau tidur di akhirat. Andai saja manusia ketika itu bisa terbakar kemudian mati, tentulah segera usai penderitaan. Akan tetapi, mati tak berlaku lagi setelah kematian di dunia, sedangkan penderitaan bisa dirasakan dengan ‘sempurna’. Belum lagi mereka masih mengkhawatirkan apa yang kelak diputuskan Allah atas mereka. Ingin sekali mereka menjadi seperti binatang yang tidak dimintai pertanggung jawaban. Yang tatkala mereka dikumoulkan di mahsyar lalu dijadikan tanah oleh Allah, dan selesai sudah urusan mereka. Demi melihat bagaimana hewan-hewan dijadikan tanah, Allah mengisahkan tentang mereka, “Alangkah baiknya sekiranya Aku menjadi tanah.” (QS. An-Naba’; 40)

Mereka merasakan dampaknya sesuai kadar dosa mereka. Semakin banyak mencicipi dosa di dunia dan tenggelam dalam syahwatnya, maka semakin dalam ia tenggelam oleh keringat di akhirat. Rasulullah bersabda, “Maka manusia akan tenggelam dalam keringat sesuai kadar amalnya. Ada yang keringatnya membanjiri hingga mata kakinya, ada yang tenggelam hingga lututnya, ada yang sampai pinggulnya ada yang benar-benar tenggelam oleh keringatnya.” Beliau bersabda sembari mengisyaratkan tangannya ke mulutnya. (HR. Muslim) 

Saking banyaknya keringat manusia, maka bumi menjadi basah karenanya. Bahkan banjir melanda bumi, dimana keringat manusia di telan bumi hingga kedalaman tujuhpuluh hasta, sementara di atas bumi banjir keringat mencapai mulut atau bahkan telinga manusia. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda, “Manusia berkeringat pada hari kiamat hingga keringatnya meresap ke dalam bumi sedalam 70 hasta, sementara mereka tenggelam oleh keringat hingga mencapai telinga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka hakikatnya, setiap satu dosa yang dijamah manusia, artinya ia sedang menambah kadar keringat di akhirat yang berarti dirasakannya satu kadar rasa penat. Maka, silahkan manusia bermaksiat sesuai kadar kepayahan yang ingin di rasakan di akhirat. Balasan di akhirat, setimpal dengan kadar dosa ataupun taat di dunia. Andai saja kita banyak mengingat hal ini, tentu dosa akan tercegah. Andai saja hati kita senantiasa terjaga, bahwa keringat yang mengucur di dunia karena taat bisa meringankan penderitaan di hari itu, tentulah kita akan bersemangat di dalam taat.

Tak ada yang bisa menyelamatkan manusia dari penderitaan itu selain amal kebaikan yang mereka lakukan. Orang-orang mukmin yang konsisten dengan keimanannya, bagi mereka ada teduhan, ada kemudahan dan keringanan. Pernah seorang sahabat bertanya, “dimanakan orang-orang mukmin ketika itu?” Nabi saw menjawab, “Diletakkan untuk mereka kursi-kursi dan cahaya, lalu awan menaungi atas mereka sehingga hari itu dipendekkan atas orang-orang mukmin serasa sesaat di siang hari.” (HR. Ibnu Hibban, al-Albani mengatakan haditsnya Hasan)

Di saat para penghuni mahsyar berada di puncak kehausan, orang-orang mukmin bisa mendapatkan fasilitas minum di telaganya Rasulullah. Sebagaimana masing-masing Nabi juga memiliki haudh (telaga) yang disediakan bagi umatnya yang taat. Di saat yang lain merasa penderitaan yang terasa sangat-sangat lama, maka hal itu dirasakan ringan oleh orang-orang yang beriman, terasa singkat pula peristiwa besar yang dijalani.  Abdullah bin Amrubin Ash ra meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:

“Telagaku (panjang dan lebarnya) adalah satu bulan perjalanan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada kesturi, bejananya sebanyak bintang di langit, barang siapa yang minum darinya, ia tak akan merasa haus selamanya.” (HR. Bukhari)

Mereka tidak haus, tidak lapar, dan tidak kepanasan. Semoga Allah memasukkan kita kedalamnya. Aamiin. (Abu Umar Abdullah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar