Senin, 23 Juni 2014

Jangan Sampai menyesal Karena Waktu..!!

Dari Hasan Al-Bashri -Radhiallahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa ia berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:585)

Diantara ungkapan Hasan lainnya: “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit dalam memelihara umurnya daripada menjaga hartanya.” (“Syarhus Sunnah”, karya Al-Baghawi XIV:225)

Termasuk juga ucapan Al-Hasan dalam menasihati para sahabatnya agar mereka bersikap zuhud terhadap dunia dan menggairahkan mereka untuk mengejar akherat, beliau berkata: “Janganlah benda dunia fana yang sedikit ini melenakan dirimu, demikian juga janganlah mengukur-ukur dirimu. Semua itu akan berlalu dengan cepat mengikis umurmu. Kejarlah ajalmu, jangan lagi katakan: “Besok dan besok.” karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabb-mu.” (“Hilyatul Awliyaa” II:140)

Bahaya Riba

Sesungguhnya keberadaan kita di dalam kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah untuk menghambakan diri kepada Allah ta’ala semata. Hal ini sebagaimana Allah nyatakan dengan terang dan gamblang di dalam firman-Nya: 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidaklah menciptkan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah hanya kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)  

Untuk mewujudkan tujuan dan hikmah yang sangat agung dari penciptaan dua makhluk ini, Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya dengan membawa aqidah yang lurus dan syariat yang sempurna agar mereka menyampaikannya kepada umatnya masing-masing. Dan nabi kita, Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah diutus oleh Allah sebagi penutup para nabi dan rasul dengan membawa syariat yang paling sempurna dan adil. Beliau telah menjalankan tugas dakwah yg sangat mulia ini dengan sempurna.

Kamis, 17 April 2014

Dalam Penantian



Sebut saja namaku Nisa. Aku adalah sulung dari 5 bersaudara. Sejak kecil kehidupanku serasa mulus-mulus saja. Orang tuaku mendidikku dengan baik. Aku hidup berkecukupan dalam segala hal. Segala kebutuhan hidup tidak pernah kurasakan ada yang kurang. Hidupku serasa sempurna, dan Alhamdulillah akupun bersykur.

Suatu saat dalam kajian rutin SMA, Murrrobiyahku menjelaskan tentang ujian. Ia menyatakan bahwa ujian yang diberikan kepada seseorang bisa jadi adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya karena bila seseorang lulus dalam ujian yang Allah berikan, ia akan dinaikkan derajatnya. Ketika itu aku merenung sejenak dan bertanya dalam hati, “kenapa hidupku mulus-mulus saja ya?” aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “Mba, kok saya tidak pernah mendapat ujian  yang berat ya? Apakah itu berarti apakah Allah tidak sayang sama saya?” polos dan lugu sekali pertanyaanku itu. Murrobiyahku pun menjelaskan bahwa kelapangan dan kemudahan adalah merupakan ujian. Bisa jadi hal itu justru lebih sulit untuk dilalui manusia. Di saat lapang itu, kita juga harus mempersiapkan bekal keimanan untuk menghadapi ujian.

Sisi Indah Musibah


“karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 19)

Syeikh ath-Thanthawi menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seseorang yang dating ke bandara. Dan ia memiliki tujuan sangat penting dalam perjalanannya. Karena kelelahan, ia tertidur saat menunggu boarding pesawat, sehingga ia tertinggal pesawat yang mengangkut lebih dari 300 penumpang. Tatkala ia terbangun, pesawat baru saja take off. Serasa sesak dadanya karena kecewa dan menyesal. Tapi sejurus kemudian ada berita bahwa pesawat yang rencananya ditumpanginya terjadi kecelakaan sehingga seluruh penumpangnya terbakar. Ketika itu, ia merasa bersyukur karena terhindar dari kecelakaan.

Senin, 07 April 2014

SECERCAH CAHAYA TAUHID ITU MENEMBUS SANUBARIKU



Hidayah ditangan Allah swt. Tiada seorangpun yang mampu menerka hidayah itu berlabuh pada siapa. Juga, tak ada seorang pun yang tahu seberapa lama hidayah itu bersemi di hati. Hari ini seseorang mendapatkan hidayah. Bisa jadi hari berikutnya hidayah itu terlepas. Tercerabut dari dasar hatinya yang terdalam. Jadilah dirinya tersungkur dalam kubangan nan menistakan. Nas’alullaha as-salamah wal’afiyah (kami memohon kepada Allah keselamatan dan afiyah).

Jika Rindu Dia

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan, orang yang tercinta akan rindu kepada orang yang dicintainya. Kerinduan kepada kekasih, sering kali membekaskan duka. Karena sudah tahu pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah jalan satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu member nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox fb atau sms jadi jalur alternative.

Rabu, 12 Maret 2014

Jangan Lambat Untuk Taat Sebelum Nantinya Tak Lagi Sempat



“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata ; wahai Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di bangkitkan.” (QS al-Mukminun : 99-100)

Rabi’ bin Khutsaim, seorang ulama memiliki cara unik untuk mengobati hati yang keras. Beliau membuat galian tanah di rumahnya. Ketika suatu kali beliau rasakan kerasnya hati, beliau masuk keliang tanah itu lalu berbaring beberapa saat. Kemudian beliau membaca ayat, 

“Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.