Senin, 07 April 2014

Jika Rindu Dia

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan, orang yang tercinta akan rindu kepada orang yang dicintainya. Kerinduan kepada kekasih, sering kali membekaskan duka. Karena sudah tahu pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah jalan satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu member nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox fb atau sms jadi jalur alternative.


Inilah yang dialami pemuda masa kini. Mungkin juga di alami para aktivis dakwah.agar dikira tidak melalui pacaran, maka sms dan chatting yang jadi pilihan. Seharusnya rasa rindu ini bias dipendam dengan melakukan beberapa kiat yang akan kamu utarakan. Semoga Allah senantiasa member taufik.
Ikhlas adalah obat manjur penyakit rindu. Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tidak pernah terbetik di hati sebelumnya. Cinta kepada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta lainnya. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik dari pada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang di cintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Cinta yang buruk akan bias dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakan dirinya”

Hati yang tidak ikhlas akan selalu diombang ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta yang memabukkan. Keadaannya tak beda dengan sepotong ranting yang meliuk kesana kemari mengikuti arah angin. 

Setiap doa yang kita panjatkan pasti akan bermanfaat. Boleh jadi doa tersebut segera dikabulkan oleh Allah. Boleh jadi sebagai simpanan di akhirat. Boleh jadi dengan doa kita tadi, Allah akan menghilangkan kejelekan yang semisal. Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri kepadanya tiga hal ; satu, Allah akan segera mengabulkan doanya. Dua, Allah akan menyimoannya baginya di akhirat kelak. Tiga, Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi SAW lantas berkata, “Allahu akbar (Allah Maha Besar).”

Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdoa, merasakan kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Termasuk diantaranya apabila seseorang memohon kepada Allah agar dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan gundah gulana, sedih dan sengsara. Oleh karena itu, perbanyaklah berdoa. Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api. Hingga terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, Nabi SAW memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan agar hati ini tetap terjaga. 

Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan yang Cuma selintas (tidak sengaja).kemudian Rasulullah memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.”

Mujahid mengatakan, “Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah, akan menimbulkan rasa cinta pada Allah. Berarti menahan pandangan dari wanita yang bukan mahram akan menimbulkan rasa cinta kepada Allah. Menundukkan pandangan yang dimaksud di sini ada dua macam yaitu memandang aurat sesame jenis dan memandang wanita yang bukan mahrom.

By Muhammad Abduh Tuasikal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar