“karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 19)
Syeikh
ath-Thanthawi menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seseorang yang dating ke
bandara. Dan ia memiliki tujuan sangat penting dalam perjalanannya. Karena
kelelahan, ia tertidur saat menunggu boarding pesawat, sehingga ia tertinggal
pesawat yang mengangkut lebih dari 300 penumpang. Tatkala ia terbangun, pesawat
baru saja take off. Serasa sesak dadanya karena kecewa dan menyesal. Tapi
sejurus kemudian ada berita bahwa pesawat yang rencananya ditumpanginya terjadi
kecelakaan sehingga seluruh penumpangnya terbakar. Ketika itu, ia merasa
bersyukur karena terhindar dari kecelakaan.
Begitulah,
sering kali seseorang mengalami hal yang tidak disukainya. Ia merasa sedih dan
kecewa. Ia merasa rugi dan kehilangan berbagai hal yang dalam sangkaannya
adalah kebaikan baginya. Namun pada akhirnya, ia tahu bahwa apa yang dialaminya
itu lebih baik baginya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Karena mungkin kamu tidak menyukai
sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’:
19)
Ayat
ini, kendati asbabnya terkait dengan thalaq, akan tetapi sudah menjadi kaidah
yang berlaku umum. Seperti yang disebutkan para ulama, “al-ibrah bi ‘ummumil lafzhi laa bikhushuushis sabab”, ungkapan itu
dilihat dari umum lafal, bukan khususnya sebab. Jadi, banyak kejadian yang
tidak disukai manusia, namun hakikatnya peristiwa itu berlalu beberapa lama.
Seperti
musibah. Tabiat manusia memang tidak menyukai musibah, karena musibah dan
bencana memang memiliki wajah dan penampakan yang buruk. Akan tetapi tentulah
Allah tidak ingin menyengsarakan hamba-Nya dengan musibah itu. Memang bencana
bias berarti siksa bagi para pembangkang dan jumawa dalam berbuat dosa. Namun,
bagi orang yang beriman, musibah adalah ujian yang padanya banyak sekali sisi
kebaikan.
Bias
jadi musibah yang terjadi itu karena Allah mencintainya, sehingga Allah hendak
mengingatkan ia saat alpa dan menjauh dari-Nya. Faktanya, betapa kita sering
lupa saat kondisi lapang dan mudah. Apalagi saat bergelimang dengan
fasilitas-fasilitas dunia, seakan segalanya itu datang secara kebetulan atau
karena kesungguhan dan kehebatan kita. Kita pun lalai terhadap akhirat dan
seakan kita hidup selamanya di dunia. Maka peringatan ini adalah baik bagi kita
dan menjadi isyarat bahwa Allah mencintai kita. Nabis SAW bersabda,
“Sesungguhnya
Allah ketika mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya. Maka barang siapa
ridha, maka Allah pun ridha. Dan barang siapa marah, maka Allah pun murka.”
(HR. tirmidzi)
Bias
jadi pula Allah berkehendak menghapus dosa-dosa kita dengan musibah. Meski
sebenernya setiap manusia pasti mengalami musibah. Tak peduli mukmin maupun
kafir, kaya atau miskin semuanya mendapatkan giliran musibah. Bedanya adalah,
orang-orang mukmin bias berharap kepada Allah, apa yang orang-orang kafir tidak
bias berharap. Allah berfirman,
“Jika kamu menderita kesakitan,
maka sesungguhnya merekapun (orang-orang kafir) menderita kesakitan pula,
sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak
bisa mereka harapkan.” (QS an-Nisa’: 104)
Ya,
kita bisa berharap bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya dengan musibah yang
dialaminya. Rasulullah bersabda,
“Tiada seorang mukmin yang ditimpa
suatu gangguan, semisal duri atau yang lebih kecil lagi, melainkan Allah akan
menghapus kesalahan-kesalahannya dengannya, sebagaimana pohonyang menggugurkan
daunnya.” (HR. Bukhari)
Kita
juga bisa berharap dengan menyertakan zhan yang baik, bahwa ketika kita
mendapatkan musibah dengan hilangnya sesuatu dari kita, maka bisa jadi Allah
hendak memberikan ganti yang lebih baik bagi kita. Maka ini juga baik bagi
kita. Inilah yang tersirat dalam doa yang diajarkan Nabi saat di timpa musibah,
“ya Allah berilah aku pahala dalam
musibah ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Muslim)
Dan
dia atas segala manfaat di atas, bahwa musibah yang diterima dengan kesabaran
membuahkan pahala tanpa batas. Bahkan saking besarnya pahala orang yang
bersabar ketika mendapat musibah, maka kelak para penghuni jannah yang tatkala
di dunia lebih dominan sejahteranya, mereka mengandai sekiranya dahulu ia
diberi bala’ ketika di dunia. Sebagaimana hadits Nabi SAW,
“orang-orang yang banyak sejahtera
(saat di dunia) kelak pada hari kiamat melihat kenikmatan yang diberikan kepada
ahli bala’ (orang yang banyak ditimpa musibah saat di dunia) lalu mereka pun
berandai sekiranya kulit mereka dipenuhi penyakit sewaktu di dunia.” (HR.
Tirmidzi)
Pun
begitu, tidak layak kita berharap dan menantang musibah, dan bahkan permohna
yang layak kita panjatkan adalah “Rabbana
wa laa tuhammilna ma laa thaa qata lanaa bih,” wahai Rabb kami, janganlah
Engkau bebankan kepada kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya, aamiin.
(Abu
Umar Abdillah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar