Kamis, 17 April 2014

Sisi Indah Musibah


“karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 19)

Syeikh ath-Thanthawi menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seseorang yang dating ke bandara. Dan ia memiliki tujuan sangat penting dalam perjalanannya. Karena kelelahan, ia tertidur saat menunggu boarding pesawat, sehingga ia tertinggal pesawat yang mengangkut lebih dari 300 penumpang. Tatkala ia terbangun, pesawat baru saja take off. Serasa sesak dadanya karena kecewa dan menyesal. Tapi sejurus kemudian ada berita bahwa pesawat yang rencananya ditumpanginya terjadi kecelakaan sehingga seluruh penumpangnya terbakar. Ketika itu, ia merasa bersyukur karena terhindar dari kecelakaan.


Begitulah, sering kali seseorang mengalami hal yang tidak disukainya. Ia merasa sedih dan kecewa. Ia merasa rugi dan kehilangan berbagai hal yang dalam sangkaannya adalah kebaikan baginya. Namun pada akhirnya, ia tahu bahwa apa yang dialaminya itu lebih baik baginya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 19)

Ayat ini, kendati asbabnya terkait dengan thalaq, akan tetapi sudah menjadi kaidah yang berlaku umum. Seperti yang disebutkan para ulama, “al-ibrah bi ‘ummumil lafzhi laa bikhushuushis sabab”, ungkapan itu dilihat dari umum lafal, bukan khususnya sebab. Jadi, banyak kejadian yang tidak disukai manusia, namun hakikatnya peristiwa itu berlalu beberapa lama.

Seperti musibah. Tabiat manusia memang tidak menyukai musibah, karena musibah dan bencana memang memiliki wajah dan penampakan yang buruk. Akan tetapi tentulah Allah tidak ingin menyengsarakan hamba-Nya dengan musibah itu. Memang bencana bias berarti siksa bagi para pembangkang dan jumawa dalam berbuat dosa. Namun, bagi orang yang beriman, musibah adalah ujian yang padanya banyak sekali sisi kebaikan. 

Bias jadi musibah yang terjadi itu karena Allah mencintainya, sehingga Allah hendak mengingatkan ia saat alpa dan menjauh dari-Nya. Faktanya, betapa kita sering lupa saat kondisi lapang dan mudah. Apalagi saat bergelimang dengan fasilitas-fasilitas dunia, seakan segalanya itu datang secara kebetulan atau karena kesungguhan dan kehebatan kita. Kita pun lalai terhadap akhirat dan seakan kita hidup selamanya di dunia. Maka peringatan ini adalah baik bagi kita dan menjadi isyarat bahwa Allah mencintai kita. Nabis SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya. Maka barang siapa ridha, maka Allah pun ridha. Dan barang siapa marah, maka Allah pun murka.” (HR. tirmidzi)

Bias jadi pula Allah berkehendak menghapus dosa-dosa kita dengan musibah. Meski sebenernya setiap manusia pasti mengalami musibah. Tak peduli mukmin maupun kafir, kaya atau miskin semuanya mendapatkan giliran musibah. Bedanya adalah, orang-orang mukmin bias berharap kepada Allah, apa yang orang-orang kafir tidak bias berharap. Allah berfirman,

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun (orang-orang kafir) menderita kesakitan pula, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak bisa mereka harapkan.” (QS an-Nisa’: 104)

Ya, kita bisa berharap bahwa Allah mengampuni dosa-dosanya dengan musibah yang dialaminya. Rasulullah bersabda,

“Tiada seorang mukmin yang ditimpa suatu gangguan, semisal duri atau yang lebih kecil lagi, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dengannya, sebagaimana pohonyang menggugurkan daunnya.” (HR. Bukhari)

Kita juga bisa berharap dengan menyertakan zhan yang baik, bahwa ketika kita mendapatkan musibah dengan hilangnya sesuatu dari kita, maka bisa jadi Allah hendak memberikan ganti yang lebih baik bagi kita. Maka ini juga baik bagi kita. Inilah yang tersirat dalam doa yang diajarkan Nabi saat di timpa musibah, 

“ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Muslim)

Dan dia atas segala manfaat di atas, bahwa musibah yang diterima dengan kesabaran membuahkan pahala tanpa batas. Bahkan saking besarnya pahala orang yang bersabar ketika mendapat musibah, maka kelak para penghuni jannah yang tatkala di dunia lebih dominan sejahteranya, mereka mengandai sekiranya dahulu ia diberi bala’ ketika di dunia. Sebagaimana hadits Nabi SAW,

“orang-orang yang banyak sejahtera (saat di dunia) kelak pada hari kiamat melihat kenikmatan yang diberikan kepada ahli bala’ (orang yang banyak ditimpa musibah saat di dunia) lalu mereka pun berandai sekiranya kulit mereka dipenuhi penyakit sewaktu di dunia.” (HR. Tirmidzi)

Pun begitu, tidak layak kita berharap dan menantang musibah, dan bahkan permohna yang layak kita panjatkan adalah “Rabbana wa laa tuhammilna ma laa thaa qata lanaa bih,” wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya, aamiin.

(Abu Umar Abdillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar