“Hingga
apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata ; wahai Rabbku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang
telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di
bangkitkan.” (QS al-Mukminun : 99-100)
Rabi’ bin Khutsaim,
seorang ulama memiliki cara unik untuk mengobati hati yang keras. Beliau membuat
galian tanah di rumahnya. Ketika suatu kali beliau rasakan kerasnya hati,
beliau masuk keliang tanah itu lalu berbaring beberapa saat. Kemudian beliau
membaca ayat,
“Rabbku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang
telah aku tinggalkan.
Setelah itu beliau
bergegas bangun sembari bergumam, “wahai Rabi’, kamu telah dikembalikan lagi,
maka sekarang beramallah kebaikan sebelum nantinya kamu tidak akan dikembalikan
lagi ke dunia. Kelak ketika ajal datang, apa yang akan dinikmati seseorang
hanyalah apa yang telah diusahakan di dunia. Setelah itu, tak ada lagi waktu
perbaikan apalagi pengulangan. Berbeda dengan rumah di dunia, tak masalah jika
seseorang menempati rumah barunya meski belum komplit perkakasnya. Atau bahkan
belum sepenuhnya jadi bangunannya.karena ia bisa menyempurnakannya selagi
sempat dan ada dana. Namun tidak demikian jika datang ajal. Sekali seorang
menempati kubur sebagai rumah barunya, sedikitpun tak mampu lagi ia memperbaiki
rumahnya betapapun ia sangat menginginkannya. Apa yang ia nikmati hanya sejauh
amal yang diusahakannya, bukan sebanyak harta yang dimasukkan ke kuburnya.
Betapa banyak
orang-orang yang telah berada di dalam kubur berangan-angan untuk kembali lagi
ke dunia. Ada beberapa hal yang mereka sesali ; amal saleh yang memungkinkan ia
kerjakan namun tidak ia kerjakan, dan ada perbuatan haram yang seharusnya ia
tinggalkan justru ia melakukannya.
Sekarang kita tengok
masing-masing kita. Adakah jenis ketaatan yang telah kita paham ilmunya,
sebenarnya juga mampu melakukannya, namun kita belum melakukannya. Atau masih
adakah diantara perkara haram yang telah kita ketahui hukumnya, namun kita
belum bersegera meninggalkannya, meski kadang keinginan-keinginan itu ada.
Ataukah kita termasuk
orang yang disindir oleh Ibnu al-Jauzi yang menulis dengan analisa tajamnya
beliau berkata, “Aku merenungkan sebuah makhluk, dan aku tak habis pikir atas
kondisinya yang sangat aneh. Hampir-hampir akalku rusak gara-gara
memikirkannya. Padahal betapa sering ia mendapat nasihat, berkali-kali
diingatkan tentang akhirat. Ia pun juga percaya atas semua itu. Bahkan ada
kalanya ia mengangis, menyesali semua kelalaiannya dan berkomitmen untuk segera
berbenah. Namun, tiba-tiba saja ia menunda komitmennya tersebut.”
Ketika ditanya, “adakah
engkau masih ragu akan janji Allah?” ia menjawab, “tidak, demi Allah aku tidak
ragu.” Lalu tatkala dikatakan kepadanya, “kalau begitu, kerjakan!” maka saat
itu juga ia berniat mengerjakan. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti dan lupa lagi.
Bahkan ia mulai berani mencicipi yang haram meskipun ia tahu bahwa itu sesuatu
yang dilarang.”
Persoalan inilah yang
juga menyebabkan tiga orang sahabat tertinggal dari perang tabuk, padahal
mereka mampu dan tak memiliki alasan apapun. Bahkan mereka menyadari alangkah
buruknya keterlambatan. Seperti itulah kondisi umum orang yang lalai dan
berbuat maksiat. Bedanya, para sahabat itupun berusaha bertaubat meski harus
menempuh ujian dahsyat dan tekanan yang hebat, sebelum akhirnya Allah menerima
taubat mereka.
Ibnu al-Jauzi
melanjutkan renungannya kenapa seseorang yang telah memiliki keyakinan yang
benar, namun lambat merespon tuntutannya. Beliau katakan, ada tiga faktor
penyebabnya.
Pertama, melihat atau
memikirkan hal-hal yang terlarang. Hal ini akan membuang-buang waktu dari
memikirkan sesuatu yang bermanfaat.
Yang kedua,
menunda-nunda taubat. Orang yang berakal pasti akan selalu mawas diri dari
segala penyebab keterlambatan. Barang kali ajal datang menjemputnya, sementara
ia belum sempat bertaubat. Maka sangat mengherankan kalau ada orang yang sudi
menyerahkan nyawanya sebelum waktunya. Ia tak sungguh-sungguh dalam beramal. Padahal
ia tahu bahwa nafsu hanya akan memperpanjang angan-angan.
Rasulullah bersabda, “Bersegeralah melakukan amalan shalih
sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang
pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada
pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir.
Ia menjual agamanya sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim)
Yang ketiga, menganggap
mudah datangnya rahmat. Sehingga seorang pelaku maksiat merasa aman dan berkata
dalam hati, “Ah, Allah Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.” Dan saat itu ia lupa,
bahwa azab-Nya pun amat keras.
Allah berfirman, “Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa
sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa
sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS al-Hijr : 49-50)
Orang yang merespon
sifat rahmat Allah sebagai alasan untuk memperbanyak alasan hanyalah para
pembangkan yang sengaja mengundang kemurkaan-Nya. Adapun rahmat Allah itu ‘qariibun minal muhsiniin’ dekat dengan
orang-orang yang berbuat baik.
Semoga Allah menjadikan
kita sebagai orang yang bersegera dalam ketaatan dan jauh dari kemaksiatan. Aamiin.
(Abu Umar Abdillah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar