Rabu, 12 Maret 2014

Jangan Lambat Untuk Taat Sebelum Nantinya Tak Lagi Sempat



“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata ; wahai Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di bangkitkan.” (QS al-Mukminun : 99-100)

Rabi’ bin Khutsaim, seorang ulama memiliki cara unik untuk mengobati hati yang keras. Beliau membuat galian tanah di rumahnya. Ketika suatu kali beliau rasakan kerasnya hati, beliau masuk keliang tanah itu lalu berbaring beberapa saat. Kemudian beliau membaca ayat, 

“Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.

Setelah itu beliau bergegas bangun sembari bergumam, “wahai Rabi’, kamu telah dikembalikan lagi, maka sekarang beramallah kebaikan sebelum nantinya kamu tidak akan dikembalikan lagi ke dunia. Kelak ketika ajal datang, apa yang akan dinikmati seseorang hanyalah apa yang telah diusahakan di dunia. Setelah itu, tak ada lagi waktu perbaikan apalagi pengulangan. Berbeda dengan rumah di dunia, tak masalah jika seseorang menempati rumah barunya meski belum komplit perkakasnya. Atau bahkan belum sepenuhnya jadi bangunannya.karena ia bisa menyempurnakannya selagi sempat dan ada dana. Namun tidak demikian jika datang ajal. Sekali seorang menempati kubur sebagai rumah barunya, sedikitpun tak mampu lagi ia memperbaiki rumahnya betapapun ia sangat menginginkannya. Apa yang ia nikmati hanya sejauh amal yang diusahakannya, bukan sebanyak harta yang dimasukkan ke kuburnya.

Betapa banyak orang-orang yang telah berada di dalam kubur berangan-angan untuk kembali lagi ke dunia. Ada beberapa hal yang mereka sesali ; amal saleh yang memungkinkan ia kerjakan namun tidak ia kerjakan, dan ada perbuatan haram yang seharusnya ia tinggalkan justru ia melakukannya.

Sekarang kita tengok masing-masing kita. Adakah jenis ketaatan yang telah kita paham ilmunya, sebenarnya juga mampu melakukannya, namun kita belum melakukannya. Atau masih adakah diantara perkara haram yang telah kita ketahui hukumnya, namun kita belum bersegera meninggalkannya, meski kadang keinginan-keinginan itu ada.

Ataukah kita termasuk orang yang disindir oleh Ibnu al-Jauzi yang menulis dengan analisa tajamnya beliau berkata, “Aku merenungkan sebuah makhluk, dan aku tak habis pikir atas kondisinya yang sangat aneh. Hampir-hampir akalku rusak gara-gara memikirkannya. Padahal betapa sering ia mendapat nasihat, berkali-kali diingatkan tentang akhirat. Ia pun juga percaya atas semua itu. Bahkan ada kalanya ia mengangis, menyesali semua kelalaiannya dan berkomitmen untuk segera berbenah. Namun, tiba-tiba saja ia menunda komitmennya tersebut.”

Ketika ditanya, “adakah engkau masih ragu akan janji Allah?” ia menjawab, “tidak, demi Allah aku tidak ragu.” Lalu tatkala dikatakan kepadanya, “kalau begitu, kerjakan!” maka saat itu juga ia berniat mengerjakan. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti dan lupa lagi. Bahkan ia mulai berani mencicipi yang haram meskipun ia tahu bahwa itu sesuatu yang dilarang.”

Persoalan inilah yang juga menyebabkan tiga orang sahabat tertinggal dari perang tabuk, padahal mereka mampu dan tak memiliki alasan apapun. Bahkan mereka menyadari alangkah buruknya keterlambatan. Seperti itulah kondisi umum orang yang lalai dan berbuat maksiat. Bedanya, para sahabat itupun berusaha bertaubat meski harus menempuh ujian dahsyat dan tekanan yang hebat, sebelum akhirnya Allah menerima taubat mereka.

Ibnu al-Jauzi melanjutkan renungannya kenapa seseorang yang telah memiliki keyakinan yang benar, namun lambat merespon tuntutannya. Beliau katakan, ada tiga faktor penyebabnya.

Pertama, melihat atau memikirkan hal-hal yang terlarang. Hal ini akan membuang-buang waktu dari memikirkan sesuatu yang bermanfaat.

Yang kedua, menunda-nunda taubat. Orang yang berakal pasti akan selalu mawas diri dari segala penyebab keterlambatan. Barang kali ajal datang menjemputnya, sementara ia belum sempat bertaubat. Maka sangat mengherankan kalau ada orang yang sudi menyerahkan nyawanya sebelum waktunya. Ia tak sungguh-sungguh dalam beramal. Padahal ia tahu bahwa nafsu hanya akan memperpanjang angan-angan.

Rasulullah bersabda, “Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim)

Yang ketiga, menganggap mudah datangnya rahmat. Sehingga seorang pelaku maksiat merasa aman dan berkata dalam hati, “Ah, Allah Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.” Dan saat itu ia lupa, bahwa azab-Nya pun amat keras.

Allah berfirman, “Kabarkan kepada hamba-hambaKu, bahwa sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS al-Hijr : 49-50)

Orang yang merespon sifat rahmat Allah sebagai alasan untuk memperbanyak alasan hanyalah para pembangkan yang sengaja mengundang kemurkaan-Nya. Adapun rahmat Allah itu ‘qariibun minal muhsiniin’ dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. 

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang bersegera dalam ketaatan dan jauh dari kemaksiatan. Aamiin. (Abu Umar Abdillah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar