Kamis, 17 April 2014

Dalam Penantian



Sebut saja namaku Nisa. Aku adalah sulung dari 5 bersaudara. Sejak kecil kehidupanku serasa mulus-mulus saja. Orang tuaku mendidikku dengan baik. Aku hidup berkecukupan dalam segala hal. Segala kebutuhan hidup tidak pernah kurasakan ada yang kurang. Hidupku serasa sempurna, dan Alhamdulillah akupun bersykur.

Suatu saat dalam kajian rutin SMA, Murrrobiyahku menjelaskan tentang ujian. Ia menyatakan bahwa ujian yang diberikan kepada seseorang bisa jadi adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya karena bila seseorang lulus dalam ujian yang Allah berikan, ia akan dinaikkan derajatnya. Ketika itu aku merenung sejenak dan bertanya dalam hati, “kenapa hidupku mulus-mulus saja ya?” aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “Mba, kok saya tidak pernah mendapat ujian  yang berat ya? Apakah itu berarti apakah Allah tidak sayang sama saya?” polos dan lugu sekali pertanyaanku itu. Murrobiyahku pun menjelaskan bahwa kelapangan dan kemudahan adalah merupakan ujian. Bisa jadi hal itu justru lebih sulit untuk dilalui manusia. Di saat lapang itu, kita juga harus mempersiapkan bekal keimanan untuk menghadapi ujian.


Waktu pun bergulir, hari berlalu, bulan berganti, dan tahun pun bergulir. Selepas SMA, aku kuliah di sebuah PTN di kota Atlas, seperti sebelumnya, hidupku pun mulus tanpa hambatan berarti. Masalah-masalah kecil kadang muncul, tetapi selalu bisa kuatasi dengan baik.

Tiga tahun masa kuliah berlalu. Tak terasa hari wisuda semakin dekat. Akupun mulai merencanakan kehidupan setelah lulus kuliah. Aku mantap dengan langsung menikah setelah lulus. Semua itu demi menjaga hati dan kehormatanku yang selama ini susah payah aku jaga. Selama ini banyak pria yang menyukaiku, tapi aku tidak pernah tertarik untuk berpacaran. Alhamdulillah, Allah selalu menjagaku dari pergaulan dengan lawan jenis. Aku yakin bahwa manusia diciptakan Allah berpasang-pasangan dan laki-laki baik adalah untuk wanita yang baik. Aku pun semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik, memantaskan diri untuk menjadi pendamping seorang”rojulun shalih”.

Suatu hari murrabiyahku mendekatiku dan mengatakan ada hal yang penting yang perlu dibicarakan. Aku penasaran, tak seperti biasanya ia mengajakku bicara seserius ini. Setelah menyampaikan beberapa pembuka, beliau akhirnya menanyakan kesiapanku untuk menikah. Aku sempat terkejut ketika pertanyaan itu ditanyakan kepadaku. Beliaupun menuturkan bahwa ada seorang ikhwan sedang mencari calon istri. Ia pun menanyakan kesiapan ta’aruf dengannya. Aku tidak menyangka akan ditawari secepat itu. Sejenak aku diam, berfikir, dalam hati aku bergumama, mungkin inilah jalan dari Allah atas harapan dan cita-citaku. Dengan malu-malu aku iyakan permintaannya.

Qadarullah, karena suatu hal, proses ta’aruf yang kami jalani gagal di tengah jalan. Aku menanggapinya biasa saja dan yakin suatu saat Allah akan menggantikan yang jauh lebih baik darinya.

Beberapa bulan setelahnya, hari terindah bagi seorang mahasiswa pun tiba. Senang rasanya melihat orang tua bisa senyum bangga, apalagi ketika aku berdiri di depan panggung yang megah menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik. Tak lama setelah lulus, aku bekerja di sebuah instansi swasta. Tak terasa hari-hari telah beranjak pergi. Di tengah kesibukanku dengan rutinitas pekerjaan, aku pun teringat dengan keinginanku untuk menikah.. Gayungpun bersambut, suatu hari aku dihubungi oleh teman lamaku. Tanpa basa basi dia menawarkan kepadaku untuk dikenalkan dengan seorang ikhwan. Apalagi orang tuaku juga sudah berharap aku segera menikah dan memberikan mereka cucu yang lucu.

Dalam hitungan hari setelahnya, kutrima biodata ikhwan. Kubaca profilnya, akupun shalat istikharah untuk meminta petunjuk Allah. Satu hal yang ku ingat bahwa ada larangan untuk menolak lamaran seorang laki-laki sholeh. Jika ditolak tanpa alas an syar’I maka akan menimbulkan fitnah.

Setelah kuselidiki lebih jauh, menurut informasi yang dapat dipercaya ikhwan ini adalah seorang yang baik dan sholeh dan ini sudah cukup bagiku. Tak lama kemudian, kusampaikan hal ini kepada orang tuaku. Di luar dugaan, orang tuaku menolak. Mereka tidak setuju karena dianggap pekerjaannya kurang mapan. Aku berusaha memahamkannya tentang konsep pernikahan seperti apa yang aku inginkan, tapi mereka tetap tidak setuju. Ya, walaupun kecewa tapi aku berusaha menerima keputusan orang tua. Aku mencoba memahami bahwa orang tua pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Akupun mencoba untuk tetap berkhuznudzan pada Allah.

Dan sekarang, usiaku hamper menginjak kepala tiga. Tujuh kali sudah proses ta’aruf sudah aku jalani,. Dan sebanyak itu pula Allah menguji kesabaranku. Qadarullah, semua prose situ harus berhenti di tengah jalan dengan sebab yang sangat bermacam-macam. Hingga kini Allah belum berkenan untuk melabuhkan perahuku pada sebuah dermaga. Terakhir, aku berproses dengan seorang ikhwan,. Dua hari setelah ikhwan datang berkhitbah kerumah, aku diberi kabar bahwa orang tua ikhwan mendadak tidak menyetujui pernikahan kami. Padahal, rencana pernikahan sudah dipersiapkan sedetailnya. Pada pukulan pertama, terasa sangat sakit sekali, tapi kini aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Kadang tanpa aku sadari, rasa iri menyelinap ke dalam relung hati. Hamper semua teman sebayaku sudah berkeluarga. Bahkan sudah dikaruniai beberapa anak. Sebagai seorang manusia biasa kadang aku merasa lelah dengan ujian ini. Tapi beruntunglah karena aku dikelilingi oleh teman-teman yang selalu menguatkan kesabaranku, mengingatkanku dikala aku lemah dan hampir berputus asa.

Kita merenung dan bermuhasabah, aku teringat kembali dengan pertanyaan yang aku lontarkan lebih dari 10 tahun yang lalu, “mengapa Allah belum mengujiku?” dan kini telah kutemukan jawabannya. Aku merasa bahwa hari-hari berat yang sedang kujalani ini mungkin adalah bentuk kasih sayang Allah kepadaku. Di saat-saat inilah aku merasa lebih dekat dengan Allah, mengadu, mengiba, dan memohon pada-Nya dalam sujudku.

Teruntuk saudari-saudariku yang tengah menantikan kehadiran tambatan hatinya di batas waktu, mari bersabar dan terus kuatkan ikhtiar dalam perjalanan panjang mencari tambatan hati.

1 komentar:

  1. Casino News | News, Videos, Reviews - Oklahoma City
    An overview and a list of upcoming events happening 슬롯 게임 in the Casino at Oklahoma City, 포커 하는 법 Oklahoma. Address: 3440 S. Cedar Street, Suite 180, 벳 인포 Tulsa mom 먹튀 OK 토토커뮤니티 85226

    BalasHapus