Senin, 07 April 2014

SECERCAH CAHAYA TAUHID ITU MENEMBUS SANUBARIKU



Hidayah ditangan Allah swt. Tiada seorangpun yang mampu menerka hidayah itu berlabuh pada siapa. Juga, tak ada seorang pun yang tahu seberapa lama hidayah itu bersemi di hati. Hari ini seseorang mendapatkan hidayah. Bisa jadi hari berikutnya hidayah itu terlepas. Tercerabut dari dasar hatinya yang terdalam. Jadilah dirinya tersungkur dalam kubangan nan menistakan. Nas’alullaha as-salamah wal’afiyah (kami memohon kepada Allah keselamatan dan afiyah).

Demikianlah keadaan seseorang. Allah swt membolak-balikkan hati manusia sesuai kehendak-Nya. Tiada yang mampu untuk mencegah atau mengatur. Semuanya atas kehendak-Nya. Rasulullah saw menggambarkan keadaan yang demikian melalui sabdanya yang artinya, “Sungguh, qalbu-qalbu manusia seluruhnya berada diantara dua jari jemari Ar-rahman. Seperti hati seseorang yang dipalingkan ke arah yang Dia kehendaki.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah yang membolak-balikkan qalbu, palingkanlah qalbu kami atas ketaatan terhadap-Mu.” (HR. Muslim)

Alkisah, ada seorang pria. Tubuhnya masih tegap. Usia pun belumlah dipandang tua. Namun begitu, ia telah sekian lama hidup tiada membujang lagi. Kehidupan keluarganya bisa di kata cukup bahagia. Harta tiadalah kurang, bahkan terasa berlebih. Gaya hidup glamor tersirat pada penampilannya. Membuang uang adalah kebiasaan sehari hari. Duduk bercengkramabersama teman-temannya seraya ditemani minuman keras adalah hal biasa. Tak Cuma itu, seringkali justru dirinya yang memotivasi orang lain untuk meneggak minuman haram itu.

Berkubang pada dunia hitam adalah lahan pergulatannya setiap hari. Sehingga tak ada yang mengira bila dirinya pernah menjadi seorang santri di salah satu pondok pesantren terbesar di tanah nyiur melambai ini. Namun, itulah hidupnya. Entah dari mana bermula hingga ia terperosok ke dunia nan membinasakan. Kata-kata bijak yang diajarkan sang ustadz di pesantrennya dulu seakan tiada melekat. Jangankan melekat, mempir sejenak pun mungkin tiada pernah.

Ia terguncang. Karena keadaan hatinya teramat kering kerontang. Kekokohan iman tak tumbuh menyubur di dalam qalbunya. Sehingga, terseretlah ia menjadi manusia oleng yang tiada tentu arah hidupnya. Tiada lagi memperdulikan agama. Bahkan, tiada lagi memperdulikan dirinya. Benar-benar hidup dalam pekat melekat kuat. Ditambah lagi kegemarannya mengoleksi barang-barang unik. Barang-barang dari orang yang katanya di anggap pintar. Entah barang itu berbentuk pecut, lembaran uang dengan nomor seri unik, kulit harimau, dan lainnya. Barang-barang itu sedemikian banyak di simpandan diletakkan di tempat-tempat tertentu. Harapannya, dengan beragam jimat itu dirinya menjadi orang yang sakti mandraguna, sukses usaha, selalu diatas kejayaan. Benar-benar ia digantungkan hidupnya pada benda-benda yang apabila dihinggapi lalat niscaya benda-benda itu tak mampu mengusirnya. Sungguh, hidupnya terpasung dengan benda mati. Orang hidup dikendalikan benda mati. Aneh.

Entah, sudah berapa orang pintar yang ia datangi. Sudah berapa orang pula yang diikuti petuah sesatnya. Pun, berapa tempat pula ia ziarahi dalam rangka meraup kesuksesan hidup. Semedi, puasa, shalat, dzikir, wirid yang tak ada tuntutannya dari Rasulullah saw dia amalkan. Semua itu dalam upaya memuaskan kehendak hawa nafsunya, menjadi manusia serba sukses dan digdaya. Hebat.

“saya baru hidup dua bulan ini.” Katanya membuka obrolan. Semenjak sebelum bulan ramadhan saya bertekad untuk mengakhiri kebiasaan maksiat. Tekad itu pun dijalaninya. Secara kontras ia merubah kebiasaan buruknya. Perubahan yang begitu drastis menjadikan sekian banyak relasinya diliputi penuh tanda tanya. Heran, tak habis pikir. Takjub.

Perubahannya tak semata dalam perilaku. Bahkan, cara berpakaian dan tampilan lahiriah lainnya pun turut berubah. Dulu, pakaian santai gaya anak muda. Ngoboy. Kini, tampilannya lebih menunjukkan syiar keislaman. Lebih agamis. Karenanya, tak sedikit yang memanggilnya dengan sebutan ‘pak haji’. Begitulah setelah pertobatan itu dijalaninya.

Tak sekedar itu, beragam jimat yang dimiliki pun termasuk yang dimusnahkan. Apalagi setelah dirinya mendengar wejangan dari seorang ustadz sunni salafi yang mengupas masalah tauhid dan memberantas kesyirikan. Sontak hatinya terkulai. Seakan jantungnya dirobek bayonet terhunus. Ia lemas. Berdiri bulu kuduknya mendengar penjelasan yang begitu benderang gamblang. Jimat-jimat yang ia letakkan di berbagai penjuru toko, langsung dimusnahkan. “enyahkan dari toko!” perintahkan pada karyawan toko. Tak sepatutnya benda-benda itu dijadikan sandaran. Benda-benda itu tidak bisa menolak bala, tiada pula mendatangkan kebaikan. Hanya Allah sajalah yang dijadikan tempat berserah diri dan memohon pertolongan. Genderang perang melawan kesyirikan telah ia tabuh. Panji-panji tauhid telah ia pancangkan. Semoga Allah senantiasa memberikan sikap istiqamah. Allah swt berfirman :

“Katakanlah, terangkanlah kepadaku tentang apa-apa yang kalian seru selain Allah. Jika Allah menghendaki untuk menimpakan suatu bahaya kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bahaya itu. Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku,apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya? Katakanlah, cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS Az-Zumar : 38)

Allah sat memberikan keutamaan kepada pemeluk tauhid. Itu dijelaskan melalui firman-Nya, “orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentreman (keamanan) dan mereka itulah orang-orang yang menempati jalan hidayah.” (QS Al-An’am : 82)

Kini, setelah secercah cahaya tauhid itu menembus sanubari, kehidupannya penuh dengan rasa nikmat. Hatinya menjadi tenang. Gairah hidup pun menyala. Masa kelam itu telah pudar. Lembaran baru kehidupan terasa putih bersih. Tanda keberkahan itu berada di sisinya. Untuk menjaga agar hidayah itu tiada sirna, teman seiring pun ia pilih. Yak sembarang orang pantas ia pergauli. Tak semua orang ia akrabi. Hanya orang-orang yang akan memberi pengaruh kebaikan yang akan ia dekati. Sesungguhnya, pertemanan itu sangat memberi pengaruh terhadap keadaan agama seseorang.
Ia telah menjadi seorang muhajir (pelaku hijrah). Berhijrah dari keburukan ke kebaikan. Dari alam hiatam pekat ke alam terang benderan penuh cahaya berbinar. Dari kesyirikan ke tauhid. Dari kemaksiatan ke ketaatan terhadap Rabbnya. Dari kebid’ahan ke cahaya as-sunnah nan sarat kemuliaan. Semoga Allah swt meneguhkan hamba-hamba-Nya yang senantiasa beramal semata mengharap melihat wajah-Nya. Aamiin.

Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar