Hidayah
ditangan Allah swt. Tiada seorangpun yang mampu menerka hidayah itu berlabuh
pada siapa. Juga, tak ada seorang pun yang tahu seberapa lama hidayah itu
bersemi di hati. Hari ini seseorang mendapatkan hidayah. Bisa jadi hari
berikutnya hidayah itu terlepas. Tercerabut dari dasar hatinya yang terdalam.
Jadilah dirinya tersungkur dalam kubangan nan menistakan. Nas’alullaha
as-salamah wal’afiyah (kami memohon kepada Allah keselamatan dan afiyah).
Demikianlah
keadaan seseorang. Allah swt membolak-balikkan hati manusia sesuai
kehendak-Nya. Tiada yang mampu untuk mencegah atau mengatur. Semuanya atas
kehendak-Nya. Rasulullah saw menggambarkan keadaan yang demikian melalui
sabdanya yang artinya, “Sungguh, qalbu-qalbu
manusia seluruhnya berada diantara dua jari jemari Ar-rahman. Seperti hati
seseorang yang dipalingkan ke arah yang Dia kehendaki.” Kemudian Rasulullah
saw bersabda, “Ya Allah yang
membolak-balikkan qalbu, palingkanlah qalbu kami atas ketaatan terhadap-Mu.”
(HR. Muslim)
Alkisah,
ada seorang pria. Tubuhnya masih tegap. Usia pun belumlah dipandang tua. Namun
begitu, ia telah sekian lama hidup tiada membujang lagi. Kehidupan keluarganya
bisa di kata cukup bahagia. Harta tiadalah kurang, bahkan terasa berlebih. Gaya
hidup glamor tersirat pada penampilannya. Membuang uang adalah kebiasaan sehari
hari. Duduk bercengkramabersama teman-temannya seraya ditemani minuman keras
adalah hal biasa. Tak Cuma itu, seringkali justru dirinya yang memotivasi orang
lain untuk meneggak minuman haram itu.
Berkubang
pada dunia hitam adalah lahan pergulatannya setiap hari. Sehingga tak ada yang
mengira bila dirinya pernah menjadi seorang santri di salah satu pondok
pesantren terbesar di tanah nyiur melambai ini. Namun, itulah hidupnya. Entah
dari mana bermula hingga ia terperosok ke dunia nan membinasakan. Kata-kata
bijak yang diajarkan sang ustadz di pesantrennya dulu seakan tiada melekat.
Jangankan melekat, mempir sejenak pun mungkin tiada pernah.
Ia
terguncang. Karena keadaan hatinya teramat kering kerontang. Kekokohan iman tak
tumbuh menyubur di dalam qalbunya. Sehingga, terseretlah ia menjadi manusia
oleng yang tiada tentu arah hidupnya. Tiada lagi memperdulikan agama. Bahkan,
tiada lagi memperdulikan dirinya. Benar-benar hidup dalam pekat melekat kuat.
Ditambah lagi kegemarannya mengoleksi barang-barang unik. Barang-barang dari
orang yang katanya di anggap pintar. Entah barang itu berbentuk pecut, lembaran
uang dengan nomor seri unik, kulit harimau, dan lainnya. Barang-barang itu
sedemikian banyak di simpandan diletakkan di tempat-tempat tertentu.
Harapannya, dengan beragam jimat itu dirinya menjadi orang yang sakti
mandraguna, sukses usaha, selalu diatas kejayaan. Benar-benar ia digantungkan
hidupnya pada benda-benda yang apabila dihinggapi lalat niscaya benda-benda itu
tak mampu mengusirnya. Sungguh, hidupnya terpasung dengan benda mati. Orang
hidup dikendalikan benda mati. Aneh.
Entah,
sudah berapa orang pintar yang ia datangi. Sudah berapa orang pula yang diikuti
petuah sesatnya. Pun, berapa tempat pula ia ziarahi dalam rangka meraup
kesuksesan hidup. Semedi, puasa, shalat, dzikir, wirid yang tak ada tuntutannya
dari Rasulullah saw dia amalkan. Semua itu dalam upaya memuaskan kehendak hawa
nafsunya, menjadi manusia serba sukses dan digdaya. Hebat.
“saya
baru hidup dua bulan ini.” Katanya membuka obrolan. Semenjak sebelum bulan
ramadhan saya bertekad untuk mengakhiri kebiasaan maksiat. Tekad itu pun
dijalaninya. Secara kontras ia merubah kebiasaan buruknya. Perubahan yang begitu
drastis menjadikan sekian banyak relasinya diliputi penuh tanda tanya. Heran,
tak habis pikir. Takjub.
Perubahannya
tak semata dalam perilaku. Bahkan, cara berpakaian dan tampilan lahiriah
lainnya pun turut berubah. Dulu, pakaian santai gaya anak muda. Ngoboy. Kini,
tampilannya lebih menunjukkan syiar keislaman. Lebih agamis. Karenanya, tak
sedikit yang memanggilnya dengan sebutan ‘pak haji’. Begitulah setelah
pertobatan itu dijalaninya.
Tak
sekedar itu, beragam jimat yang dimiliki pun termasuk yang dimusnahkan. Apalagi
setelah dirinya mendengar wejangan dari seorang ustadz sunni salafi yang
mengupas masalah tauhid dan memberantas kesyirikan. Sontak hatinya terkulai.
Seakan jantungnya dirobek bayonet terhunus. Ia lemas. Berdiri bulu kuduknya
mendengar penjelasan yang begitu benderang gamblang. Jimat-jimat yang ia
letakkan di berbagai penjuru toko, langsung dimusnahkan. “enyahkan dari toko!”
perintahkan pada karyawan toko. Tak sepatutnya benda-benda itu dijadikan
sandaran. Benda-benda itu tidak bisa menolak bala, tiada pula mendatangkan
kebaikan. Hanya Allah sajalah yang dijadikan tempat berserah diri dan memohon
pertolongan. Genderang perang melawan kesyirikan telah ia tabuh. Panji-panji
tauhid telah ia pancangkan. Semoga Allah senantiasa memberikan sikap istiqamah.
Allah swt berfirman :
“Katakanlah, terangkanlah kepadaku
tentang apa-apa yang kalian seru selain Allah. Jika Allah menghendaki untuk
menimpakan suatu bahaya kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bahaya itu.
Atau jika Allah menghendaki untuk melimpahkan suatu rahmat kepadaku,apakah
mereka mampu menahan rahmat-Nya? Katakanlah, cukuplah Allah bagiku. Hanya
kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS Az-Zumar : 38)
Allah
sat memberikan keutamaan kepada pemeluk tauhid. Itu dijelaskan melalui
firman-Nya, “orang-orang yang beriman dan
tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah
orang-orang yang mendapat ketentreman (keamanan) dan mereka itulah orang-orang
yang menempati jalan hidayah.” (QS Al-An’am : 82)
Kini,
setelah secercah cahaya tauhid itu menembus sanubari, kehidupannya penuh dengan
rasa nikmat. Hatinya menjadi tenang. Gairah hidup pun menyala. Masa kelam itu
telah pudar. Lembaran baru kehidupan terasa putih bersih. Tanda keberkahan itu
berada di sisinya. Untuk menjaga agar hidayah itu tiada sirna, teman seiring
pun ia pilih. Yak sembarang orang pantas ia pergauli. Tak semua orang ia
akrabi. Hanya orang-orang yang akan memberi pengaruh kebaikan yang akan ia
dekati. Sesungguhnya, pertemanan itu sangat memberi pengaruh terhadap keadaan
agama seseorang.
Ia
telah menjadi seorang muhajir (pelaku hijrah). Berhijrah dari keburukan ke
kebaikan. Dari alam hiatam pekat ke alam terang benderan penuh cahaya berbinar.
Dari kesyirikan ke tauhid. Dari kemaksiatan ke ketaatan terhadap Rabbnya. Dari
kebid’ahan ke cahaya as-sunnah nan sarat kemuliaan. Semoga Allah swt meneguhkan
hamba-hamba-Nya yang senantiasa beramal semata mengharap melihat wajah-Nya.
Aamiin.
Ustadz
Abu Faruq Ayip Syafruddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar