Kamis, 17 April 2014

Sisi Indah Musibah


“karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS an-Nisa’: 19)

Syeikh ath-Thanthawi menyebutkan suatu kisah, bahwa ada seseorang yang dating ke bandara. Dan ia memiliki tujuan sangat penting dalam perjalanannya. Karena kelelahan, ia tertidur saat menunggu boarding pesawat, sehingga ia tertinggal pesawat yang mengangkut lebih dari 300 penumpang. Tatkala ia terbangun, pesawat baru saja take off. Serasa sesak dadanya karena kecewa dan menyesal. Tapi sejurus kemudian ada berita bahwa pesawat yang rencananya ditumpanginya terjadi kecelakaan sehingga seluruh penumpangnya terbakar. Ketika itu, ia merasa bersyukur karena terhindar dari kecelakaan.

Senin, 07 April 2014

SECERCAH CAHAYA TAUHID ITU MENEMBUS SANUBARIKU



Hidayah ditangan Allah swt. Tiada seorangpun yang mampu menerka hidayah itu berlabuh pada siapa. Juga, tak ada seorang pun yang tahu seberapa lama hidayah itu bersemi di hati. Hari ini seseorang mendapatkan hidayah. Bisa jadi hari berikutnya hidayah itu terlepas. Tercerabut dari dasar hatinya yang terdalam. Jadilah dirinya tersungkur dalam kubangan nan menistakan. Nas’alullaha as-salamah wal’afiyah (kami memohon kepada Allah keselamatan dan afiyah).

Jika Rindu Dia

Tak bisa disangkal, manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan, orang yang tercinta akan rindu kepada orang yang dicintainya. Kerinduan kepada kekasih, sering kali membekaskan duka. Karena sudah tahu pacaran bukanlah jalan yang halal untuk ditempuh, maka nikahlah jalan satu-satunya yang jadi pilihan. Padahal si pria belum mampu member nafkah lahir. Wanita pun masih muda dan dituntut oleh orang tua untuk menyelesaikan sekolah atau meraih gelar. Akhirnya, karena tidak kesampaian untuk nikah, maka pacaran terselubung sebagai jalan keluar karena tidak kuat menahan rasa rindu pada si dia. Lewat chatting, inbox fb atau sms jadi jalur alternative.

Rabu, 12 Maret 2014

Jangan Lambat Untuk Taat Sebelum Nantinya Tak Lagi Sempat



“Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata ; wahai Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di bangkitkan.” (QS al-Mukminun : 99-100)

Rabi’ bin Khutsaim, seorang ulama memiliki cara unik untuk mengobati hati yang keras. Beliau membuat galian tanah di rumahnya. Ketika suatu kali beliau rasakan kerasnya hati, beliau masuk keliang tanah itu lalu berbaring beberapa saat. Kemudian beliau membaca ayat, 

“Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.

Kamis, 27 Februari 2014

Membangun Tangga-Tangga Menuju Surga

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu (al Fajr 27-30)

Kudengar ayat itu dari murobbiyah pertamaku di waktu SMP. Seorang mahasiswi tingkat pertama yang rajin sekali berbagi di hadapanku pada hari Jum’at. Pembawaannya yang ceria dan suka bercerita membuatku jatuh cinta padanya. Kefasihannya dalam membaca Al Qur’an adalah sumber kerinduan untuk berjumpa dengannya.

Dialah yang mengajakku untuk menunaikan dua ibadah sunnah yang utama, Dhuha dan Tahajjud. Dialah yang mengingatkanku tentang pentingnya berbakti kepada kedua orang tua. Dialah yang tak malu-malu menasihatiku untuk tidak berpacaran. Dialah yang menuntunku untuk menjauhi hal-hal yang meragukan.

Seluruh ajakan, pengingatan, nasihat, dan tuntunan yang telah dia berikan membuatku mengerti tugasku yang sebenarnya di dunia ini. Tugas yang telah melekat sejak dulu hingga kelak aku menghadapNya: menjadi hamba Allah yang berjiwa tenang. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu telah kubangun melalui lisan dan perilakunya!

Ternyata, pembangunan tangga-tangga menuju surga tak berhenti. Terus berlanjut hingga aku berada di SMA. Murobbiyahku berganti. Dia amat berbeda dengan murobbiyahku yang dulu. Lebih tegas, namun tetap lembut. Lagi-lagi, kefasihannya dalam membaca Alquran membuatku kagum. Kehadirannya dalam pertemuan pekanan nyaris tak pernah tergantikan. Padahal, dia juga seorang aktivis dakwah kampus yang padat dengan berbagai kesibukan dan agenda.

Pada sebuah kesempatan, dia mengulas ayat ini:
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
(at Taubah 24)

Seketika kutersentak. Baru kutahu, ternyata cinta kepada Allah, Rasul, dan Jihad harus didahulukan daripada cinta-cinta yang lain. Alhamdulillah, aku menyadari itu lewat perantaraannya.

Melalui lisannya, dia menyemangatiku untuk mulai berdakwah di jalanNya. Melalui teladannya, dia mengajakku untuk menjadi da’iyah yang profesional dan berwawasan luas. Melalui semangatnya, dia menyeruku untuk teguh menapaki jalan dakwah ini.

Lisannya, teladannya, semangatnya adalah bahan untuk membangun pondasi kecintaanku terhadap jalan dakwah. Hingga saat ini, aku masih mencintai jalan ini dan berusaha untuk teguh menapakinya meski tertatih. Sungguh, tangga-tangga menuju surga itu semakin meninggi lantaran seruanmu kepadaku untuk meninggikan kalimat Ilahi! []

Penulis : Ayu Novita Pramesti
Depok

Tiga Bulan Tidak Mampu Memandang Wajah Suami

Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Senin, 17 Februari 2014

Tenggelam Dosa di Dunia, Banjir Keringat di Akhirat



Mungkin anda pernah berada dalam situasi yang sangat gerah, matahari memancarkan sinarnya yang panas, sementara anda berada di tengah desak-desakkan dengan banyaknya manusia di sekitar kita. Peluh keringat mengucur deras, tenaga serasa terkuras dan tenggorokan serasa kering dan susah untuk bernapas. Tetapi, separah apapun yang pernah kita alami dan kita dengar itu semua tidak sebanding dengan apa yang kelak dialami oleh banyak manusia tatkala pada hari kiamat, hari dimana manusia berdiri di hadapan Allah swt.