Sabtu, 25 Oktober 2014

Masuk Surga atau Neraka Melalui Persahabatan


SEORANG sahabat bisa lebih baik dan lebih
dekat dari pada saudara atau keluarga,
sahabat juga bisa menjadi seorang yang lebih
jahat dari pada penjahat sekalipun. Itu semua
tergantung bagaimana cara kita berteman, dan
teman seperti apa yang kita pilih.

Islam selalu menuntun kita kepada hal yang
baik. Dalam hal persahabatan juga, pertama
dalam hal niat kita diperintahkan untuk
meniatkan dalam persahabatan hanya untuk
menggapai ridho Allah, bukan untuk
kepentingan pribadi atau golongan. Dan
sebagai contoh adalah persahabatan antara
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para
sahabat-sahabatnya.

Coba renungkan ayat berikut:
ﺎَّﻟِﺇ ٌّﻭُﺪَﻋ ٍﺾْﻌَﺒِﻟ ْﻢُﻬُﻀْﻌَﺑ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ ُﺀﺎَّﻠِﺧَﺄْﻟﺍ َﻦﻴِﻘَّﺘُﻤْﻟﺍ
Artinya : “Teman-teman akrab pada hari itu
sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian
yang lain kecuali orang-orang yang
bertakwa,” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat diatas: Dua
sahabat yang didasari oleh iman dan dua
sahabat yang didasari kekufuran.
Setelah salah seorang dari sahabat yang
beriman meninggal, dia diberitakan akan
tempatnya di surga. Maka, diapun ingat
terhadap sahabatnya yang masih hidup, dan
berdoa, “Ya Allah, bahwa si fulan itu adalah
sahabat hamba. Dia selalu mengingatkan
hamba untuk taat kepadaMu dan taat kepada
RosulMu. Dan memerintahkan hamba untuk
selalu berbuat baik dan menjauhi yang
mungkar. Dan juga mengingatkan hamba akan
kematian. Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan
dia dan perlihatkanlah kepadanya balasan
(surga) sebagaimana Engkau perlihatkan
kepada hamba. Dan ridhoilah dia sebagaimana
Engkau meridhoi hamba.” Maka dikatakan
kepadanya, “pergilah (ke surga) dan jika kamu
mengetahui apa balasan untuknya niscaya
kamu akan banyak tertawa dan sedikit
menangis.”

Dan tatkala yang satunya meninggal, ruh
mereka berdua dikumpulkan dan mereka
berdua diperintahkan untuk memuji satu sama
lain. Maka mereka saling mengatakan, “sebaik-
baiknya saudara, dan sebaik-baiknya teman.”

Salah satu sahabat yang kafir meninggal, dan
diberi kabar tentang tempatnya di neraka.
Maka diapun ingat terhadap sahabatnya. Maka
dia berdoa, “Ya Allah, si fulan adalah
sahabatku, dia selalu memerintahkanku untuk
bermaksiat kepadaMu dan RosulMu. Dan
memerintahkanku untuk mengerjakan hal-hal
yang buruk dan menjauhi hal-hal yang baik.
Dan mengatakan kepadaku bahwa aku tidak
akan bertemu denganMu. Ya Allah, janganlah
Engkau beri hidayah kepadanya sampai Engkau
melihatkan balasan atasnya seperti balasan
atasku. Dan bencilah dia sebagaimana engkau
membenciku.”

Ketika sahabat yang satunya meninggal,
dikumpulkanlah ruh mereka berdua dan
diperintahkan untuk saling mencela, maka
mereka saling mengatakan, “seburuk-buruknya
saudara, dan seburuk-buruknya teman.” Ibnu
Abbas berkata, “Setiap sahabat akan menjadi
musuh kelak di akhirat kecuali yang menjadikan
ketakwaan sebagai dasar dalam
persahabatan.”

Sudahkan sobat memiliki sahabat yang selalu
mengingatkan akan ketaatan kepada Allah dan
RosulNya ? Yang paling penting adalah,
sudahkah sobat menjadi seorang sahabat yang
selalu mengingatkan sahabat lain dalam
kebaikan?
Untuk itu mari kita menjalin persahabatan satu
sama lain dan saling mengingatkan hal yang
baik.

Maaf Dirumah Kami Tidak Ada 'Mahabarata'

SUNGGUH tak layak bagi keluarga muslim
untuk menyetiakan diri di depan layar televisi
sambil bersimpuh khusyu’ menonton
Mahabarata, Khrisna, Mahadewa, dan
sejenisnya yang merupakan parade kisah
sesembahan-sesembahan orang musyrik. Ini
adalah virus akidah yang tak layak berakar di
beranda rumah seorang muslim yang meyakini
hanya Allah sebagai satu-satunya sesembahan
yang berhak disembah dengan benar.
Sungguh kisah-kisah fiktif yang merupakan
rentetan kisah yang mereka dewakan bukanlah
nutrisi, madu atau susu yang harus disuplai di
hadapan anak-anak termasuk di hadapan
orang tua sendiri. Suapan-suapan kisah yang
ada justru akan menjadi virus yang akan
menghantam jantung akidah seorang muslim.
Rasanya begitu memilukan sekiranya keluarga
muslim menjadi hamba bagi kisah fiktif
Mahabarata. Mereka menyediakan dan
mengkhususkan waktu untuk mendengar,
menonton dan menikmati kisah dusta lagi
kufur.
Tak ada risih. Tak ada rasa malu terhadap
mushaf al-Quran yang ada di rak. Tak ada
malu terhadap al-Qur’an yang tersimpan dalam
dada. Tak ada risih terhadap maksiat yang
diperagakan oleh artis India itu. Begitu asyik
dan begitu menikmati.
Kesetiaan mereka untuk duduk di majelis
tontonan ini menandakan adanya ketertarikan
terhadap kisah yang ada. Dewa dan anak dewa
yang ditokohkan oleh lelaki dan wanita yang
mempertontonkan aurat telah mampu menarik
hati sebagian kaum muslimin.
Bagaimana mungkin keluarga muslim duduk
asyik mencerna potongan-potongan kisah
orang musyrik?
Dimanakan wibawa bulan-bulan haram yang
mestinya dimuliakan? Kenapa justru
membiarkan kisah Mahabarata menjadi suapan
dan tuntutan?
Sungguh, kesempurnaan tauhid tergapai apik
dengan meninggalkan sesembahan lain
termasuk kisah picisannya. Ketika Islam
mengharamkan parade ritual kesyirikan yang
dilakoni millah lain maka Islam mengharamkan
pula kaum muslimin untuk larut dalam kisah-
kisah mereka.
Allah berfirman:
ﻓﺎﺟﺘﻨﺒﻮﺍ ﺍﻟﺮﺟﺲ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﺛﺎﻥ ﻭﺍﺟﺘﻨﺒﻮﺍ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺰﻭﺭ
“. . .Maka jauhilah penyembahan berhala yang
najis itu dan jauhilah pula qaula az-zur.” (QS
al-Hajj: 30)
Para ulama menyebutkan bahwa makna “qaul
az-zur” adalah semua ungkapan-ungkapan
yang diharamkan termasuk pula ungkapan
dusta. Para ulama juga menjadikan tontonan
terhadap “qaul az-Zur” adalah hal yang haram.
Lihatlah Allah menggandengkan larangan
terhadap “qaul az-zur” dengan larangan
menjauhi sesembahan dan berhala. Anehnya,
justru sebagian kaum muslimin menjadikan
kisah Mahabarata dan sejenisnya yang lebih
dari “qaul az-zur” sebagai hiasan mata dan
telinga di depan layar kaca.
Rumah kita adalah rumah cahaya yang
dipenuhi dengan binar dan kemilau ilmu dan
amal. 
Rumah kita adalah bahtera untuk
menyelematkan penghuninya dari terpaan
ganasnya gelombang fitnah sehingga kelak
berlabuh syahdu di taman Surga dengan
kehendak Allah Rabb alam semesta.
Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang di
dalamnya terbaca ayat-ayat Allah agar
terpahami dengan baik titah-titah Rabb hingga
menjadi pedoman untuk mengukuhkan iman di
musim kemarau yang menggersangkan mata
air takwa.
Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang
ayat-ayatnya terlantukan oleh para
penghuninya agar qalbu tersirami dengan
Kalam Rabbina bak musim hujan yang
menyirami pohon-pohon hingga ia menyemikan
bunga-bunga iman.
Rumah kita adalah madrasah mini yang
didalamnya dibacakan hadits-hadits yang
merupakan konsep hidup sang nabi shllallahu
‘alaihi wasallam hingga para penghuninya
memahami dengan baik bahwa sang nabi
adalah teladan dalam segala lini kehidupan ini.
Tak ada teladan lain selain keteladan yang
pernah diperagakan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasalllam. Tak ada sosok lain yang
lebih mengagumkan dan layak dikagumi selian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam. Tak
ada kisah lebih heroik yang pernah terkisahkan
di muka bumi sepanjang masa dibandingkan
kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalllam.

Kamis, 23 Oktober 2014

Perempuan Pagi

Ku sebut dia perempuan pagi. Lahir lebih cepat dari matahari terbit. Hidup sebelum kokok ayam bersahutan. Sebelum adzan subuh berkumandang. Kau tahu? Dia adalah perempuan segala dunia dan isinya.

Dia mengangkat beban sebelum mata-mata manusia terbangun. Dia mengangkat doa setinggi-tingginya hingga bergetar singgasana Tuhan di langit sana.

Ku sebut dia perempuan pagi. Perempuan yang menyiapkan segala kehidupan sebelum matahari bersinar terang. Melalui tangan dinginnya lahir berbagai macam kasih sayang. Mulai dari makanan yang nikmat dan usapan yang lembut pada wajah. Melalui mata tajamnya lahir berbagai macam cerita. Seandainya mata bisa berbicara, maka seluruh pembicaraan itu adalah sebuah kejujuran tentang cinta yang tak terbantahkan.

Ku panggil dia perempuan pagi. Perempuan yang mungkin sangat lelah tapi dia (katanya) bahagia. Sekalipun waktu dan tenaganya terkuras oleh rasa cinta. Sebuah wujud rasa yang terungkapkan dalam bersihnya rumah, sedapnya sarapan, lembutnya sentuhan. Sebuah cinta yang terungkap dalam doa-doa sunyi. Tidak kami tahu tahu tapi bisa dirasakan betapa dahsyat doanya turut memudahkan langkah ini.

Ku namai dia perempuan pagi. Perempuan yang setiap hari kupanggil ‘Ummi’.

-Kurniawan Gunadi-

Amal Rahasia Pengantar Khusnul Khotimah

Seorang lelaki di Saudi memiliki tetangga yang tak pernah sholat dan berpuasa. Suatu hari, dia bermimpi kedatangan lelaki. Dalam mimpinya itu, lelaki tadi memintanya agar mengajak tetangganya yang tak pernah shalat untuk umrah.

Ia dikejutkan oleh mimpinya namun ia tak hiraukan. Anehnya mimpi yang sama terulang. Akhirnya ia mendatangi seorang syaikh untuk bertanya tentang mimpi tsb. Syaikh berujar bhw jika mimpi terulang lagi, ia mesti merealisasikan mimpinya itu.

Dan benar saja, ia bermimpi lagi. Lantas ia mengunjungi tetangganya untuk menawarkannya umrah bersama.

"Ayo umrah bersama kami."

"Bagaimana aku akan umrah sementara aku tak pernah sholat."

"Tenang saja. Aku akan mengajarkanmu sholat."

Ia pun mengajarkannya kemudian lelaki itu mengerjakan sholat.

"Baik, aku sudah siap. Mari berangkat. Tapi, bagaimana aku umrah sementara aku tak tahu caranya."

"Nanti di mobil kuajari."

Keduanya dgn senang hati berangkat untuk umrah dengan menggunakan mobil. Setelah tiba, mereka melakukan tuntunan yang disyariatkan.

Selesailah prosesi. Keduanya akan kembali pulang.

"Sebelum balik, adakah engkau ingin melakukan sebuah amal yang engkau anggap penting?" Tanyanya kepada tetangganya.

"Iya. Aku ingin shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim."

Sang tetangga pun sholat dan terjadilah hal yang menakjubkan. Ia meninggal dalam keadaan bersujud.

Lelaki yang membawanya kaget dan tersentak. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya dan diajak umrah meninggal seolah-olah dia adalah wasilah kematiannya.

Akhirnya, jenazah dibawa pulang ke rumah istrinya. Ia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin lelaki yang tak pernah shalat dan puasa meninggal saat umrah dalam keadaan sujud husnul khatimah? Ia berpikir pastilah ada amal spesial dan rahasia yang dilakukannya.

Kepada istri lelaki tadi, ia bertanya ttg ini.

"Kami memiliki tetangga seorang wanita tua renta. Suamiku begitu menyayanginya. Suamiku selalu membuat sendiri sarapan, makan siang dan makan malam lalu mengantarkannya kpd wanita tua itu. Wanita itu kerapkali mendoakan husnul khatimah untuk suamiku." Ujar sang istri

--------
Kisah di atas kami terjemahkan dari akun seorang ikhwah (Mesir).

Kami teringat nasehat syaikh Rajihi di kelas:

"Usahakan ya ikhwan," kata syaikh, "kalian mesti memiliki amal rahasia yang hanya Alloh dan engkau saja yang tahu. Ini akan membantu kalian mengarungi dunia dan negeri akherat."

Pemuda dalam kisah di atas memiliki amal rahasia yaitu memberi makan wanita tua yang merupakan tetangganya. Ia pun berteman dgn orang shalih yang merupakan wasilah menuju husnul khatimahnya.

"Sungguh," tutur syaikh Sami di hadapan kami, "banyaklah berteman dengan orang-orang sholeh, penghafal alquran, dan lainnya." (012)

Dahsyatnya Dosa Jariyah

Tahukah kita bahwa diantara ragam dosa dan kemaksiatan,ada dosa yang senantiasa mengalir kepada pelakunya walaupun ia dalam tidur atau bahkan walopun ia sudah meninggal,tapi catatan keburukan dosa dan kemaksiatan masih mengalir ke padanya,- waliyadhu billahi

Ia mengalir layaknya air sungi yang terus mengalir hingga bermuara ke lautan,tak pernah mengering dan tak pernah berhenti,shingga pelakunya terus mendapatkan siksa atas aliran dosa tersebut

Inilah dosa yang begitu dahsyat siksanya,siksa pedih yang Alloh timpakan kepadanya berlipat ganda setimpal dengan dosa besar itu

Inilah dosa jariyah (terus mengalir) yang harusnya setiap hamba Alloh mengetahuinya, bukan untuk mencontohkanya tapi mengetahuinya untuk menghindari musibah dosa itu,maka sebagaimana terdapat pahala jariyah dari anak-anak sholeh,ilmu yang bermanfaat dan shadaqoh jariyah,muncul pula dosa jariyah

Apa sajakah dosa-dosa jariyah itu

1. orang yang mempelopori perbuatan maksiat.

Mempelopori dalam arti dia melakukan perbuatan maksiat itu di hadapan orang lain, sehingga banyak orang yang mengikutinya. Meskipun dia sendiri tidak mengajak orang lain untuk mengikutinya. Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Pemikul dosa jariyah ini tak menyuruh orang untuk mencontohnya,tapi dengan ia terang-terangan melakukan kemaksiatan itu diantara keramaian manusia sudah mmbuka pintu dosa itu mengenai dirinya

Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا

“Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan yang lainnya).

Maka termasuk siapapun manusia yang dalam catatan kehidupanya ia memperlihatkan dari contoh-contoh dosa kepada masyarakat sekelilingnya atau kepada karib kerabatnya maka ia akan ditimpa dengan dosa dari orang-orang yang akan mencontoh perbuatan itu.

Sebagai contoh kasus,insan-insan tv media yang memperlihatkan program-program kemaksiatan,lalu kemaksiatan itu ditiru oleh setiap mata yang memandang dan dicontoh oleh mereka,maka aliran dosanya akan mengalir kepada insan yang mempertotonkan kemaksiatan tersebut

Iklan-iklan tv,sinetron yang mengumbar aurat,adegan pacaran yang dilarang serta seremonila mewah yang sarat dosa, maka aliran dosanya tidak terhenti yang mencontoh kemaksiatan itu tapi juga mengalir kepada yang memproduksi acara kemaksiatan itu,waliyadhu billahi

2 Yang mengajarkan ajaran-ajaran sesat dari kesyirikan,kekufuran dan bidah

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim)

Dari untaian hadits diatas kita mengetahui secara jelas bahwa siapapun manusia yang menyeru kepada setiap kesyirikan,kekufuran dan deretan perilaku bidah maka penyeru atas semua itu mendapatkan limpahan dosa dari yang mengikuti itu semua

Maka semakin menyebar pemikiran sesat itu diantara manusia,maka semakin membanjiri dosa kepada penyerunya,dan semakin hal yang menyimpang menyeruak dianatara manusia akan menyeruak pula pundi-pundi pencetus penyimpangan tersebut,-nasaulullah assalamah wal afiyah

Sungguh tidak ada beban yang paling menyiksa di akherat kecuali adalah beban dosa ketika manusia kelak dihisab oleh Alloh,maka sangat tragis seorang manusia yang tak hanya membawa dosa ia sendiri tapi juga memikul dosa dari orang lain disebabkan dosa jariyah yang ia cetuskan

Semoga Alloh melindungi kita dari segala dosa-dosa jariyah dan menggantinya dengan pahala jariyah

Barokallah fikum
La tansana min duaikum
Jangan lupakan kami dalam doa kebaikanya

-Oemar mita-

Potret Wanita Pada Zaman Rasulullah SAW

Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah saw. tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan, meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada Rasulullah saw.

Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw. memuji Aisyah.

Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah saw. Di sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan hubungannya dengan sumianya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara. “Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.”

Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan bertanya,”Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?”

Dia menjawab,”Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah.”

Ali menimpali,”Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?”

Dia menjawab,”Ayahku, Rasulullah saw., menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.”

Luar biasa bukan?

Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?”

Aku menjawab,”Ya.”

Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.”

Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.”
Maka, Rasulullah saw. mendoakannya.

Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw. Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain. Astaghfirullah.

Beda Usia 60 Tahun, Kisah Cinta Ini Dikenang Sejarah


Bismillahirrahmanirrahim

Lelaki itu duduk bersama gadis yang baru dinikahinya. Ketika dibuka tutup kepalanya, terlihatlah banyak uban yang berlomba menampakkan dirinya. Sang istri, menyeksamai kejadian itu, sepenuh syahdu.

Suami yang beruban banyak itu berkata, “Apakah kamu kaget menyaksikan jumlah ubanku?” Yang ditanya, istri barunya itu, tersipu malu, hanya senyum simpul yang ditampakkannya. Lanjut suaminya, “Tapi yakinlah, hanya ada kebaikan dalam uban-ubanku ini.”

Selanjutnya, keduanya memadu kasih dalam balutan ketaatan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang mereka cintai, sepenuh syahdu, selaksa rindu dan setumpuk sayang karena iman.

Lantas, dalam sebuah kesempatan berdua, sang lelaki layaknya tak puas dengan jawaban istrinya tempo hari. Bukan, bukan karena ia meragukan cinta istrinya. Ia hanya khawatir jika cintanya kepada istrinya itu telah merenggut masa remaja yang baru dilaluinya itu.

Pasalnya, sang suami umurnya sudah kepala delapan. Sedang sang istri yang cantik, jelita nan rupawan berbalut shalihah dan cerdas itu, baru berkepala dua. Bahkan, dari jalur riwayat lain, usia istrinya itu baru memasuki angka delapan belas tahun. Ada jeda 60 tahun antara cinta kedua pasangan melegenda ini.

Sang suami, bertanya malu-malu, “Apakah kamu merasa merugi menjadi istriku, Sayang?” Begitu kurang lebih tafsir dari tanyanya. Sang istri, tak kalah syahdunya menukasi, “Memangnya apa alasan yang harus membuatku merasa demikian, Kasih?” Aduhai, romantisnya.

Suami yang telah terjamin surga baginya itu, menjawab, agak pelan. Katanya, “Apakah kau tidak merasa merugi karena menikah dengan lelaki setuaku ini?” Yang dimaksud sang suami, adalah kesadaran terdalam. Bahwa istrinya juga punya hak untuk mendapat lelaki yang usianya sebaya dengan tingkat keshalihan juga, tentunya.

Lalu, apa jawaban sang istri? Mari seksamai tafsir dari jawabannya, “Aku lebih suka menghabiskan hidup bersama orang yang telah menghabiskan waktu mudanya bersama Rasulullah yang mulia.”

Rupa-rupanya, yang meluncur justru pujian dari sang istri. Apalah artinya usia muda jika habis untuk maksiat dan kesia-siaan? Maka tua adalah lebih penting dan membanggakan jika dimanfaatkan, ketika mudanya, untuk taat. Apalagi, ketaatan terbaik bersama Rasulullah yang terkasih.

Maka cinta mereka bertumbuhkembang dalam kebaikan tanpa batas. Hingga sang istri menjadi tameng ketika suaminya dibunuh rame-rame oleh pemberontak. Bahkan, dua diantara sepuluh jari tangannya menjadi saksi karena ikut terluka dan terpotong oleh para pemberontak.

Kemudian, ketika ia telah menjanda, ditanyakanlah kepadanya, “Apakah kau berkehendak menikah lagi?” Mungkin, karena usianya masih muda. Berpikir, ia masih membutuhkan pemenuhan kebutuhan biologis yang memang tak bisa diwakilkan dan harus terpenuhi dengan baik.

Tetapi, sebab cintanya kepada suami pertamanya yang syahid oleh pemberontak itu, istri yang masih muda menawan rupawan nan shalihah itu menjawab, “Aku tidak ingin ada orang lain yang lebih mengetahui fisik dan psikisku, selain ‘Utsman bin ‘Affan.”

Ialah kisah abadi yang tak lekang oleh batas waktu dan tempat. Wanita beruntung yang menjadi istri terakhir Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan adalah Nailah. Maknanya, wanita yang beruntung. Dia beruntung sebab mampu memaknai cinta sejati. Kepada suami yang menghabiskan hidupnya bersama Rasulullah SAW, cinta kepada Rasulullah Saw yang telah membawa Islam kepadanya dan kepada Allah SWT yang telah menunjukinya kepada hidayah. Sebab sebelumnya, ayah dari wanita itu beragama Nasrani.[pirman]

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.