Secara global bahwa manusia diberi amanah untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, menjadi khalifah
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan”
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa
selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya
itu, sedang mereka mengetahui.
Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana
mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain,
seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang
mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil. (QS.Ali Imran 3 : 133-135)
Dari ayat ini kita dapat menemukan empat kebaikan yang merupakan
amanah yang Allah tetapkan kepada kita, dan memang ada beberapa macam
yang terasa berat dan susah untuk ditunaikan. Empat Amanat yang Berat
ditunaikan kebanyakan manusia tersebut adalah :
1. Memberi Maaf ketika Marah
Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang.
Seringkali kita merasakan sesaknya dada, panasnya pikiran dan
tergesanya indera-indera lainnya dalam memutuskan sesuatu ketika sedang
marah. Marah dalam hal baikpun perlu control management, karena seperti
yang telah disampaikan dalam kajian bahwa marah adalah jalan favorit
syetan untuk gencar membisiki manusia.Ketika kondisi seperti itu terjadi
maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan.
Ketika emosi marah terjadi, kadang kita malah gelap mata ingin membalas
perlakuan kedholiman kepada diri ini dengan sesuatu yang lebih dholim.
Dipukul sekali rasanya ingin membalas dengan pukulan berkali-kali
dengan dalih agar jera. Berkata buruk dan kasar karena merasa didholimi,
dan terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk yang kita
terima. Itulah sebabnya memberikan maaf ketika marah sepertinya sulit
diwujudkan. Padahal Allah SWT telah mengkabarkan jika kita mampu
memberikan maaf maka itu lebih baik, dan itulah ciri-ciri hati manusia
taqwa.
Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan
ini berlalu dengan waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat,
Rasulullah SAW dalam sirah selalu mencontohkan untuk memberikan maaf
dengan atau tanpa permintaan dari sang pelaku.Dan
dalam ilmu psikologi, memberikan maaf akan memberikan rasa tentram di
hati dan memberikan kesejukan dalam bermuamalah dan menyuburkan
silaturrahim. Bukankah kebanyakan manusia tidak ada yang bersih dari
dosa?? Jadi seseorang yang bersalah kepada kita adalah sangat wajar. Dan
kita juga sebaliknya bisa melakukan hal yang sama.
2. Berderma ketika Miskin
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, kenapa hal ini berat dilakukan? Karena banyak sekali
diantara kita menganggap status miskin adalah status yang aman untuk
berkata TIDAK dalam bersedekah. Untuk makanpun susah, apalagi harus
berbagi dengan orang lain.
Ketika kita dan keluarga ini miskin seolah-seolah semua yang tersisa
adalah barang berharga. Jadi imposible untuk memberikannya kepada orang
lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu
memposisikan, saya adalah objek kedermawanan bukan sebagai subjek. Maka
betul sekali! Bahwa ketika miskin atau susah, itulah kondisi paling
sulit dalam menyambut himbauan infaq sedekah. Tetapi bagi sebagain orang
yang nilai keimanannya kebih mantap, kemiskinan bukan menjadi masalah.
Semua harta adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah
bagi Allah SWT memberikan rizki kepada hambanya bahkan dengan
tiba-tibapun.
Tidak ada istilah merasa bahwa “saya ini adalah termiskin didunia“.
Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih susah dari kita.
Nikmat Iman dan kesehatan adalah sesuatu yang tidak ternilai apalagi
untuk diuangkan. Allah Maha Kaya, tidak Tidur dan selalu memperhatikan
hamba-Nya yang secara maksimal mendermakan hartanya di jalan Allah SWT.
Berbahagialah jika kita masuk kategori tersebut, hidup terasa
benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh SAW
bukanlah seseorang yang kaya? Dan bagi yang kaya, kebakhilan dan
kesombongan mengancam dirimu dan tidak ada jalan lain selain menjadi
dermawan ketika kaya. Karena itulah jalan yang lurus menuju syurga.
3.Meninggalkan yang Haram dan Dholim ketika sendirian
Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu
engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau
tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu Melihatmu”.
Orang itu berkata, “Engkau benar”…( [HR. Muslim juz 1, hal. 40]
Hal ketiga yang susah dilakukan adalah meninggalkan kedholiman ketika
sendirian. Bukankah kita setiap tahun selama sebulan (ramadhan) kita
ditempa untuk jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan
itu hanya diketahui oleh kita sendiri dan Allah SWT. Meninggalkan
kedholiman atau kemaksiatan secara bersama-sama di lingkungan sholeh
adalah mudah, selain malu kepada Allah SWT kita juga akan merasa malu
dan hina diketahui oleh orang lain.
Tetapi ketika sendirian, syetan lebih hebat lagi beraksi. Menjadikan
akal sehat kita lupa, sesuatu yang haram ‘dibungkus’ seolah menjadi
halal, yang jelas-jelas maksiyat bisa dilakukan dengan ringan dengan
dalih tidak ada yang melihat, tidak ada yang dirugikan, darurat dan
sebagainya.Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Tahu,
Tidak Tidur dan semua yang bergerak didunia ini tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar daun di tengah hutan.
Jikalau kita berdua, Allah SWT Hadir sebagai yang ketiga. Ketika kita
sendiri, Allah menjadi yang kedua. Maka betul sekali bahwa tingkatan
ihsan adalah tertinggi, dimana kita selalu merasa dilihat oleh Allah SWT
sehingga apa yang dilakukan dan apa yang disembunyikan didalam hati
selalu jauh dari keinginan menyimpang dari jalan lurus, jalan menuju
ridho Allah SWT.
4.Berkata jujur kepada siapapun
Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
“Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa
kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus
seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi
Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena
sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu
membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih
yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Muslim
juz 4, hal. 2013]
Lawannya jujur adalah dusta, pembohong. Berkata benar dan jujur
kepada teman-teman sefaham di barisan kita mungkin hal yang sangat
mudah. Tetapi berkata benar dan jujur kepada seseorang yang tidak
disukai atau kepada lawan adalah hal yang sulit. Kita harus berani
mengatakan bahwa itu salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan
seseorang yang kita cintai atau seseorang yang kita hormati.
Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti itu”…”saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman, harus berani berkata benar kepada siapapun dan dengan resiko apapun. Kejujuran yang menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang menipu dan menyenangkan.
Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti itu”…”saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani. Maka sebagai manusia beriman, harus berani berkata benar kepada siapapun dan dengan resiko apapun. Kejujuran yang menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang menipu dan menyenangkan.
Di jaman Nabi, ada seorang yang bertobat dan ingin menata dirinya. Tips nabi sederhana saja: “Jangan Bohong!” Orang ini senang karena Nabi tak melarang hal-hal yang lain. “Kalau cuma jangan bohong sih mudah,” pikirnya. Maka ia pun melakukan apa yang biasa dilakukannya.
Ia mau mencuri, tapi berpikir, “Bagaimana kalau tetanggaku menanyakan
asal-usul hartaku ini?” Iapun membatalkan niatnya. Ia ingin
berselingkuh, tapi berpikir, “Bagaimana kalau nanti keluargaku
menanyakan kemana aku pergi?” Lagi-lagi ia mengurungkan niatnya.
Begitulah seterusnya. Setiap ingin melakukan maksiat ia kontan
membatalkannya.
Jadi kejujuran akan membawa perubahan mendasar pada diri seseorang.
Tapi tanpa keberanian, kejujuran takkan membawa perubahan bagi orang
banyak. Kejujuran hanya menghasilkan pengikut (follower) bukan pemimpin.
Untuk bisa merubah masyarakat dibutuhkan keberanian.
Wallohu Ta’ala A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar